Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Blogger Template From:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Showing posts with label sirah tokoh. Show all posts
Showing posts with label sirah tokoh. Show all posts

Tuesday, June 08, 2010

I'll be graduating... =)

Bismillahi Walhamdulillah...

Harini result final keluar... Alhamdulillah, walaupun tidak seperti yang ditarget, tetapi aku tetap syukur dan redha, sebab inilah hasil usaha ku selama ni. 4 tahun di USM, bertungkus lumus disibukkan dengan study dan aktiviti tarbiyah (alhamdulillah)... memanglah tak semantap PNGK Ng Xiang Ying, tapi entah mengapa, aku tidak langsung kesal dan kecewa dengan perbezaan nilai tersebut. Entah mengapa?...

Subjek Organizational Behavior yang aku amek untuk course minor semester lepas, cukup membuat aku terfikir dan tersentuh bila melihat resultnya. First test aku fail... FAIL!!!... study main-main n overconfident. mentang-mentangla soalan objective, aku pandang sebelah mata je. Bila kuar je result test1 tu, aku terduduk... Astaghfirullah... nilah jadinya. Tak pernah sekalipun dalam hidup aku fail dalam exam/test. Memang menyesal, tak keruan habis waktu tu. Tapi aku tak putus asa, sebab adik-adik halaqahku menjadi penguat, akhawatku menjadi semangat untuk terus tekun. Bila lecturer umum prepare untuk test 2, memang aku pulun habis. Keluar result, alhamdulillah... A dalam list. Subhanallah... betapa Allah tidak pernah menghampakan doa dan usaha tekun seorang hambanya. Hah, tekalah... final exam aku dapat apa? --- hehe

Akhir akhir ni aku disibukkan dengan persediaan untuk memulakan projek selepas graduation. Aku menulis bukanlah untuk menunjuk-nunjuk atau menghebohkan hal yang belum pun jadi, tapi ini adalah sebagai langkah motivasi untuk aku terus menapak di atas jalan yang lurus ini. Ya, tertekan juga dengan pelbagai desakan dan tekanan yang ditimpakan tapi, kita perlu sentiasa positif dan pandai mengawal stress. Jangan sampai pengsan sebab stress, sudahlah.

Projek business, insyaAllah dalam usaha memulai walaupun masih baru melangkah dan perjalanan berliku dan berhalangan masih jauh di hadapan. projek apa? nantilah, akan diceritakan kemudian, insyaAllah. Hanya meminta agar pembaca sekalian mendoakan moga-moga semangat dan langkah ini terus walau apa pun yang berlaku, mintalah didoakan.

Dalam langkah-langkah meniti hari pembukaan kedai ni, asyik teringat sahabat nabi, Abdurrahman bin Auf, sewaktu berhijrah ke Madinah, bila ditawarkan untuk mengahwini salah seorag isteri saudaranya, beliau hanya bertanyakan jalan ke pasar. Terfikir, apakah yang berada di benak sahabat besar tersebut. Bagaimana keberadaan dirinya waktu itu, dalam pada sibuk memikirkan strategi untuk berdakwah bersama Rasulullah SAW, masih lagi mempunyai waktu dan kewangan yang banyak untuk membiayai segala peralatan untuk menjalankan misi dakwah.

Aduhai, wahai diri. Jauh sungguh dirimu untuk dibandingkan Abdurrahman bin Auf. Tapi tak mengapalah. Yang penting, inilah pekerjaan yang paling mudah untuk aku berada dekat dan merasai bagaimana cara hidupnya para sahabat yang kaya-raya pada zaman nabi, dan juga perasaannya Rasulullah SAW menghabiskan waktu mudanya dengan berniaga. Perasaan suci ini... subhanallah terlalu rindu untuk dirasai. Apalagi untuk dilepaskan.

Tapi ayah agak kurang setuju dengan perancangan aku. Mungkin kerana aku perempuan? atau mungkin kerana dia kurang yakin dengan kemampuanku. Pastinya dia kesal sebab aku tolak tawaran medic dulu. Dari first year aku kat USM sampaila nak grad ni, itulah yang diungkit oleh parents. Adus, haru juga. Tak kisahlah... Bila aku bentang rancangan perniagaan aku dalam kereta tadi, satu per satu aku cerita pada mereka planning aku dengan yakin, mereka terdiam. Mungkin mereka tak sangka anak perempuan mereka dah sebesar ini. heheheh...

Semoga memberi ilham kepada bakal graduan untuk membuat keputusan selepas graduasi kalian. Bittaufiq wannajah...

Wassalam

Wednesday, May 05, 2010

Jadikanlah Allah sebagai Tujuan Utama Amal Kita

oleh Syaikh Muhammad Mahdi 'Akif

Segala puji bagi Allah, Shalawat dan salam kepada Rasulullah SAW.

Pada proses kelahiran atau persalinan biasanya terdapat rasa sakit. Namun pada saat yang sama hal itu merupakan pertanda akan datangnya sebuah kabar gembira. Pertanda hadir dan lahirnya sebuah kehidupan baru.

Umat Islam beberapa tahun terakhir merasakan berbagai macam rasa sakit dan penderitaan akibat ulah Firaun zaman modern. “Sesungguhnya Fir'aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Firaun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al-Qashash: 4)

Namun janji Allah SWT pasti akan tiba yaitu mereka yang tertindas oleh kekuatan Firaun akan diberi pertolongan. “Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi, dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fir'aun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu .” (Al-Qashash: 5 - 6)

Wahai Umat Islam

Berbuatlah sesuai dengan realita. Kita memiliki modal untuk bangkit. Sikap keprajuritan adalah langkah awal kemenangan. “Atau siapakah dia yang menjadi tentara bagimu yang akan menolongmu selain daripada Allah Yang Maha Pemurah? Orang-orang kafir itu tidak lain hanyalah dalam tertipu.” (Al-Mulk: 20)

Hendaknya langkah awal kalian adalah kembali pada Allah SWT, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al-A’raf; 96)

Wahai para Pemimpin

Sesungguhnya Hari Kiamat itu akan sangat dahsyat. Masing-masing manusia akan menghadap Allah SWT. “Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.” (Maryam: 95)

Kami khawatir akan beban berat yang kalian emban. “Dan sesungguhnya mereka akan memikul beban mereka, dan beban-beban di samping beban-beban mereka sendiri, dan sesungguhnya mereka akan ditanya pada hari kiamat tentang apa yang selalu mereka ada-adakan.” (Al-Ankabut: 13). Ingatlah akan rakyat kalian yang kalian pimpin, ini adalah amanah. Jnagn sampai pada hari kimat nanti ini akan menjadi penyesalan.

