Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Blogger Template From:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Showing posts with label Iman. Show all posts
Showing posts with label Iman. Show all posts

Tuesday, August 16, 2011

Festival Infaq Ramadhan


FESTIVAL “INFAQ”
‘Program INFAQ sempena Ramadhan supaya kita semua mendapat ganjaran berlipat kali ganda’


.:Sempena Ramadan:.
Bagaimana boleh berinfaq?


Salurkan infaq anda ke


PAKSI TRAINING


Akaun Maybank
562405701409


Terbuka kepada semua yang meminati keuntungan akhirat!


“Perumpamaan orang yang menginfaqkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah :261)


Barangsiapa yang melaksanakan amalan sunnah pada bulan Ramadhan, maka pahalanya sama dengan pahala melaksanakan ibadah wajib pada bulan selain Ramadhan. Dan barangsiapa yang melakukan ibadah wajib pada bulan Ramadhan, maka pahalanya sama dengan pahala melaksanakan tujuh puluh ibadah wajib pada bulan selain Ramadhan. (H.R. Al-Baihaqi)



source: www.paksi.net

Wednesday, August 10, 2011

Ramadhan 2011 Around the World...

Anak-anak berbuka puasa di Masjid King Fahad pada hari pertama bulan puasa Ramadhan di Culver City, Los Angeles, California 1 Agustus 2011. (Reuters)

Seorang pemberontak Libya membaca Al-Quran sebelum berbuka puasa di garis depan dekat kota Libya Zlitan, 160 km (100 mil) timur Tripoli, 1 Agustus 2011. (Reuters)

Para wanita mempersiapkan makanan untuk dijual di hari pertama bulan suci Ramadhan di distrik Utako ibukota Nigeria Abuja, 1 Agustus 2011. (Reuters)

Acara buka puasa massal di kota Istanbul, Turki (AA)

Seorang Muslim Nepal membaca Al-Quran pada hari kedua puasa di bulan suci Ramadhan di kota Kathmandu, 2 Agustus 2011. (Reuters)

Seorang pria membaca Al-Quran pada hari pertama Ramadhan saat berlindung dari hujan di trotoar kota Lahore, 2 Agustus 2011. (Reuters)

Muslim Kashmir melakukan pembersihan di sebuah masjid di Srinagar, ibukota musim panas Kashmir India, 1 Agustus 2011. (EPA)

Sebuah gambar yang menunjukkan Saleh Tayseer, salah satu pemimpin dari masjid Dar Al Salam menyambut jamaah yang berkumpul di dalam masjid untuk tarawih bersama pada malam bulan suci puasa Ramadhan di Budapest, Hungaria, 31 Juli 2011. (EPA)

Tembakan meriam polisi UEA, sebagai sinyal berbuka puasa di Dubai, Uni Emirat Arab, pada 1 Agustus 2011. (EPA)

Demonstran Yaman anti pemerintah berdoa sebelum berbuka puasa pada hari pertama bulan puasa Ramadhan, di kota Sanaa, Yaman, 1 Agustus 2011.

Source: www.eramuslim.com

Wednesday, January 26, 2011

Doa Adalah Inti Ibadah

www.eramuslim.com

Allah swt berfirman :


وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (Tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al A'raf : 56)


Allah swt memerintahkan hamba-Nya agar mendekat untuk berdoa kepada-Nya dengan dua dorongan, takut akan adzab dan musibah, berharap hidup damai dan berkelimpahan nikmat, perintah ini berkali-kali Allah nyatakan dalam beberapa firman-Nya :


ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لا يُحِبُّ

الْمُعْتَدِينَ

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al A'raf : 55)


Allah swt menggambarkan sifat orang-orang shalih :


كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada kami dengan harap dan cemas. dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada kami.” (QS. Al Anbiya : 90)


Karena itulah para ulama satu kata dalam menyatakan doa sebagai inti dari pada ibadah, doa adalah karakter utama bagi seorang muslim yang memperlihatkan ketundukan total kepaa Allah swt.


Hikmah doa tidak sesempit persepsi sebagian dari kita, yang hanya dibatasi sebagai sarana untuk memperoleh segala keinginan dan menjauhkan segala kekhawatiran dari diri kita, mereka memahami doa hanya sebagai sarana semata, padahal doa adalah sebuah pernyataan manusia akan kehambaan yang disandangnya, akan ketundukan total kepada Allah, apakah doa itu terkabul atau tidak, karena kita tahu tidak ada tempat untuk mengadu kecuali kepada-Nya dalam kondisi apapun kita, tidak ada tempat bernaung dan lari dari keburukan kecuali kepada-Nya yang penuh kasih, tidak ada Tuhan selain-Nya yang menggantikan posisi ataupun menjadi perantara kepada-Nya, Dia adalah Esa dalam kuasa untuk bahagia dan sengsaranya kita.

Jadi tidak ada jalan bagi kita kecuali menghiba kepada-Nya dengan penuh kehambaan dan kehinaan, apapun kondisi yang kita alami.


Inilah hakikat ibadah kita kepada Allah swt, inilah tujuan inti manusia diciptakan, untuk memproklamasikan diri dengan bahasa lisan dan aktifitas raga maupun hatinya, bahwa dirinya adalah hamba Allah, milik Sang Pencipta yang Maha Agung.

Inilah indahnya aturan Allah swt, Dia mendidik hamba-Nya untuk menjiwai karakter ini dengan dua motivasi utama, pertama, berharap akan rahmat dan nikmat-Nya, kedua, khawatir akan siksa dan keburukannya, kita akan mendapati dua sifat ini sebagai bukti akan keadilan Allah, antara satu sifat dengan yang lain saling menyeimbangkan, sehingga sisi harap kita akan rahmat Allah tidak terlalu tinggi sehingga bisa jadi diri kita menggantungkan harapan pada hal yang bukan hak kita, dan sebaliknya sisi kekhawatiran kita akan siksa dan keburukannya tidak menghantui diri kita lalu kita menjadi putus asa dan patah arang.


Jalan terbaik bagi kita adalah istiqamah dalam ibadah kita kepada Allah swt, dengan menggabungkan dua sisi harap dan takut, laksana dua sayap burung yang selalu seimbang dan seirama. Karena itu kita tidak mendapatkan ayat rahmat kecuali setelahnya ada ayat adzab, tidaklah Allah swt mensifati diri-Nya dengan sifat maha memberi dan pengasih kecuali setelah itu mensifati diri-Nya dengan sifat kebalikannya.


Lihatlah firman Allah swt :


نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (49) وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ (50)


“Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa Sesungguhnya Aku-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan bahwa Sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” (QS. Al Hijr : 49-50)



قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (53) وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ

الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ


“Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu Kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az Zumar : 53-54)


Kebersamaan dua sifat ini dalam ayat-ayat Al Quran adalah sebuah cerminan tarbiyah yang ideal dan seimbang.

Bahkan ketika Allah swt mendeskripsikan ahli surga, maka Allah akan ungkapkan secara gamblang sifat dan karakter utama merek, lihat firman-Nya :


كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ (17) وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ (18) وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ (19)


“Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar. Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (QS. Adz dzariyat : 17-19)


Kalau kita memabaca ayat di atas, maka kita akan mengatakan kepada diri kita, adakah sifat itu dalam diri kita. Dan ketika mendeskripsikan ahli neraka, maka Allah akan ungkapkan dengan jelas sifat dan karakter busuk mereka, Allah swt berfirman :


قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ (43) وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ (44) وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ (45) وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ (46)


“Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat. Dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin. Dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya. Dan adalah kami mendustakan hari pembalasan.” (QS. Al Mudatstsir : 43-46)


Kalau kita merenungkan ayat di atas, maka kita akan mengaca diri kita, ternyata diri kita tidak lebih buruk dari mereka. Kita melihat dengan jernih, diantara dua kondisi tersebut, maka yang kita lakukan adalah berharap dan cemas, kemudian lahirlah sikap kehambaan kita, lalu mendorong kita untuk membuka dua tangan kita, mengharap kepadanya dengan penuh hiba dalam doa yang khusyu.


Tuesday, August 24, 2010

The Poem of Love


Ya Muqollibal Qulub,
Tsabbit Qulubuna ‘ala diinik…
Ya Muqollibal Qulub,
Tsabbit Qulubuna ‘ala da’watik…

Bahkan salah seorang ikhwan mengatakan,
Love is the essence of life,
Cinta Allah membuat bumi ada,
Cinta Allah membuat sang suria bersinar,
Cinta antara manusia membuat hidup tenteram dan nyaman,
Ketika kita mencintai, tidak ada pamrih di sana (keletihan),
Yang ada hanya memberi tanpa mengharap menerima,
Mirip seperti itulah hakikat menjadi dai’e,
Dia harus siap mengorbankan hidup dan matinya demi dakwah,
Dia selalu memberi untuk Islam, tanpa mengharap menerima…

Itulah ikhlas,
Siap menjadi jundi dan pada masa yang sama siap menjadi qiyadah,
Siap mengeluarkan wang untuk dakwah,
Siap mengeluarkan tenaga untuk dakwah,
Hubungan sesama ikhwah dan akhawat aktivis dakwah adalah seperti saudara,
Cukup sampai di sana,
Kalaupun terjadi gangguan hati yang merupakan sunnatulloh akibat adanya interaksi,
Tidak akan melebihi taraf SIMPATI (SIMPAn dalam haTI) antara kader,
Kecuali Allah memberikan kesempatan padanya untuk menyelesaikan separuh agamanya,
Jika Allah menentukan jodoh untuk kita, bahkan sebelum kita lahir,
Mengapa takut menjadi perawan tua atau jejaka tua?

Masih panjang langkah dakwah kita,
Masih begitu banyak lahan dakwah yang belum kita jamah,
Ada satu hal yang akan datang dengn sendirinya pada anda,
Iaitu jodoh,
Sehingga jangan sampai hal ini membuat kita ragu akan janji Allah,
Jangan sampai dakwah kita berpenyakit hanya kerana masalah ini,
Sangat cengeng (mengada-ada) dan keanak-anakan,
Bila sampai ada aktivis dakwah yang terjangkiti hal ini
(Virus Merah Jambu…)

Dakwah adalah sesuatu yang suci,
Qod aflaha manzakkaaha (Beruntunglah orang yang membersihkan diri),
Wa qod khooba dassaaha (dan celakalah orang yang mengotori dirinya),
Sehingga orang yang berhak dan akan bertahan dalam jalan dakwah ini,
Adalah orang yang niat ikhlas membersihkan dirinya,
Dia ikut tarbiyah dengan keikhlasan,
Bukan kerana ingin menikah dengan akhawat berjilbab,
Atau ikhwah berkopiah,
Dia beraksi untuk menegakkan keadilan dengan menyuarakan yang haq,
Bukan ingin publisiti,
Dia berdakwah ingin menuju Jannah-Nya,
Bukan ingin mendapatkan jabatan, peminat atau lainnya…

Ingat wahai ikhwan wa akhawat fillah,
Untuk ikhwan,
Bila anda istiqomah di jalan dakwah ini,
Bidadari telah menanti anda di syurga nanti,
Untuk akhawat,
Bila anda istiqomah di jalan ini,
Anda lebih baik dari bidadari terbaik yang ada di syurga,
Kebenaran hakiki hanya milik Allah,
Di yaumul Qiyaamah kelak akan ditentukan,
Kebenaran akan hal-hal yang kita perdebatkan…


p/s: This poem was not created by me, just copy n paste instead...

Monday, April 12, 2010

Rintihanku


Munsyidah: Mawaddah

Ya Allah, Ya Rabbi dengarlah tangisan hatiku
Hambamu yang hina ini
Terimalah taubatku hambaMu yang banyak bersalah ini
Ampunkan dosa-dosaku

Engkaulah yang Maha Pengasih
Engkaulah yang Maha Penyayang
Engkaulah yang Maha Pengampun
Engkaulah penerima taubat

Rintihanku dengarlah deritaku kerna dosaku
Pengaduanku terimalah, janganlah kecewakanku , permintaanku
Deritaku dengan dosa dan noda
Di atas perbuatanku yang telah terlanjur
Aku memohon dengan rahmatMu Tuhan
Ampunkan dosa-dosaku

Aku mengadu padaMu Tuhan
Engkau adalah tempat mengadu
Tiada siapa dapat mengampunkan
Kecuali Engkau wahai Tuhan

Aku telah menyesal
Di atas perbuatanku
Terimalah taubatku pimpinlah aku
Ku telah derita aku telah tersiksa
Jadikan ketakutanku mensyafaatkanku (di akhirat nanti)

(ulang rangkap 4)
(ulang rangkap 2)

Tuesday, December 01, 2009

Nota dari Hati


"Hiduplah Untuk Memberi Sebanyak-banyaknya, bukan Menerima sebanyak-banyaknya"

quote Laskar Pelangi


Monday, March 02, 2009

Bab 16 Riyadus Solihin Jilid 1

Perintah Memelihara Sunnah Dan Adab-adabnya

Allah Ta'ala berfirman:

"Apa saja yang diberikan oleh Rasul kepadamu semua, maka ambillah itu - yakni lakukanlah -dan apa saja yang dilarang olehnya, maka hentikanlah itu." (al-Hasyr: 7)

Allah Ta'ala berfirman lagi:
"Ia - yakni Muhammad - itu tidaklah berkata-kata dengan kemauannya sendiri. Itu tiada lain kecuali wahyu yang diwahyukan kepadanya." (an-Najm: 3-4)

Juga Allah Ta'ala berfirman pula:
"Katakanlah-hai Muhammad, jikalau engkau semua mencintai Allah, maka ikutilah aku, maka Allah tentu mencintai engkau semua dan akan mengampuni dosa-dosamu." (ali-lmran: 31)

Allah Ta'ala berfirman pula:
"Dan niscayalah di dalam peribadi Rasulullah itu merupakan ikutan - teladan - yang baik bagimu semua, juga bagi orang yang mengharapkan menemui Allah dan hari akhir." (al-Ahzab: 21)

Allah Ta'ala berfirman lagi
"Tetapi tidak, demi Tuhanmu. Mereka belum beriman benar-benar sebeium mereka meminta keputusan kepadamu dalam perkara-perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak menaruh keberatan dalam hatinya terhadap putusan yang engkau berikan itu dan mereka menyerah dengan penyerahan yang bulat-bulat." (an-Nisa': 65)

Juga Allah Ta'ala berfirman:
"Jikalau engkau semua memperselisihkan dalam sesuatu persoalan, maka kembalikanlah itu kepada Allah dan RasulNya, apabila engkau semua benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir." (an-Nisa': 59)

Para alim-ulama berkata: "Maksudnya itu ialah supaya dikembalikan sesuai dengan al-Kitab - al-Quran - dan as-Sunnah - al-Hadis."