Pada para Kader Ikhwan

Ingatlah selalu syiar kalian. Jadikan Allah SWT sebagai tujuan utama dalam setiap aktifitas yang dilakukan. Bukankah Allah memberikan kabar gembira bagi mereka yang berniat tulus dan berhati baik. “kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,” (Asy-Syuara: 89)

Jadikan Rasulullah saw sebagai teladan yang terus hidup dalam jiwa kalian yang akan membangkitkan semangat kalian. “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (At Taubah: 128)

Berdoalah terus untuk Al-Aqsha. Dan jadikanlah Al-Qur’an sebagai pedoman hidup kalian dan bekal dalam perjalanan juga sebagai landasan dalam bermuamalah dengan manusia yang lain.

Ingatlah bahwa siapa saja yang menginginkan kehidupan akhirat maka itu dapat diraih dengan pertolongan Al-Qur’an. Juga barang siapa yang menginginkan kehidupan dunia, maka juga dengan wasilah Al-Qur’an. Bahkan yang menginginkan kebahagiaan pada keduanya, juga dengan Al-Qur’an.

“Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu , maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mu'min bertawakkal.” (Ali Imran: 160)

(disampaikan pada Risalah Ikhwan edisi Mei 2005)

Source & edited from: www.eramuslim.com

Tuesday, December 01, 2009

Abdullah bin Abbas

Dia pemuda tua, banyak bertanya (belajar), dan sangat cerdas.

Sahabat yang mulia ini mulia segala-galanya, tidak ada yang ketinggalan. Dalam pribadinya terdapat kemuliaan sebagai sahabat Rasulullah saw. Dia beroleh kemuliaan sebagai keluarga dekat Rasulullah karena sebagai anak paman beliau, Abbas bin Abdul Mutthalib. Dia mulia dari sudut ilmu karena dia umat Muhammad yang amat alim dan saleh.

Nama lengkapnya Abdullah bin Abbas. Dia sangat alim tentang kitabullah (Alquran) dan sangat paham maknanya. Dia menguasai Alquran sampai ke dasar-dasarnya, mengetahui sasaran, dan segala rahasianya.

Ibnu Abbas lahir tiga tahun sebelum hijrah. Ketika Rasulullah Saw wafat, dia baru berumur tiga belas tahun. Dalam usia sebaya itu, dia telah menghafal seribu enam ratus enam puluh hadis untuk kaum muslimin yang diterimanya langsung dari Rasulullah dan dicatat oleh Bukhari dan Muslim dalam kitab sahih mereka.

Setelah Ibnu Abbas lahir ke dunia, bayi yang masih merah itu segera dibawa ibunya kepada Rasulullah saw. Beliau memasukkan air liurnya ke dalam kerongkongan bayi itu. Air liur Nabi yang suci dan penuh berkat itulah yang pertama-tama masuk ke dalam rongga perut anak tersebut, sebelum ia disusukan ibunya. Seiring dengan air liur Nabi, masuk pulalah ke dalam pribadi bayi itu takwa dan hikmah. "Dan siapa saja yang diberi hikmah, sungguh dia telah diberi kebajikan yang banyak." ( Al-Baqarah: 269).

Ketika anak itu meninggalkan usia kanak-kanak dan mulai memasuki usia tamyiz (usia 6 atau 7 tahun), dia tinggal di rumah Rasulullah seperti adik terhadap kakak yang saling mengasihi. Dia menyediakan air wudu beliau apabila hendak wudu. Bila Rasulullah salat, anak itu ikut salat; bila beliau bepergian, dia membonceng di belakang. Sehingga, Ibnu Abbas bagaikan bayang-bayang yang senantiasa mengikuti ke mana saja beliau pergi, atau dia senantiasa berada di seputar beliau. Sementara itu, anak tersebut dapat menyimpan dalam hati dan pikirannya yang bersih segala peristiwa yang dilihat dan kata-kata yang didengarnya, tanpa alat tulis menulis seperti yang kita kenal sekarang.

Ibnu Abbas bercerita mengenai dirinya, "Pada suatu ketika Rasulullah saw hendak mengerjakan salat. Aku segera menyediakan air wudu untuk beliau. Beliau gembira dengan apa yang kulakukan. Ketika beliau siap untuk salat, dia memberi isyarat kepadaku supaya berdiri di sampingnya. Tetapi, aku berdiri di belakang beliau. Setelah selesai salat, beliau menoleh kepadaku seraya bertanya, "Mengapa engkau tidak berdiri di sampingku?" Jawabku, "Anda sangat tinggi dalam pandanganku, dan sangat mulia untukku berdiri di samping Anda." Rasulullah menadahkan tangannya, lalu berdoa, "Wahai Allah, berilah dia hikmah."

Allah memperkenankan doa Rasulullah tersebut. Dia memberi cucu Hasyim tersebut hikmah, melebihi hikmah ahli-ahli hikmah yang besar-besar. Tentu Anda ingin tahu, hikmah bentuk apa yang telah dilimpahkan Allah kepada Abdullah bin Abbas. Marilah kita perhatikan kisah selanjutnya.

Ketika sebagian sahabat memencilkan dan menghina Khalifah Ali bin Abu Thalib, Abdullah bin Abbas berkata kepada Ali, "Ya, Amirul Mukminin, izinkanlah saya mendatangi mereka dan berbicara kepadanya." Kata Ali, "Saya khawatir risiko yang mungkin engkau terima dari mereka." Jawab Ibnu Abbas, "Insya Allah tidak akan terjadi apa-apa." Ibnu Abbas masuk ke dalam majlis mereka. Dilihatnya mereka orang-orang yang sangat rajin beribadah. Mereka berkata, "Selamat datang, hai Ibnu Abbas. Apa maksud kedatangan Anda kemari?" Jawab Ibnu Abbas, "Saya datang untuk berbicara dengan tuan-tuan." Sebagian yang lain berkata, "Katakanlah, kami akan mendengarkan bicara Anda." Ibnu Abbas berkata, "Coba tuan-tuan katakan kepada saya, apa sebabnya tuan-tuan membenci anak paman Rasulullah yang sekaligus suami anak perempuan beliau (mantu Rasulullah), dan orang yang pertama-tama iman dengan beliau?" Jawab mereka, "Kami membencinya karena tiga perkara." Tanya Ibnu Abbas, "Apa itu?" Mereka menjawab, "Pertama, dia bertahkim (mengangkat hakim) kepada manusia tentang urusan agama Allah. Kedua, dia memerangi Aisyah dan Muawiyah, tetapi dia tidak mengambil harta rampasan dan tawanan. Ketiga, dia menanggalkan gelar Amirul Mukminin dari dirinya, padahal kaum muslimin yang mengukuhkan dan mengangkatnya. Kata Ibnu Abbas, "Sudikah tuan-tuan mendengar Alquran dan hadis Rasulullah yang saya bacakan? Tuan-tuan tentu tidak akan membantah keduanya. Apakah tuan-tuan bersedia mengubah pendirian tuan-tuan sesuai dengan maksud ayat dan hadis tersebut?" Jawab mereka, "Tentu!" Kata Ibnu Abbas, "Masalah pertama, bertahkim kepada manusia dalam urusan agama Allah. Allah SWT berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian membunuh binatang buruan ketika kamu sedang ihram, siapa saja di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak yang seimbang dengan buruan yang dibunuhnya menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu." (Al-Maidah: 95). Saya bersumpah dengan tuan-tuan menyebut nama Allah. Apakah putusan seseorang tentang hak darah atau jiwa, dan perdamaian antara kaum muslimin yang lebih penting ataukah seekor kelinci yang harganya seperempat dirham?"
Jawab mereka, "Tentu darah kaum muslimin dan perdamaian di antara mereka yang lebih penting." Kata Ibnu Abbas, "Marilah kita keluar dari persoalan ini."

Kata Ibnu Abbas, "Masalah kedua, Ali berperang tetapi dia tidak menawan para wanita seperti yang terjadi pada masa Rasulullah. Mengenai masalah ini, sudikah tuan-tuan mencaci Aisyah, lantas tuan-tuan halalkan dia seperti wanita-wanita tawanan yang lain-lain. Jika tuan-tuan mengatakan "Ya," tuan-tuan kafir. Dan, jika tuan-tuan menjawab, dia bukan ibu kami, tuan-tuan kafir juga. Allah SWT berfirman: "Nabi itu hendaknya lebih utama bagi orang-orang mukmin daripada diri mereka sendiri, dan istri-istri Nabi adalah ibu-ibu mereka." (Al-Ahzab: 6).

"Nah, pilihlah mana yang tuan-tuan suka. Mengakui ibu atau tidak. Kata Ibnu Abbas, "Ali menanggalkan gelar 'Amirul Mukminin' dari dirinya. Sesungguhnya ketika Perjanjian Hudaibiyah ditandatangani, mula-mula Rasulullah menyuruh untuk ditulis, inilah perjanjian dari Muhammad Rasulullah. Lalu kata kaum musyrikin, "Seandainya kami mengakui engkau Rasulullah, tentu kami tidak menghalangi engkau mengunjungi Baitullah dan tidak memerangi engkau. Karena itu, tuliskan nama engkau saja, "Muhammad bin Abdullah."
Rasulullah memenuhi permintaan mereka seraya berkata, "Demi Allah, aku adalah Rasulullah, sekalipun kalian tidak mempercayaiku.
"Bagaimana?" tanya Ibnu Abbas, "Tidak pantaskah masalah memakai atau tidak memakai gelar 'Amirul Mukminin' itu kita tanggalkan saja? Jawab mereka, "Ya Allah, kami setuju." Hasil pertemuan Ibnu Abbas dengan mereka (kaum Khawarij) dan alasan-alasan yang dikemukakannya menyebabkan 20.000 orang yang membenci Ali kembali masuk ke dalam barisan Ali. Yang memusuhinya hanya tinggal 4.000 orang.

Waktu muda Abdullah bin Abbas mencari ilmu dengan berbagai cara yang dapat dilakukannya. Waktunya dihabiskan umtuk menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh. Mula-mula dia memperoleh ilmu dari mata air yang mulia, yaitu langsung dari Rasulullah sampai beliau wafat. Setelah beliau tiada, dihubunginya ulama-ulama sahabat, lalu dia belajar kepada mereka. Ibnu Abbas pernah bercerita, "Apabila seseorang menyampaikan sebuah hadis kepadaku yang diperolehnya dari seorang sahabat Rasulullah, maka kudatangi sahabat tersebut ke rumahnya waktu dia tidur siang. Lalu, aku bentangkan serbanku dekat tangga rumahnya dan aku duduk di situ menunggu dia bangun. Sementara itu, angin bertiup memenuhi tubuhku dengan debu tanah. Seandainya aku minta izin masuk kepadanya, tentu dia akan mengizinkanku. Tetapi, memang aku sengaja melakukan demikian supaya tidak menganggunya tidur. Ketika dia keluar dan melihatku dalam keadaan demikian, dia berkata, "Wahai anak paman Rasulullah. Mengapa Anda sendiri yang datang ke sini? Mengapa tidak Anda suruh saja seseorang memanggilku. Tentu aku datang memenuhi panggilan Anda!" Jawabku, "Akulah yang harus mendatangi Anda, ilmu harus didatangi, bukan ilmu yang harus mendatangi. Sesudah itu kutanyakan kepadanya hadis yang kumaksud."

Ibnu Abbas rendah hati dalam menuntut ilmu. Dia menghormati derajat ulama. Pada suatu hari Zaid bin Tsabit, penulis wahyu dan ketua pengadilan Madinah bidang Fiqih, Qira'ah, dan Faraidh, mendapat kesulitan karena hewan yang ditungganginya bertingkah. Lalu, Abdullah bin Abbas berdiri ke hadapannya seperti seorang hamba di hadapan majikannya. Ditahannya hewan kendaraan Zain bin Tsabit. Kata Zaid, "Biarkan saja, wahai anak paman Rasulullah!" Jawab Ibnu Abbas, "Beginilah caranya kami diperintahkan Rasulullah terhadap ulama kami." Kata Zaid bin Tsabit, "Coba perlihatkan tangan Anda kepada saya!"
Ibnu Abbas mengulurkan tanganya kepada Zaid, lalu dicium oleh Zaid. "Begitulah caranya kami diperintahkan Rasulullah menghormati keluarga Nabi kami, Kata Zaid."

Ibnu Abbas sangat rajin menuntut ilmu sehingga mencengangkan ulama-ulama besar. Masruq bin Ajda', seorang ulama besar Tabi'in berkata, "Paras Ibnu Abbas sangat elok. Bila dia berbicara, bicaranya sangat fasih. Bila dia menyampaikan hadits, dia sangat ahli dalam bidang itu."

Setelah ilmu yang dicarinya sempurna, Ibnu Abbas beralih menjadi guru mengajar. Rumahnya berubah menjadi jam'iah (universitas) kaum muslimin. Memang tidak salah kalau kita katakan universitas, seperti yang kita kenal sekarang. Beda universitas Ibnu Abbas dengan universitas kita sekarang ialah di universitas kita yang mengajar ada sepuluh sampai ratusan orang dosen atau profesor. Tetapi, di universitas Ibnu Abbas yang mengajar Ibnu Abbas seorang.