Allah Ta'ala berfirman pula:
"Barangsiapa mentaati Rasul ia telah benar-benar mentaati Allah." (an-Nisa')

Lagi Allah Ta'ala berfirman:
"Dan sesungguhnya engkau itu niscayalah memberikan petunjuk kejalan yang lurus yaitu jalan Allah.'' (asy-Syura: 52-53)

Allah Ta'ala berfirman:
"Hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul itu menjadi takut, supaya jangan sampai tertimpa oleh kefitnahan atau tertimpa oleh siksa yang pedih." (an-Nur: 63)

Juga Allah Ta'ala berfirman:
"Dan ingat-ingatlah olehmu semua - kaum wanita - apa-apa yang dibaca dalam rumahrumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmat - ilmu pengetahuan." (al-Ahzab: 34)

Ayat-ayat dalam bab ini amat banyaknya.
Adapun Hadis-hadisnya ialah:

Pertama: Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w. bersabda: "Tinggalkanlah apa yang saya tinggalkan untukmu semua -maksudnya: Jangan ditanyakan apa yang tidak saya terangkan kepadamu semua, karena hanyasanya yang menyebabkan kerusakan orang-orang - ummat -yang sebelumnya itu ialah sebab banyaknya mereka bertanya-tanya - yang tidak berfaedah - lagi pula mereka suka menyalahi kepada Nabi-nabi mereka. Oleh sebab itu jikalau saya melarang padamu akan sesuatu hal, maka jauhilah itu dan jikalau saya memerintah padamusemua akan sesuatu perkara, maka lakukanlah itu sekuat usahamu."
(Muttafaq 'alaih)

Keterangan:

Isi yang terkandung dalam Hadis ini ialah:
Sesuatu yang merupakan larangan, maka samasekali jangan dilakukan, tetapi kalau berupa perintah, cobalah lakukan sedapat-dapatnya dan jangan putusasa untuk memperbaiki dan menyempurnakannya. Misalnya shalat di waktu sakit: Tidak dapat dengan berdiri, lakukan dengan duduk; tidak dapat dengan duduk, boleh dengan berbaring dan pendek kata sedapat mungkin, asal jangan ditinggalkan sekalipun hanya dengan isyarat memejamkan serta membuka mata dalam melakukan shalat itu.

Allah telah berfirman:
"Allah tidak memaksa pada seseorang melainkan menurut kekuatannya." Ummatnya Nabi Musa 'alaihissalam yang meminta pada beliau sebagaimana kata mereka yang diuraikan dalam al-Quran:
"Tampakkanlah pada kita Allah hu dengan terang-terangan."
Bukankah ini permintaan yang melampaui batas dan tidak bermanfaat sedikitpun?
Juga seperti ummatnya Nabi Isa 'alaihissalam sebagaimana yang diterangkan dalam
al-Quran pula.

Mereka berkata:
"Adakah Tuhan Tuan dapat menurunkan pada kita hidangan dari langit?" Mereka menyangka bahwa Allah tidak kuasa melakukannya. Tetapt setelah dikabulkan permintaan mereka, tetap masih banyak yang ingkar dan kufur. Bukankah ini keterlaluan yang luarbiasa?Menyalahi Nabi-nabinya sendiri sehingga menyebabkan timbul bid'ah yang bermacam-macam dan lain-lain lagi.

Adapun kalau berselisih dalam memahamkan hukum cabang (furu'iyah), maka itu tidaklah menjadi bahaya sebagaimana sabda Nabi s.a.w.:
"Perselisihan ummatku adalah rahmat."
Tetapi perselisihan yang berbahaya dan tercela ialah apabila soal-soal cabang atau perincian-perincian itu dibesar-besarkan hingga menjadi retaknya barisan ummat Islam dalam menghadapi lawannya. Ini sungguh terlarang dalam agama sebagaimana firman Allah:
"Dan janganlah engkau semua bercerai-berai, maka akan lemahlah engkau semua dan
lenyaplah kekuatanmu."

Kedua: Dari Abu Najih al-'Irbadh bin Sariyah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. pernah memberikan wejangan kepada kita semua, yaitu suatu wejangan yang mengesankan sekali, hati dapat menjadi takut karenanya, matapun dapat bercucuran. Kita lalu berkata: "Ya Rasulullah,seolah-olah itu adalah wejangan seseorang yang hendak bermohon diri. Oleh sebab itu, berilah wasiat kepada kita semua!"

Beliau s.a.w. bersabda:
"Saya berwasiat kepadamu semua, hendaklah engkau semua bertaqwa kepada Allah, juga suka mendengarkan dan mentaati -pemerintahan - sekalipun yang memerintah atasmu itu seorang hambasahaya Habsyi. Karena sesungguhnya saja, barangsiapa yang masih hidup panjang di antara engkau semua itu ia akan melihat berbagai perselisihan yang banyak sekali. Maka dari itu hendaklah engkau semua menetapi sunnahku dan sunnah para Khalifah Arrasyidun yang memperoleh petunjuk - Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali radhiallahu 'annum; gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi-gigi taringmu - yakni pegang teguhlah itu sekuat-kuatnya. Jauhilah olehmu semua dari melakukan perkara-perkara yang diada-adakan, karena sesungguhnya segala sesuatu kebid'ahan itu adalah sesat."
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi mengatakan bahwa
ini adalah Hadis hasan shahih.