Salah seorang kawan Ibnu Abbas bercerita, "Saya berpendapat, seandainya kaum Quraisy mau membanggakan universitas Ibnu Abbas, memang pantas mereka bangga. Saya lihat orang banyak sudah penuh berkumpul di jalan menuju ke rumah Ibnu Abbas, sehingga jalan itu sempit dan tertutup oleh kepala orang banyak. Saya masuk menemuinya dan memberi tahu bahwa orang banyak sudah berdesak-desak di muka pintu. Katanya, "Tolong ambilkan saya air wudu!" Lalu dia berwudu dan sesudah itu duduk di ruangan majelis. Katanya, "Siapa yang hendak belajar Alquran suruhlah mereka masuk." Saya keluar memberi tahu orangn banyak. Mereka pun masuk, sehingga seluruh ruangan dan kamar-kamar penuh dengan orang yang hendak belajar Alquran. Apa saja yang mereka tanyakan dijawabnya panjang lebar. Kemudian berkata kepada mereka, "Beri kesempatan kawan-kawan yang lain!" Lalu mereka keluar semuannya. Katanya, "Suruh masuk orang-orang yang hendak belajar tafsir Alquran dan takwilnya!" Maka, kuumumkan kepada orang banyak, sehingga mereka masuk pula memenuhi ruangan dan kamar-kamar. Apa yang ditanyakan mereka dijawabnya sampai mereka puas. Katanya, "Sekarang beri kesempatan pula kawan-kawan yang lain!" Saya disuruhnya keluar menyilakan orang yang hendak belajar tentang halal dan haram dan masalah-masalah fikih. Mereka pun masuk. Segala pertanyaan mereka dijawabnya panjang lebar. Setelah cukup waktunya, dia berkata pula, "Kini beri kesempatan kawan-kawan yang hendak belajar faraid dan sebagainya!" Mereka pun keluar, dan masuk pula orang-orang yang hendak belajar ilmu faraidh. Setelah selesai pelajaran faraid, disuruh masuk pula orang-orang yang hendak sastra Arab, syi'ir dan kata-kata arab yang sulit. Kemudian Ibnu Abbas membagi-bagi hari untuk beberapa macam bidang ilmu dalam beberapa hari, guna mencegah orang berdesak-desakkan di muka pintu. Umpamanya, sehari dalam seminggu untuk bidang ilmu tafsir, besok ilmu fikih, besok ilmu peperangan (sejarah peperangan Rasulullah) atau strategi perang. Sesudah itu ilmu syi'ir, sesudah itu ilmu sastra Arab. Tidak ada orang alim yang duduk dalam majelis Ibnu Abbas melainkan menundukkan diri kepadanya.

Karena kealiman dan kemahirannya dalam berbagai bidang ilmu, dia senantiasa diajak bermusyawarah oleh khalifah rasyidah (bijaksana) sekalipun dia masih muda belia. Apabila Khalifah Umar bin Khattab menghadapi suatu persoalan yang rumit, diundangnya ulama-ulama terkemuka termasuk Ibnu Abbas yang muda belia. Bila Ibnu Abbas hadir, Khalifah Umar memberikan tempat duduk yang lebih tinggi bagi Ibnu Abbas dan Khalifah sendiri duduk di tempat yang lebih rendah seraya berkata, "Anda lebih berbobot daripada kami."

Pada suatu ketika Khalifah Umar mendapat kritik karena perlakuan yang diberikannya kepada Ibnu Abbas melebihi dari ulama yang tua-tua. Maka, kata Umar, "Dia pemuda tua, dia lebih banyak belajar dan berhati tenang."

Ketika Ibnu Abbas beralih mengajar orang-orang tertentu, dia tetap tidak melupakan kewajibannya terhadap orang-orang awam. Maka, dibentuknya majelis-majelis wa'azh dan tadzkir (pendidikan dan pengajaran). Di antara pengajarannya, dia berkata kepada orang-orang yang berdoa, "Wahai orang yang berbuat dosa! Jangan sepelekan akibat-akibat perbuatan dosa itu, sebab ekornya jauh lebih gawat daripada dosa itu sendiri. Kalau engkau tidak merasa malu kepada orang lain, padahal engkau telah berbuat dosa, maka sikap tidak punya malu itu sendiri adalah juga dosa. Kegembiraanmu ketika melakukan dosa, padahal engkau tidak tahu apa yang diperbuat Allah atas dirimu adalah juga dosa. Kalau engkau sedih karena tidak dapat berbuat dosa, maka kesedihanmu itu jauh lebih dosa daripada perbuatan itu. Engkau takut kalau-kalau angin bertiup membukakan rahasiamu, tetapi engkau sendiri telah berbuat dosa tanpa takut akan Allah yang melihatmu. Maka, sikap seperti itu adalah lebih besar dosanya ketimbang perbuatan dosa itu."

"Wahai orang yang berdosa! Tahukah Anda dosa Nabi Ayyub as. Yang menyebabkannya mendapat bala (ujian) mengenai jasad dan harta bendanya? Ketahuilah, dosanya hanya karena ia tidak menolong seorang miskin yang minta pertolongannya untuk menyingkirkan kezaliman."

Ibnu Abbas tidak termasuk orang-orang yang pandai berkata tetapi tidak berbuat. Dia tidak termasuk orang yang pandai melarang tetapi tidak menghentikan. Abdullah bin Mulaikah bercerita, "Saya pernah menemani Ibnu Abbas dalam suatu perjalanan dari Mekah ke Madinah. Ketika kami berhenti di suatu tempat, dia bangun tengah malam, sementara yang lain-lain tidur karena lelah. Saya pernah pula melihatnya pada suatu malam membaca ayat ke-19 surat Qaf berkali-kali sambil menangis hingga terbit fajar. Sebagai kesimpulan, tahulah kita bahwa Ibnu Abbas yang berparas tampan itu senantiasa menangis tengah malam karena takut akan siksa Allah sehingga air mata membasahi kedua pipinya.

Ibnu Abbas sampai ke puncak ilmu yang dimilikinya. Pada suatu ketika musim haji, Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan pergi haji. Bersamaan dengan Khalifah, pergi pula Abdullah bin Abbas. Khalifah Muawiyah diiringkan oleh pasukan pengawal kerajaan. Abdullah bin Abbas diiringkan oleh murid-muridnya yang berjumlah lebih banyak daripada pengiring Khalifah.

Usia Abdullah bin Abbas mencapai tujuh puluh satu tahun. Selama itu dia telah memenuhi dunia dengan ilmu, paham, hikmah, dan takwa. Ketika dia meninggal, Muhammad bin Hanafiyah turut melakukan salat atas jenazahnya bersama-sama dengan para sahabat yang lain-lain serta para pemuka tabi'in.

Tatkala mereka menimbun jenazahnya dengan tanah, mereka mendengar sura membaca, "Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati puas lagi diridai-Nya. Masuklah ke dalam kelompok jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke surga-Ku" (Al-Fajr: 27 -- 30).

Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Indonesia

source: Halaqah Online

Tuesday, August 18, 2009

Artikel: Menjadi Kader yang Berdaya

Ketika rasulullah s.a.w menawarkan kepada para pemimpin kabilah untuk membawa dan membela dakwah, kebanyakan mereka menolak. Sebahagian mereka mengatakan: “Jika demikian, kalian akan diperangi orang-orang Arab dan bukan Arab.” Dan ada di antara mereka yang mengatakan: “Urusan ini (dakwah) adalah urusan yang dibenci oleh para penguasa.” Memang demikian adanya, bahawa dakwah akan mendapat tentangan besar dari para penentangnya sepanjang zaman. Dakwah membawa misi besar perubahan, akan melibas beragam budaya dan kebiasaan, menghancurkan kebatilan dan segala ragam perilakunya. Menentang penguasa zalim dan pendukung serta tata aturannya, menghentam Illah batil dengan perundangannya, mengharamkan industri maksiat dan menentang para pemilik dan jajaran pegawainya. Wajar jika dakwah akan mendapat serangan bertubi-tubi sepanjang zaman kerana ada kepentingan besar di sebalik perlawanan tersebut iaitu tradisi, kemuliaan dan harga diri.

Di balik tekanan dakwah yang sedemikian dahsyat, baginda sedar bahawa dakwah memerlukan lelaki kuat penopang tegaknya kebenaran. Hari-hari beliau adalah hari-hari mencari kader guna menguatkan rumah dakwah agar nyaman ditempati penghuninya. Meski beberapa tokoh dan pemuka Quraisy sudah membulatkan tekad menyatakan dokongan terhadap perjuangan baginda, namun Rasulullah s.a.w. masih merasa sangat perlu akan hadirnya tokoh besar dengan jumlah yang banyak. Setiap kabilah didatangi, setiap tokoh ditemui…akankah ada di antara mereka yang siap menjadi pahlawan besar pengawal kebenaran. Keinginan baginda akan kehadiran antara dua tokoh besar Umar bin Khattab dan Umar bin Hisyam (Abu Jahal), baginda lontarkan dalam ungkapan doanya: Ya Allah, wibawakan Islam antara dua Umar.” Namun di balik pencariannya, baginda sedar bahawa mencari kader tidak seperti mencari ikan ditambak besar, sebaliknya membahasakan kader seperti unta tunggangan (rohilah), dari seratus unta belum tentu ada satu di dalamnya.

Di salah satu rumah di Madinah, Khalifah Umar bin Khattab r.a. duduk bersama sahabatnya. Lalu bertutur: “Bercita-citalah kalian!” maka salah seorang dari mereka mengatakan: “Alangkah baiknya jika rumah ini dipenuhi dengan emas yang dapat ana infaqkan dan sedeqahkan fi sabilillah.” Lalu umar berkata lagi: “ Silakan kalian berangan-angan!” Mereka menjawab: “ Wahai Amirul Mukminin, kami tidak tahu lagi apa yang harus kami katakan.” Umar pun menjawab: “Ana merindukan para kader seperti Abu Ubaidah Al Jarrah, Mu’az bin Jabal dan Salim Maula Abu Huzaifah, untuk berjuang menegakkan kalimatullah.” Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Umar. Beliau amat mengetahui tentang faktor penunjang bagi wujudnya kemuliaan dan harga diri, modal besar penggerak bangsa yang mati dan bagi tegaknya peradaban besar yang hakiki.

Sungguh kader lebih mahal dari barang tambang, lebih kuat dari karang dan daya ledaknya lebih dahsyat dari senjata. Kehadirannya di tengah umat mampu membangunkan orang yang tidur, menyedarkan orang yang mabuk bahkan mampu menghidupkan mereka yang telah mati. Tidak perlu ribuan, ratusan atau puluhan bahkan satupun jumlah mereka telah mampu memberi roh baru bagi kehidupan umat. Imam Hasan Al Banna membahaskan kader dengan ungkapan indah: Kalian adalah roh baru yang mengalir dalam tubuh ummat.”

Ketika dakwah mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat Madinah, Rasulullah s.a.w. tidak perlu lama mencari siapa yang tepat untuk dikirim menjadi da’ie dan murabbi ke sana. Baginda tidak perlu mengirim sahabat senior sekelas Abu Bakar atau Umar Al-Khattab, tidak perlu banyak, cukup seorang iaitu Mus’ab bin Umair sebagai pembuka kota Madinah. Rasulullah s.a.w. memahami benar bahawa seluruh kadernya berdaya dan memiliki tanggungjawab yang tinggi terhadap kerja-kerja dakwah.

Ketika Khalid Al-Walid mengepung suatu tempat dalam pertempuran dahsyat, beliau meminta bantuan pasukan tambahan kepada khalifah Abu Bakar r.a. Akan tetapi sang khalifah hanya mengirim seorang lelaki sahaja iaitu Qo’qo bin Umar Attamimi r.a. seraya berkata: “Insya Allah, pasukan tidak akan kalah dengan adanya lelaki seperti dia.” Dan Khalid Al-Walid pun berkata: “Sungguh! Suara Qo’qo di tengah pasukan jauh lebih menggentarkan musuh berbanding 1000 orang tentera.” Seorang kader terkadang berbanding seratus, bahkan seribu orang. Dan kader kadang kala bandingannya adalah satu bangsa, sehingga dikatakan: Seorang kader yang punya cita-cita besar mampu menggerakkan satu bangsa.

Kader ibarat roh bagi raga atau penggerak enjin sebuah kereta. Seluruh roda kebaikan tidak akan bergerak tanpa kehadirannya. Wajar jika Rasulullah s.a.w. dan khalifah-khalifahnya selanjutnya menaruh tumpuan besar kepadanya kerana di atas pundaknya, dakwah meletakkan tanggungjawab besar iaitu tetap adanya risalah kebenaran hingga akhir zaman. Kelemahan mereka membuat tanggungjawab besar iaitu tetap adanya risalah kebenaran hingga akhir zaman. Kelemahan mereka membuat melemahnya dakwah dan melemahnya dakwah membuatkan kehidupan rosak binasa seterusnya menyebabkan umat tenggelam dalam kenistaan. Kerana sangat khuatir Umar Al-Khattab akan kelemahan dirinya sebagai kader, beliau berdoa:Ya Allah, aku berlindung paamu dari kezaliman para pendosa dan aku berlindung pada-Mu dari menjadi kader yang tidak berdaya.Kalaulah musibah tsunami mampu menenggelamkan ratusan ribu orang, maka yakinilah bahawa ketidakberdayaan kader akan mampu menenggelamkan satu bangsa. Na’udzubillah.