Keterangan:

Banyak sekali hal-hal penting yang terkandung dalam Hadis ini, di antaranya ialah:

  1. Orang yang berpamit yakni hendak meninggal dunia,sebab isi nasihatnya itu sangat mendalam.
  2. Memang kita wajib taat pada pemimpin-pemimpin kita yang memegang pemerintahan itu, apabila mereka itu tetap menjalankan pemerintahan sebagaimana yang diridhai oleh Allah.
  3. Sunnahku yakni perjalanan dan sari hidupku.
  4. Khalifah-khalifah Arrasyidun yakni pengganti-pengganti Nabi yang bijaksana dan senantiasa mengikuti kebenaran. Mereka itu ialah Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali radhiallahu 'anhum.
  5. Gigitlah teguh-teguh yakni peganglah selalu sekuat-kuatmu dan jangan sampai terlepas sedetikpun.
  6. Apa yang disabdakan Nabi s.a.w. ini agaknya kini telah tampak benar, bukanlah bermacam-macam perselisihan yang kita hadapi sekarang, baik karena banyak faham yang tumbuh atau memang percekcokan sesama ummat Islam sendiri dan lain-lain sebab lagi. Karena itu satu-satunya jalan agar kita tetap selamat di dunia dan akhirat ialah dengan berpegang teguh pada sunnah Nabi s.a.w. dan sunnah khalifah-khalifah Arrasyidun, yang pokok kesemuanya itu ialah dalam kandungan al-Quran dan Hadis.
  7. Bid'ah yakni sesuatu yang tidakada dalam agama lalu diada-adakan sehingga seolah-olah itu jugatermasuk dalam agama. Bid'ah yang sedemikian inilah yang sesat dan setiap yang sesat pasti ke neraka sebagaimana dalam Hadis lain disebutkan:
    "Maka sesungguhnya setiap sesuatu yang diada-adakan, itu bid'ah dan setiap bid'ah adalah sesat dan setiap kesesatan adalah di dalam neraka."
  8. Tetapi kalau yang diada-adakan itu baik (bid'ah hasanah), maka tentu saja tidak terlarang seperti mendirikan sekolah-sekolah (madrasah), pondok-pondok, pesantrenpesantren dengan cara yang serba moden. Semua tidak terlarang sekalipun dalam zaman Rasulullah s.a.w. belum ada.

Ketiga: Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Semua ummatku itu dapat memasuki syurga, melainkan orang yang enggan - tidak
suka."
Beliau ditanya: "Siapakah orang yang enggan itu, ya Rasulullah?" Beliau menjawab:
"Barangsiapa yang taat kepadaku, maka ia dapat memasuki syurga dan barangsiapa
yang bermaksiat padaku - menyalahi ajaranku, maka dialah orang yang benar-benar enggan."
(Riwayat Bukhari)


Keempat: Dari Abu Muslim; ada yang mengatakan, dari Abu lyas, yaitu Salamah bin 'Amr bin al-Akwa' r.a., bahwasanya ada seorang lelaki disisi Rasulullah s.a.w., makan dengan tangan kirinya. Kemudian beliau s.a.w. bersabda padanya: "Makanlah dengan tangan kananmu!" Orang itu berkata: "Aku tidak dapat." Beliau s.a.w. bersabda: "Jadi engkau tidak dapat?" Sebenarnya ia berbuat demikian itu hanyalah karena terdorong oleh kecongkaannya belaka. Akhirnya ia benar-benar tidak dapat mengangkat tangan kanannya ke mulutnya -
untuk selama-lamanya." (Riwayat Muslim)

Kelima: Dari Abu Abdillah yaitu an-Nu'man bin Basyir radhiallahu 'anhuma, katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Hendaklah engkau semua benar-benar meratakan barisan-barisanmu - dalam shalat, atau kalau tidak suka meratakan barisan, pastilah Allah akan membalikkan antara wajahwajahmu semua -maksudnya ialah bahwa Allah akan memasukkan rasa permusuhan, saling benci membenci dan perselisihan pendapat dalam hatimu semua." (Muttafaq 'alaih)

Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan:
"Rasulullah s.a.w. itu meratakan barisan-barisan kita sehingga seolah-olah beliau itu meratakan letaknya anak panah, sampai-sampai beliau meyakinkan bahwa kita semua telah mengerti betul-betul akan meratakan barisan itu. Selanjutnya pada suatu hari beliau keluar - untuk bersembahyang - kemudian berdiri sehingga hampir-hampir beliau akan bertakbir. Tiba-tiba beliau melihat ada seorang yang menonjol dadanya - agak ke muka sedikit dari barisannya - lalu beliau bersabda:
"Hai hamba-hamba Allah, hendaklah engkau semua benar-benar meratakan barisanmu, atau kalau tidak suka meratakan barisan, pastilah Allah akan membalikkan antara wajah-wajahmu semua."

Keterangan:
Dalam Hadis di atas terdapat anjuran yang sangat keras agar di waktu shalat, barisan itu benar-benar dilempangkan, diratakan dan diluruskan sekencang-kencangnya. Selain itu terdapat keterangan pula perihal dibolehkannya berkata-kata dalam waktu antara selesai-nya iqamah dengan akan dilakukannya shalat, tetapi kata-kata itu hendaknya yang bermanfaat dan berguna.

Keenam: Dari Abu Musa r.a. katanya:
"Ada sebuah rumah di Madinah yang terbakar mengenai penghuni-penghuninya di waktu malam. Setelah hal mereka itu diberitahukan kepada Rasulullah s.a.w., lalu beliau s.a.w. bersabda:
"Sesungguhnya api itu adalah musuhmu semua. Maka dari itu, jikalau engkau semua
tidur, padamkan sajalah api itu dari padamu." (Muttafaq 'alaih)

Ketujuh: Dari Abu Musa r.a. juga, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Sesungguhnya perumpamaan dari petunjuk dan ilmu yang dengannya saya diutus oleh Allah itu adalah seperti hujan yang mengenai bumi.Di antara bumi itu ada bagian yang baik,yaitu dapat menerima air, kemudian dapat pula menumbuhkan rumput dan lalang yang banyak sekali, tetapi di antara bumi itu ada pula yang gersang, menahan masuknya air dan selanjutnya dengan air yang tertahan itu Allah lalu memberikan kemanfaatan kepada para manusia, karena mereka dapat minum daripadanya, dapat menyiram dan menanam. Ada pula hujan itu mengenai bagian bumi yang lain, yang ini hanyalah merupakan tanah rata lagi licin. Bagian bumi ini tentulah tidak dapat menahan air dan tidak pula dapat menumbuhkan rumput. Jadi yang sedemikian itu adalah contohnya orang yang pandai dalam agama Allah dan petunjuk serta ilmu yang dengannya itu saya diutus, dapat pula memberikan kemanfaatan kepada orang tadi. Maka orang itupun mengetahuinya - mempelajarinya, kemudian mengajarkannya - yang ini diumpamakan bumi yang dapat menerima air atau dapat menahan air, dan itu pulalah contohnya orang yang tidak suka mengangkat kepala untuk menerima petunjuk dan ilmu tersebut. Jadi ia enggan menerima petunjuk Allah yang dengannya itu saya dirasulkan - ini contohnya bumi yang rata dan licin." (Muttafaq 'alaih)

Faquha, dengan dhammahnya qaf adalah menurut yang masyhur digunakan. Ada pula yang mengatakan dengan dikasrahkan berbunyi Faqiha), artinya menjadi pandai atau ahli fiqih.