Kekaderan bukan diukur oleh lamanya dan panjang waktunya tarbiyah, tidak juga diukur dari tinggi rendahnya status keanggotaan, akan tetapi diukur dari sebesar apa yang sumbangan yang dapat diberikan bagi kesuburan dan kebaikan dakwah. Apalah ertinya lama tarbiyah dan kesenioran sementara di balik itu semua fatamorgana. Lebih baik menjadi kader pemula yang berdaya daripada menjadi kader ahli yang tidak berguna. Tidakkah kita belajar dari Al-Aswad, seorang budak hitam. Meskipun baru masuk Islam dan belum lagi melaksanakan solat namun beliau memperoleh syahadah kerana sumbangannya. Jelaslah bagi kita, kekaderan ditentukan oleh kerja dan karya, bukan status keanggotaan semata. Boleh jadi status keanggotaan kita terdaftar namun tidak diakui, dan boleh jadi ada orang yang tidak berdaftar menjadi anggota akan tetapi statusnya diakui. Alangkah bijaknya Imam Hasan Al-Banna dalam menetapkan keanggotan kadernya: Berapa banyak kader di tengah-tengah kami namun dia bukan bagian dari kami dan berapa banyak orang yang tidak bersama kami namun mereka adalah kader kami.

Tidak jarang dalam satu masa ada sejumlah kader yang tidak berdaya, tidak menyumbang dan tidak bekerja. Jangankan sampai tingkatan hadir dalam halaqah atau usrah yang kebaikannya akan dirasakan oleh dirinya sahaja – terasa berat. Kalau semangat membina diri saja sudah terasa berat, bagaimana semangat membina umat? Mundur malu, maju terhuyung-hayang...hidup segan, mati tak mahu…berjemaah serasa ikan masuk daratan. Jangankan lagi memikul beban dakwah justeru kehadirannya sudah membebani dakwah. Apakah dakwah akan menjadi punah kerana keadaan kadernya yang sedemikian merana ? Sungguh tidakkan pernah dakwah ini kehabisan pendukung dan pembelanya kerana dakwah ini milik Allah, maka Dia pula yang akan menjaganya. Bahkan Rasulullah s.a.w. menegaskan bahawa : “ Sesungguhnya Allah akan membangkitkan seorang mujaddid setiap seratus tahn untuk tajdid agama-Nya. ” Dan Allah pun memberikan penegasan bahawa generasi yang tidak peduli dengan urusan agamanya akan digantikan. “ Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatanya kepadamu: “ Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allah, kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu merasa puas dengan kehidupan di dunia dengan kehidupan akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, nescaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikit pun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. ” (At-Taubah: 38-39)

Akankah kita menjadi kader yang berdaya yang akan menggantikan generasi yang tidak peduli, ataukah kita menjadi kader tidak berdaya yang akan digantikan. Semua pilihan menuntut kesannya, silalah gunakan nurani dalam menilai pilihan sendiri….

Thursday, July 31, 2008

Allahyarham Ust Rahmat Abdullah dan Palestina

Ustadz Rahmat Abdullah adalah seorang guru yang perlu ditiru, pembina yang bijaksana, murabbi yang rendah hati, lahir di kampung Betawi daerah Kuningan, Jakarta Selatan, 3 Juli 1953. Putra kedua dari empat bersaudara dari pasangan Abdullah dan Siti Rahmah.

Beliau pernah menuntut ilmu di pesantren “Perguruan Islam Asy Syafi’iyah”, Bali Matraman, Jakarta Selatan, sekaligus berguru kepada pendiri pesantren Perguruan Islam tersebut, seorang ulama yang tegas dan kharismatik, KH. Abdullah Syafi’i.

Kecintaannya kepada ilmu, dunia pendidikan dan pembinaan (tarbiyah) meyebabkan beliau mengajar di almamaternya dan Darul Muqorrobin, Karet, Kuningan, Jakarta Selatan, serta membina pemuda-pemuda yang berada di sekitar rumahnya.

Guru beliau lainnya adalah Ustadz Bakir Said Abduh, lulusan perguruan tinggi Mesir, pengelola Rumah Pendidikan Islam (RPI), Kuningan Jakarta Selatan. Melalui ustadz Bakir Said Abduh, Ustadz Rahmat banyak membaca buku-buku karya ulama Al-Ikhwan Al-Muslimin, salah satunya adalah buku Da'watuna (Hasan Al-Bana) yang kemudian ia terjemahankan menjadi Dakwah Kami Kemarin dan Hari Ini (Pustaka Amanah).

Sebagai seorang Ustadz dan seorang Murabbi, beliau tidak berpikiran sempit, memiliki wawasan yang luas, memiliki perhatian dan kepedulian terhadap permasalahan dunia Islam, seperti Afghanistan, Bosnia, khususnya Palestina yang masih dijajah Zionis Israel.

Ketika masyarakat Jakarta mengikuti aksi damai “SELAMATKAN AL AQSHA”, Ahad, 17/4/2005, yang diadakan DPP PKS dan diikuti 250.000 masa.

Ustadz Rahmat Abdullah walaupun dalam keadaan sakit, beliau turut serta dan tidak mau ketinggalan untuk ambil bagian membela rakyat Palestina dan Masjid Al-Aqsha yang akan dihancurkan oleh tangan kotor Zionis Israel.
Bahkan beliau ikut long march dari bundaran HI ke Kedutan Besar AS di Jl. Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, dan melakukan orasi membangkitkan semangat kader dakwah dalam perjuangan dan membela saudaranya di Palestina yang sedang dizalimi penjajah Israel.

Di antara isi pidatonya adalah:


“Yang mati ditikam sudah banyak, yang mati kena narkoba melimpah, yang mati kebut-kebutan kecelakaan lalulintas sudah banyak. Indonesia bertanya, siapa yang mati dengan seni kematian yang paling indah? Seni kematian yang paling baik membela ajaran Allah, membela mereka yang tertindas dan teraniaya. Mungkin banyak yang ngeri dengan istilah tadi. Sekedar berjalan kaki dari HI kemari (ke depan kedubes AS) belum berarti apa-apa. Tetapi ini akan jadi sangat berarti bagi saudara-saudara kita di Paletina. Tahukah saudara-saudara sekalian?! Di tengah derita mereka, hidup bertahun-tahun ditenda dan rumah-rumah darurat, ternyata saudara-sadara kita di Palestina masih sempat mengirimkan sumbangan untuk saudara-saudara kita di Aceh (korban gempa dan Tsunami) kemarin. Karena yang bisa memahami derita adalah orang yang sama –sama menderita, oleh karena itu walaupun kita tidak dalam derita seharusnya punya kepekaan, punya kepedulian dan punya hati yang halus dan lembut untuk bisa mendengar rintihan suara anak –anak di Palestina”.