Dari Jabir r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Perumpamaanku dan perumpamaan engkau semua itu adalah seperti seorang lelaki yang menyalakan api, kemudian banyaklah belalang dan kupu-kupu yang jatuh dalam api tadi, sedang orang itu mencegah binatang-binatang itu jangan sampai terjun di situ. Saya ini - yakni Rasulullah s.a.w. - adalah seorang yang mengambil -memegang - pengikat celana serta sarungmu semua agar tidak sampai engkausemua terjun dalam neraka, tetapi engkau semua masih juga hendak lari dari peganganku." (Riwayat Muslim)

Al-janadib ialah seperti belalang dan kupu-kupu (dari golongan binatang kecil yang terbang), sedang Al-hujaz adalah jamaknya Hujzah, artinya tempat mengikatkan sarung atau celana.

Kesembilan: Dari Jabir r.a. pula bahwasanya Rasulullah s.a.w. menyuruh menjilat tangan-tangan dan piring; beliau juga bersabda: "Sesungguhnya engkau semua tidak tahu di tempat manakah yang ada berkahnya." (Riwayat Muslim)

Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan lagi:
Rasulullah s.a.w. bersabda: "Jikalau suapan seseorang dari engkau semua itu jatuh, maka baiklah diambil kembali, kemudian hendaklah disingkirkan kotoran yang melekat di situ, selanjutnya hendaklah memakannya dan janganlah itu dibiarkan - ditinggalkan -untuk dimakan oleh syaitan. Jangan pula seseorang itu mengusap tangannya dengan saputangan - sehabis makan itu - sehingga jari-jarinya dijilat-jilatnya dulu, sebab seseorang itu tentulah tidak mengetahui di dalam makanan yang mana letaknya keberkahan."

Dalam riwayat Imam Muslim pula:
Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya syaitan itu mendatangi seseorang di antara engkau semua di waktu ia melakukan segala sesuatu dari pekerjaannya, sampai-sampai syaitan itupun mendatangi orang itu di waktu ia makan. Maka dari itu jikalau suapan itu jatuh dari seseorang di antara engkau semua, maka hendaklah menyingkirkan kotoranRiyadhus kotoran yang melekat di situ, kemudian makanlah dan jangan dibiarkan untuk dimakan oleh syaitan."

Kesepuluh: Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma, katanya: "Rasulullah s.a.w. berdiri di hadapan kita semua untuk memberikan nasihat. Beliau bersabda:
"Hai sekalian manusia, sesungguhnya engkau semua itu akan dikumpulkan kepada Allah Ta'ala dalam keadaan telanjang kaki, telanjang badan dan kuncup - tidak dikhitan, sebagaimana firman Allah Ta'ala yang artinya: "Sebagaimana Kami memulai membuat makhluk untuk pertama kalinya, maka itulah yang Kami ulangkan kembali. Sedemikian adalah janji atas Kami sendiri,sesungguhnya Kami akan melaksanakan yang sedemikian itu." (al-Anbiya': 104)

"Ingatlah, bahwasanya pertama-tama makhluk yang diberi pakaian pada hari kiamat ialah Ibrahim a.s. Ingatlah, bahwasanya Ibrahim itu akan didatangkan dengan disertai beberapa orang dari ummatku, kemudian orang-orang itu diseret ke sebelah kiri -maksudnya ke arah neraka. Saya berkata: "Ya Tuhanku, mereka adalah sahabat-sahabatku." Lalu kepadaku dikatakan: "Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan sepeninggalmu." Oleh sebab itu saya berkata sebagaimana yang diucapkan oleh seseorang hamba yang shalih - yakni Nabiullah Isa a.s.: "Dan saya dapat menyaksikan perbuatan mereka selagi aku ada di kalangan mereka - semasih sama-sama di dunia," hingga ucapannya "Maha Mulia Serta Bijaksana."

Lengkapnya ucapan Nabiullah Isa a.s. itu tersebut dalam sebuah ayat yang artinya:
"Dan saya dapat menyaksikan perbuatan mereka selagi aku ada di kalangan mereka. Tetapi setelah Engkau menghilangkan diriku, maka Engkaulah yang mengamat-amati atas kelakuan kelakuan mereka itu dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. Jikalau Engkau menyiksa mereka, maka mereka itupun hamba-hambaMu, tetapi jikalau Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau adalah Maha Mulia lagi Bijaksana." (al-Maidah: 117-118)

"Setelah itu lalu dikatakan kepadaku: "Sebenarnya mereka itu tidak henti-hentinya kembali pada kaki-kakinya - maksudnya menjadi murtad dari agama Allah - sejak engkau berpisah dengan mereka itu." (Muttafaq 'alsih)

Kesebelas: Dari Abu Said yaitu Abdullah bin Mughaffal r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. itu melarang berkhadzaf - yaitu melemparkan kerikil dengan jari telunjuk dan ibu jari yakni kerikil itu diletakkan di jari yang satu yakni ibu jari lalu dilemparkan dengan jari yang lain yakni jari telunjuk.
Selanjutnya ia berkata: "Sesungguhnya berkhadzaf itu tidak dapat membunuh binatang buruan, tidak dapat pula membunuh musuh. Dan bahwasanya berkhadzaf itu dapat melepaskan mata - membutakannya - dan dapat juga merontokkan gigi." (Muttafaq 'alaih)

Dalam riwayat lain disebutkan: Bahwasanya ada seorang keluarga dekat dari Ibnu Mughaffal berkhadzaf, lalu olehnya orang tersebut dilarang dan berkata bahwasanya Rasulullah s.a.w. melarang berkhadzaf itu dan berkata: "Sesungguhnya berkhadzaf itu tidak dapat membunuh binatang buruan." Kemudian orang yang dilarangnya itu masih mengulangi lagi perbuatannya. Lalu Ibnu Mughaffal berkata: "Saya telah memberitahukan kepadamu bahwasanya Rasulullah s.a.w. melarang berkhadzaf itu, tetapi engkau masih juga mengulangi perbuatanmu. Mulai sekarang saya tidak akan berbicara lagi padamu selama-lamanya."

Keterangan:
Hadis ini menjelaskan bolehnya tidak menyapa atau tidak berbicara dengan para ahli pelaku kebid'ahan, orang-orang fasik serta para penentang dan pelanggar sunnah Rasulullah s.a.w., sekalipun hal itu dilakukan untuk selama-lamanya. Tetapi keadaan sedemikian itu wajib diakhiri, manakala mereka yang tersebut di atas itu sudah mengubah sikapnya dan suka mentaati ajaran-ajaran agama sebagaimana yang semestinya dilakukan oleh seorang muslim dan mu'min.

Dari'Abis bin Rabi'ah, katanya: "Saya melihat Umar bin Alkhaththab r.a. mencium batu hitam - hajar aswad -dan ia berkata: "Saya mengetahui bahwa engkau itu adalah batu, engkau tidak dapat memberikan kemanfaatan dan tidak pula dapat membahayakan. Andaikata saya tidak melihat Rasulullah s.a.w. sendiri menciummu, pastilah aku juga tidak suka menciummu." (Muttafaq 'alaih)

Sunday, September 28, 2008

Amalan-amalan Sunnah di 1 Syawal

Editor: Bro_aiman
Sumber: As-Syafi'e.Com

1. Mandi sebelum keluar menunaikan solat Hari Raya.

Dilakukan pada pagi 1 Syawal sebelum menunaikan solat hari raya Aidilfitri.

Imam Malik r.h. meriwayatkan sebuah hadith di dalam al-Muwatta'



أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْفِطْرِ قَبْلَ أَنْ يَغْدُوَ إِلَى الْمُصَلَّى

Maksudnya : “Bawasanya ‘Abdullah bin ‘Umar seringkali akan mandi pada hari Raya al-Fitri sebelum beliau keluar ke tempat solat Hari Raya di pagi hari raya.”

Al-Imam al-Nawawi menyebut para ulama telah bersepakat atas sunatnya mandi untuk solat hari raya.


2. Memakai bau-bauhan yang wangi

Sunnah ini hanya bagi kaum lelaki.


3. Memakai pakaian yang paling baik

Pakaian tidak semestinya baru tettapi pakaian yang indah dan rapi sudah mencukupi
Daripada Jabir r.a. katanya : “Bagi Nabi saw ada satu jubah yang baginda akan memakainya untuk dua hari raya dan hari Jumaat.” (Sahih Ibn Khuzaimah : 1765)

Demikian juga al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanad yang sahih, bahawa Ibn ‘Umar sentiasa memakai pada hari raya seindah-indah pakaiannya.


4. Makan terlebih dahalu sebelum menunaikan solat hari raya ‘Aid al-Fitri

Sunnah memakan tamar dalm bilangan ganjil jika tiada sudah cukup memkan apa-apa juadah sekali pun.

Ini berdasarkan hadith yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari daripada Anas bin Malik katanya :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لا يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ .. وَيَأْكُلُهُنَّ وِتْرًا

Maksudnya : “Adalah Rasulullah saw tidak keluar pada pagi hari Raya al-Fitri, sehinggalah baginda makan terlebih dahulu beberapa biji Tamar… dan baginda memakannya dalam jumlah yang ganjil.” (al-Bukhari : 953)

Al-Imam Ibn Hajar al-‘Asqalani mengomentari hadith ini dengan berkata : “Demikian itu kerana untuk mengelakkan (anggapan) adanya tambahan dalam berpuasa, padanya juga (petunjuk) bersegera mentaati arahan Allah swt (untuk tidak berpuasa pada hari tersebut).” (Fath al-Bari : 2/446)


5. Mengajak seluruh ahli keluarga ke tempat menunaikan Solat Sunat Aidilfitri

Sunnah mengajak seluruh ahli keluarga termasuk kanak-kanak dan perempuan yang dating haid, diasing perempauan yang dating haid daripada perempuan yang boleh solat.

Bagi perempauan yang dating haid sunnah mereka turut serta ke temapat solat supaya mereka dapat menyaksikan upacara solat Hari Raya dan mendengar khutbah solat raya aidilfitri.

Ummu ‘Athiyah radhiallahu’ anha telah berkata:

أُمِرْنَا أَنْ نَخْرُجَ فَنُخْرِجَ الْحُيَّضَ وَالْعَوَاتِقَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ. قَالَ ابْنُ عَوْنٍ: أَوْ الْعَوَاتِقَ ذَوَاتِ الْخُدُورِ, فَأَمَّا الْحُيَّضُ فَيَشْهَدْنَ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَدَعْوَتَهُمْ وَيَعْتَزِلْنَ مُصَلَّاهُمْ.

Maksudnya:
Kami telah diperintahkan (oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) untuk keluar, maka kami memerintahkan wanita-wanita yang sedang haid, para gadis dan wanita-wanita pingitan untuk keluar. Ibnu ‘Aun berkata: “atau wanita-wanita pingitan,” dan wanita-wanita yang haid diperintahkan (Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) agar menyaksikan jamaah kaum muslimin dan dakwah mereka serta menjauhi tempat solat. - Hadis riwayat Imam al-Bukhari dalam Shahihnya, Kitab al-‘Iedaini, no: 981.


6. Keluar dengan berjalan ke tempat solat melalui jalan lain dan balik daripadanya melalui jalan yang lain.

Daripada Jabir bin Abdillah r.’anhuma katanya :

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ

Maksudnya : “Adalah Nabi saw, pada hari raya baginda membezakan jalan (pergi dan balik dari solat hari raya).” (al-Bukhari : 986)

Ibn Majah meriwayatkan daripada Ibn ‘Umar katanya :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ إِلَى الْعِيدِ ، مَاشِيًا وَيَرْجِعُ مَاشِيًا

Maksudnya : “Adalah Rasulullah saw keluar ke tempat solat Hari Raya dengan berjalan dan baginda pulang darinya juga dengan berjalan.” (al-Albani menghasankan hadith ini di dalam Sahih Ibn Majah)


Dikatakan terdapat beberapa hikmah dalam perbuatan ini
i. Semoga dua jalan yang berbeza tersebut menjadi saksi di hadapan Allah pada hari kiamat nanti. Ini kerana bumi akan membicarakan pada hari kiamat apa yang dilakukan di atasnya dari perkara-perkara yang baik dan jahat.
ii. Untuk menzahirkan syiar-syiar Islam
iii. Untuk menzahirkan zikir kepada Allah swt
iv. Untuk menyakitkan hati orang-orang Munafikin dan Yahudi dan sebagai menakutkan mereka dengan ramainya umat Islam.
v. Untuk mengambil tahu keperluan orang-orang yang memerlukan sebarang bantuan atau untuk menziarahi sanak saudara dan menghubungkan solatur rahim.


7. Bertakbir pada hari Raya

Takbir hari raya adalah termasuk sunnah yang agung berdasarkan firman Allah swt :

وَلِتُكْمِلُوا العِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْن

Maksudnya : “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengangungkan Allah atas petunjuknya yang diberikan kepada kamu, supaya kamu bersyukur.” (al-Baqarah : 185)

Sahih juga daripada ‘Abdul Rahman al-Salamiy katanya : “Adalah mereka (sahabat Nabi saw) pada hari Raya al-Fitri lebih bersungguh berbanding hari Raya al-Adha, Waki’ berkata : “Yakni (mereka lebih bersungguh) dalam bertakbir.”

Diangkat suara dalam melafazkan takbir bagi lelaki dan tidak bagi perempuan. Ia dilakukan di merata tempat di masjid, di rumah dan di pasa-pasar.

Waktu bertakbir bagi Hari Raya al-Fitri ialah bermula pada malam raya iaitu setelah tenggelamnya matahari pada hari akhir Ramadhan sehingga masuknya imam ke tempat solat untuk solat hari raya.


8. Ucapan Tahniah Pada Hari Raya

Termasuk daripada adab berhari raya ialah dengan menyampaikan ucap tahniah sesama muslim dengan sebarang ucapan yang baik seperti ucapan :

1.
(Lihat Irwa’ al-Ghalil : 3/122) تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ - Semoga Allah menerima (amalan) dari kami dan anda semua)
2. عِيْدُ مُبَارَكْ – (Selamat) hari raya yang diberkati.