Kehadiran Ustadz Rahmat dalam Aksi Solidaritas untuk Palestina dengan tema “SELAMATKAN AL AQSHA”, Ahad, 17/4/2005 dan orasinya di depan kedubes AS, merupakan kehadiran beliau untuk yang terakhir kalinya dalam mengikuti Aksi Pembelaan untuk Palestina, karena dua bulan setelah Aksi Solidaritas tersebut tepatnya pada hari Selasa, 14 Juni 2005, beliau wafat pada usia 52 tahun, dengan meninggalkan seorang isteri dan tujuh orang anak. Jasad beliau dikuburkan di samping komplek Islamic Center IQRO’, Jati Makmur, Pondok Gede, Bekasi.

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Dan di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya)”. (QS. Al-Ahzab/33:23)

Doa Ustadz Rahmat: ”Ya ALLAH, dengan kasih sayang-Mu …Engkau kirimkan kepada kami da’i penyeru iman…Kepada nenek moyang kami penyembah berhala…Dari jauh mereka datang karena cinta mereka kepada da’wah…Berikan kami kesempatan dan kekuatan, keikhlasan dan kesabaran…Untuk menyambung risalah suci dan mulia ini kepada generasi berikut kami…Jangan jadikan kami pengkhianat yang memutuskan mata rantai kesinambungan ini…Dengan sikap malas dan enggan berda’wah…Karena takut rugi dunia dan dibenci bangsa”.

H.Ferry Nur S.Si, Sekjen KISPA

ferryn2006@yahoo.co.id

Taken from www.eramuslim.com

Sunday, June 15, 2008

Sayyid Sabiq

Tiada kata-kata yang dapat menggambarkan kesedihan umat Islam apabila seorang demi seorang ulama besar menyahut seruan Yang Esa. Bermula dengan pemergian Syeikh Syarawi, dituruti dengan kematian Mufti Kerajaan Arab Saudi, Syeikh Abdul Aziz Baz. Bahkan ketika kita sedang leka dengan millennium baru, kita dikejutkan dengan berita pemergian Syeikh Abu al-Hasan Ali an-Nadawi.

Tanggal 28 Februari 2000, giliran Syeikh Sayyid Sabiq pula pergi menyertai kafilah solihin dan ulama ‘amilin menyahut panggilan Ilahi. Beliau seorang ulama al-Azhar yang tersohor di dunia menerusi karangan fiqh yang masyhur, Fiqh Sunnah.

Jenazah beliau sempurna disolatkan oleh beribu-ribu orang di Masjid Rabiah al-Adawiyah, Madinah Nasr dengan diimami oleh Syeikh al-Azhar as-Syarief, Dr. Muhammad Sayid Tantawi. Turut mengikuti solat jenazah ialah as-Sayid Hani Wajdi yang mewakili Presiden Republik Arab Mesir, Mufti Kerajaan Mesir, Dr. Nasr Farid Wasil, Menteri Awqaf, Dr. Hamdi Zaqzuq, Presiden Parti Buruh, Ibrahim Syukri, Ketua Jabhah Ulama al-Azhar dan anggota-anggotanya, Ketua Jam’iyah Syarqiyyah, Dr. Fuad Mukhaimar. serta puluhan ulama dan pemimpin masyarakat setempat yang tidak ketinggalan memberikan penghormatan terakhir terhadap ulama besar umat ini.

Jenazah beliau kemudian dibawa ke tanah tempat kelahirannya di Markaz Bajour, Maneofiah untuk disemadikan di sana.

SEJARAH HIDUP

Syeikh Sayyid Sabiq dilahirkan pada 1915 dan mendapat pendidikan di al-Azhar. Dari situ bermulanya ikatan beliau dengan al-lkhwan al-Muslimun. Pada 1948, beliau bersama-sama al-Ikhwan al-Muslimun menyertai Perang Palestin. Akibatnya, beliau dipenjarakan di bawah tanah pada tahun 1949-1950.

Syeikh Sayyid Sabiq menceburi bidang dakwah semenjak di al-Azhar lagi. Beliau aktif dalam al-Ikhwan al-Muslimun sehingga menjadi antara orang kepercayaan Imam Hasan al-Banna, Mursyidul ‘Am al-Ikhwan al-Muslimun.

Pada 1951, beliau memulakan kerjayanya di Kementerian Awqaf Mesir. Dari situ, sinar kehebatan beliau dalam ilmu terserlah. Beliau dinaikkan pangkat hingga menjadi Wakil Kementerian Awqaf Mesir. Pada 1964, beliau berlepas ke Yaman dan kemudiannya berada di Arab Saudi untuk menjadi pensyarah di Kuliah Dakwah dan Usuluddin, Universiti Ummul-Qura selama lebih 20 tahun.

KEGIATAN DAKWAH

Syeikh Sayyid Sabiq merupakan seorang yang banyak mengembara untuk men-yampaikan dakwah. Banyak negara yang dilawatinya termasuk Indonesia, United Kingdom, negara-negara bekas Kesatuan Soviet Union dan seluruh negara Arab. Beliau meninggalkan kesan yang mendalam pada setiap negara yang diziarahinya.

Syeikh Sayyid Sabiq turut membuka kelas-kelas pengajian di rumahnya. Pada setiap hari Ahad dikhaskan untuk kaum wanita dan orang yang sudah berumahtangga. Manakala kelas untuk lelaki diadakan pada setiap hari minggu. Malam Khamis merupakan malam yang dinanti-nantikan oleh semua ahli jemaah yang bersolat Isya’ di Masjid ‘lbadur-Rahman, Akhir Mahattoh, Haiyu Sabie’ kerana pada malam itu dikhususkan untuk pengajian yang dikendalikan oleh Syeikh Sayyid Sabiq. Dalam majlis ilmu itu, beliau banyak memberi fatwa dan menjawab persoalan yang berbangkit tentang Islam. Pelajar luar negara juga tidak ketinggalan mengikuti majlis ilmu yang berkat itu walaupun Syeikh Sayyid Sabiq sering menggunakan Bahasa Arab Ammi (lahjah arab tempatan).