Atau ucapan yang seumpama dengan di atas yang terdiri dari ungkapan-ungkapan tahniah yang dibenarkan.
Jubair bin Nufair berkata : “Para sahabat Nabi saw apabila mereka bertemu sesama mereka pada hari raya mereka mengucapkan تُقُبَِّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ ,
Ibn Hajar berkata : Isnad (riwayat ini ) Hasan. (Fath al-Bari : 2/446)


9. Solat Hari Raya

Para ulama berbeza pendapat tentang hukum solat hari raya, sebahagian mengatakan hukumnya sunat, sebahagian yang lain mengatakannya fardhu kifayah dan sebahagian yang lain mengatakan hukumnya adalah fardhu ‘ain (wajib), berdosa bagi sesiapa yang meninggalkannya. Inilah pendapat Mazhab Imam Abu Hanifah, pendapat ini dipilih juga oleh Syeikh al-Islam Ibn Taimiyyah dan Ibn al-Qayyim. Al-Syeikh ‘Abdul ‘Aziz Abdillah bin Baz menyebut : “Pendapat ini lebih terserlah pada dalil-dalilnya dan lebih hampir kepada kebenaran.”

- Dilakukan solat raya terlebih dahulu diikuti khutbah

Ini berdasarkan hadith di dalam Musnad Ahmad daripada Ibn ‘Abbas r’anhuma :

أَشْهَدُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى قَبْلَ الْخُطْبَةِ فِي الْعِيدِ ثُمَّ خَطَبَ

Maksudnya : “Aku menyaksikan Rasulullah saw menunaikan solat hari raya sebelum khutbah, kemudian baginda berkhutbah.”

Lihat artikel “Solat Hari Raya Cara Nabi” tulisan Mohd Yaakub bin Mohd Yunus untuk keterangan lanjut tentang solat hari raya.




Beberapa Kesalahan Yang Dilakukan Pada Hari Raya


1. Anggapan sunat menghidupkan malam hari raya

Sebahagian orang ada yang beranggapan sunat menghidukan malam hari raya dengan melakukan ibadat-ibadat sunat seperti qiyam al-Lail dan seumpamanya. Anggapan ini adalah salah kerana tidak terdapat dari petunjuk Nabi saw. Adapun hadith yang menyebut tentang kelebihan menghidupkan malam hari raya ini adalah dhoief ataupun lemah untuk dinisbahkan kepada perkataan Nabi saw.

Hadith tersebut ialah :

من أحيا ليلة العيد لم يمت قلبه يوم تموت القلوب

Maksudnya : “Siapa yang menghidupkan malam hari raya, tidak akan mati hatinya pada hari matinya hati-hati (manusia lainnya).”

Hadith ini TIDAK SAHIH, ia datang dari 2 jalan periwayatan dimana salah satunya Maudhu’ atau PALSU dan salah satu lagi LEMAH. (Sila lihat Silsilah al-Ahadith al-Dhoiefah wa al-Maudhu’ah, oleh al-Syeikh Muhammad Nasiruddin al-Albani : 520-521)

Maka tidak disyariatkan untuk menghidupkan malam hari raya dengan qiyam al-lail, melainkan bagi mereka yang sememangnya telah menjadi kebiasaannya menghidupkan malam-malam yang lain juga.


2. Menziarahi Kubur pada 2 hari raya

Perbuatan sebahagian orang yang menjadikan awal pagi dua hari raya untuk menziarahi kubur adalah perbuatan yang bertentangan dengan maksud dan syiar hari raya. Yang mana sepatutnya dizahirkan kegembiraan dan keseronokan.

Perbuatan menziarahi kubur pada hari raya ini juga bertentangan dengan petunjuk Nabi saw dan perbuatan generasi awal umat Islam (al-Salaf) yang dididik oleh Baginda. Perbuatan ini dibimbangi termasuk di dalam larangan Nabi saw dari menjadikan tanah perkuburan sebagai sambutan hari raya, dimana jika dimaksudkan (sunat menziarahi kubur) pada waktu-waktu tertentu dan ada pada musim-musim yang tertentu (seperti pada dua hari raya), maka perbuatan ini termasuk larangan menjadikan tanah perkuburan sebagai tempat sambutan hari raya seperti yang disebut oleh para ulama. (Sila lihat Ahkam al-Jana-iz wa Bida’uha oleh al-Albani. m.s. 219 & 258)


Rujukan :
1. http://soaljawab.wordpress.com/
2. Rakaman audio Ceramah Ustaz Ramadhan Fitri tentang Sunnah di 1Syawal.

Taken from www.al-ahkam.net

Thursday, September 18, 2008

Qiyamullail dan Membaca Seratus Ayat

Ramadhan merupakan bulan di mana Allah ta’aala wajibkan berpuasa di dalamnya sedangkan Rasulullah Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam sunnahkan kaum muslimin melaksanankan qiyamul-lail (sholat malam/ sholat tahajjud).

Hendaknya ummat Islam memanfaatkan sebaik mungkin kesempatan yang sangat berharga ini. Jangan ada satu malampun di bulan suci Ramadhan yang tidak diisi dengan kegiatan sholat malam.

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ رَمَضَانَ
شَهْرٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ صِيَامَهُ وَإِنِّي سَنَنْتُ لِلْمُسْلِمِينَ قِيَامَهُ فَمَنْ صَامَهُ إِيمَانًا
وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنْ الذُّنُوبِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ (أحمد)


Bersabda Rasululah shollallahu ’alaih wa sallam, "Sesungguhnya Ramadhan adalah bulan di mana Allah ta’aala wajibkan berpuasa dan aku sunnahkan kaum muslimin menegakkan (sholat malam). Barangsiapa berpuasa dengan iman dan dan mengharap ke-Ridhaan Allah ta’aala, maka dosanya keluar seperti hari ibunya melahirkannya." (HR Ahmad 1596)

Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam memberikan gambaran mengenai kategori orang yang bangun di tengah malam. Ada orang yang dikategorikan sebagai bukan orang yang lalai, yaitu bilamana di tengah malam ia membaca sekurangnya sepuluh ayat Al-Qur’an. Ada kategori yang disebut sebagai orang yang patuh kepada Allah ta’aala, yaitu mereka yang membaca sekurangnya seratus ayat di tengah malam. Bahkan ada yang disebut sebagai orang yang berharta banyak, yaitu mereka yang membaca sekurangnya seribu ayat di tengah malam.

من قام بعشر آيات لم يكتب من الغافلين و من قام بمائة آية كتب من القانتين و من قرأ بألف آية كتب من المقنطرين

“Barangsiapa bangun malam membaca sepuluh ayat, maka ia tidak dicatat sebagai golongan al-ghaafiliin (orang-orangyanglalai). Dan barangsiapa bangun malam membaca seratus ayat, maka ia dicatat sebagai golongan al-qaanitiin (orang-orang yang patuh). Dan barangsiapa membaca seribu ayat, maka ia dicatat sebagai golongan al-muqonthiriin (orang-orang berharta banyak).” (Al-Al-Bani dalam ”Silsilah Shahihah-nya 2/242”. HR Abu Dawud 1/221 dan HR Ibnu Khuzaimah 1/125)

Subhanallah...! Betapa luasnya rahmat dan kasih sayang Allah ta’aala. Marilah saudaraku, kita kejar prestasi ibadah sebaik mungkin. Kita coba gapai rahmat Allah ta’aala dengan rajin berdzikir mengingatNya. Silahkan, jika anda sekedar tidak ingin disebut al-ghaafilin (orang yang lalai mengingat Allah ta’aala) bacalah setiap malam sekurangnya sepuluh ayat.
Jika anda ingin meraih yang lebih baik, yaitu dipandang sebagai al-qaanitin (orang yang patuh kepadaNya), maka bacalah sekurangnya seratus ayat.


Namun, jika ingin memperoleh kedudukan yang lebih baik lagi, maka bacalah seribu ayat di tengah malam! Maka anda akan dipandang sebagai al-muqonthiriin (orang yang sangat kaya)...!
Kalau anda termasuk orang yang selama ini jarang sholat malam, maka mulailah membiasakan diri sholat malam dengan setidaknya membaca sepuluh ayat saja setiap malam. Sebab dengan melakukan kegiatan minimal ini anda sudah membebaskan diri anda dari penilaian Allah ta’aala sebagai orang yang lalai.


Jika anda sudah terbiasa sholat malam namun selama ini belum pernah menetapkan target jumlah dzikrullah, maka mulailah di bulan suci ini untuk bertekad mencapai predikat sebagai orang yang tunduk kepada Allah ta’aala. Bacalah setiap malam minimal seratus ayat.
Bagi mereka yang selama ini sudah terbiasa sholat malam dan membaca sekurangnya seratus ayat dan masih sanggup untuk menambah targetnya, maka bulan Ramadhan ada baiknya anda mulai berfikir untuk mencapai predikat orang yang banyak hartanya. Bacalah setiap malam sekurangnya seribu ayat...!


Yang jelas, orang beriman memang dituntut untuk banyak mengingat Allah ta’aala.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

”Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS Al-Ahzab ayat 41)

Orang munafiq-pun mengingat Allah ta’aala. Namun mereka tidak mengingat Allah ta’aala kecuali sedikit. Mereka malas dan merasa terpaksa mengingat Allah ta’aala.

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

”Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah ta’aala, dan Allah ta’aala akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka mengingat Allah ta’aala kecuali sedikit sekali.” (QS An-Nisa ayat 142)

Maka saudaraku, marilah kita perbanyak mengingat Allah ta’aala di bulan suci Ramadhan. Tidak ada ruginya mengingat Allah ta’aala. Bahkan sebaliknya, barangsiapa yang rajin mengingat Allah ta’aala niscaya ia akan terpelihara dari azab Allah ta’aala, baik di dunia maupun di akhirat. InsyaAllah.

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ أَنَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ عَمَلًا قَطُّ أَنْجَى لَهُ مِنْ عَذَابِ اللَّهِ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ
“Tidak ada amal anak Adam yang lebih menyelamatkannya dari azab Allah ta’aala selain dzikrullah.” (HR Ahmad 21064)


www.eramuslim.com

Tuesday, March 18, 2008

Monolog Seorang Pengabdi


In the name of Allah, the most Gracious, most Merciful….

Tuhan tidak pernah menzalimi hambaNya tetapi manusialah yang menzalimi diri mereka sendiri. Terkadang kita terlupa, sering saja keluhan dan rungutan tercetus keluar dari bibir, mungkin hanya kerana tertinggal barang , atau terpaksa menunggu seseorang atau mungkin yang lebih besar dari itu, kita ditimpa ujian. Kita seringkali memandang pada apa yang menimpa sehingga terlupa pada yang membenarkan perkara itu berlaku.

Fitrah insani…lupa..,tapi Dia tak pernah lupa, tak pernah jemu, dan tak pernah menolak permintaan hambaNya. Terkadang aku terfikir, layakkah aku menerima semua nikmatNya? Nikmat iman, islam, tarbiyyah, dakwah, ukhwah…ah.. tak mungkin aku dapat menyenaraikannya, cukup banyak,terlalu banyak. Walaupun aku hidup seribu tahun, pasti takkan mampu membayarnya, kerana kehidupan itu sendiri adalah nikmat dariNya.

Tuhan..,aku bukan Khadijah,pendamping kekasihMu,tidak setabah Maryam wanita terpuji yang tinggi darjatnya di sisiMu, bukan juga segigih Asiyah yang telah terbina istananya di syurgaMu apatah lagi semulia Fatimah, penghulu wanita syurga, aku hanyalah hambaMu ,hamba yang mendamba secebis redhaMu, hamba yang menagih secebis kasihMu,hamba yang mencari-cari andai ada peluang untukku melihat wajahMu,andai ada kesempatan untukku berkumpul bersama-sama RasulMu dan para sahabat, atau paling tidak,cukuplah andai aku dapat melihat mereka dari jauh… cukuplah andai aku dapat mendengar suaraMu…

Tuhan…hambaMu ini sering saja terlupa,terkadang tawaku berlebihan sedangkan mati itu hampir sekali,terkadang aku mengajak orang kepada kebaikan tetapi aku melupakan diriku, terkadang aku mencegah orang melakukan kemungkaran tanpa sedar aku melakukannya. Engkau Maha Tahu ya Allah,adakalanya niat ini terpesong, lantas Engkau menyedarkan aku. Ampunkanlah dosaku,bimbinglah hambaMu ini, janganlah Engkau palingkan wajahMu dariku Ya Allah. Tetap dan tegarkanlah langkah kaki ini atas jalanMu. Aku berlindung padaMu dari keburukan dan kelemahan diri ini,janganlah Kau palingkan hati ini setelah Kau berikan hidayah..perkenankanlah.. ya Rabbal alamin..

Wahai diri…perhatikanlah kata-katamu,kerana engkau pasti akan diuji dengannya. Andai sampai saat itu, maka ingatlah tiada pergantungan selain dari Allah dan tiada kekuatan melainkan dariNya. Peliharalah dirimu daripada termasuk golongan yang dibenciNya iaitu golongan yang sering mengatakan tetapi tidak berbuat. Luruskanlah niatmu,luruskanlah niatmu,luruskanlah niatmu agar setiap apa yang kau lakukan hanyalah keranaNya. Jagalah amarahmu,bencimu,tangismu, suka dan duka mu agar tidak lari dari landasan yang telah ditetapkanNya. Sentiasalah mohon keampunan dan rahmat dariNya. Ingatlah! Iman itu bukan terletak pada ungkapan ‘pendamba redha ilahi,pemburu syahid abadi’, bukan juga pada kata berapi-api yang dilontarkan penuh semangat,tetapi iman itu hanya akan terbukti melalui ujian yang telah ditetapkannya. Mungkin kecil dan mungkin besar,sebagai tarbiyah dariNya…

PRIPSA…

 

Text