Antara contoh kegigihannya dalam menyampaikan dakwah, diceritakan bahawa ketika beliau berada dalam penjara, dengan berpijak di atas baldi-baldi yang telah disusun dalam bilik penjara untuk dijadikan mimbar disebabkan oleh tubuh beliau yang kecil dan kurus, beliau dengan lantang dan bersemangat menerangkan hukum fiqh dan agama terhadap tahanan-tahanan politik yang sama-sama ditangkap bersamanya. Pengawal penjara dan askar yang mengawal mereka turut mengikuti kuliah tidak rasmi beliau itu dari luar jaringan besi penjara.

CONTOH PERIBADI DAN AKHLAK

Syeikh Sayyid Sabiq merupakan seorang yang menjadi contoh dalam peribadi dan akhlak. Beliau bukan sahaja berilmu, bahkan mempunyai budi pekerti yang mulia dan pandai menjaga perhubungan yang baik sesama manusia. Sifatnya yang suka berjenaka, lemah lembut dan menghormati orang lain walaupun dengan kanak-kanak membuatkan beliau disenangi oleh segenap lapisan masyarakat.

KEILMUAN DAN KARANGAN

Syeikh Sayyid Sabiq ialah seorang ulama yang hebat dengan keilmuan dan kefahaman yang meluas tentang Islam. Ini telah dikuatkan dengan kata-kata dari Syeikh Muhammad al-Ghazali yang menyifatkan bahawa Syeikh Sayid Sabiq merupakan orang yang paling faqih pada zaman moden ini. Beliau menjadi tempat rujukan alim ulama besar termasuk Syeikh Sya’rowi.

Beliau seorang ulama yang berani mengatakan kesyumulan Islam. Ini terbukti dengan lahirnya kitabnya yang terkenal, Fiqh Sunnah. Kitab ini telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa, termasuk Bahasa Malaysia. Buah fikiran penulisan kitab ini berasal daripada Imam as-Syahid Hasan al-Banna yang telah meminta supaya beliau menyusun sebuah kitab fiqh yang sahih berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah yang mampu menyelesaikan khilaf di kalangan umat Islam dan menghilangkan sifat taksub kepada mazhab. Malah, penyusunan itu juga bertujuan untuk menghapuskan pendapat karut yang menyatakan pintu ijtihad sudah tertutup.

Ternyata setelah hampir 50 tahun Fiqh Sunnah yang menghimpunkan kira-kira tiga ribu hadis itu dikarang, ternyata kitab tu masih menerima sambutan yang luar biasa daripada umat Islam serta mendapat pengiktirafan dari ulama serata dunia sebagai antara kitab fiqh terbaik dalam zaman moden ini.Beliau turut mengarang beberapa buah kitab yang lain seperti, ‘Unsur-unsur Kekuatan Dalam Islam’, ‘Islam Kita’ dan sebuah risalah kecil mengenai riba.

ANUGERAH DAN PENGIKTIRAFAN

Sepanjang hayatnya, Syeikh Sayyid Sabiq banyak menerima anugerah dan pengiktirafan atas ketokohan dan keilmuan beliau. Kemuncaknya, beliau telah menerima Pingat Penghargaan Mesir yang dianugerahkan oleh Presiden Republik Arab Mesir, Mohammad Husni Mubarak pada 5 Mac 1 988. Manakala di peringkat antarabangsa pula, Syeikh Sayyid Sabiq telah dianugerahkan Jaaizah al-Malik Faisal al-Alamiah pada tahun 1994 dari Kerajaan Arab Saudi dalam menghargai usaha-usahanya menyebarkan dakwah Islam.

Wednesday, June 04, 2008

Temuramah Eksklusif Bersama Isteri As-Syahid Dr. Abd Aziz Rantisi

Oleh : Ummu Khair
Tarikh : 9 Oct 2004, 12:07 pm

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak sekali-kali akan bersetuju atau suka kepadamu (Wahai Muhammad) sehingga engkau menurut agama mereka (yang terpesong itu). Katakanlah (kepada mereka) Sesungguhnya petunjuk Allah (agama Islam) itulah petunjuk yang benar. Dan demi sesungguhnya jika engkau menurut kehendak hawa nafsu mereka sesudah datangnya (wahyu yang memberi) pengetahuan kepadamu (tentang kebenaran), maka tiadalah engkau akan perolehi dari Allah (sesuatupun)yang dapat mengawal dan memberi pertolongan kepadamu.

(Al-Baqarah : 120)

Kata-katanya (isteri as-Syahid) menggambarkan kesabaran yang luar biasa dan pendirian yang mengkagumkan. Sinar suara yang tiada nilaian serta tutur katanya yang lemah lembut. Apa yang lebih penting, sifat tawadu’ terhimpun pada percakapan, perbualan juga tindak-balasnya.
Kami katakana kepadanya : Sesuailah ungkapan kepada puan ( Di sebalik setiap lelaki hebat pasti ada seorang wanita). Kata beliau “ TIDAK! Demi Allah, jika ada di sana wanita yang menjadi sebab kejayaan Dr. Rantisi dan menjadi sebab sampainya matlamatnya tidak lain tidak bukan adalah ibunya yang membimbing dan mendidiknya, ibunyalah jua yang menanamkan kewibawaan, keizzahan” maka dengan kalimat inilah bermulanya dialog kami bersama Puan Rasa (Ummu Muhammad) isteri as-Syahid Dr. Abdul Aziz ar-Rantisi.

Bagaimana titik perkenalan puan dengan as-Syahid?
Saya seorang gadis yang telah tamat pendidikan menengah dan ketika itu saya bukanlah pendokong terus kepada gerakan Islam tetapi saya menyokong ke arahnya, tidak seperti sahabat-sahabat sebaya dengan saya yang menjadi pendokong terus kepada gerakan Islam. Saya sangat berkeinginan untuk menyempurnakan pengajian di universiti tetapi kedua orang tua saya membantah kerana niat saya adalah untuk ke Mesir bagi meneruskan pengajian saya. Semasa Abu Muhammad (Dr. Rantisi) masuk meminang saya, saya dapati padanya terdapat sifat-sifat yang menjadi idaman gadis-gadis, lebih-lebih lagi kerjayanya sebagai seorang doctor. Beliau tidak pernah menyakiti atau melukai saya walaupun hanya dengan satu kalimah dan beliau sentiasa menjaga kebenaran, oleh itu beliau menjadi amat istimewa di kalangan masyarakat.

Apakah cabaran, mehnah dan tribulasi yang as-Syahid hadapi?

Saya telah bersedia dengan masalah penahanannya samada pada intifadah pertama atau kedua, perkara ini pastilah amat sukar bagi saya pada permulaannya tetapi apa yang membuatkan saya teguh dan cekal ialah keimanan bahawa Allah s.w.t telah yang mentakdirkannya sebegitu. Sesungguhnya gerakan ini adalah tanggungjawab kita samada beliau bersama atau tidak. Ketika percubaan membunuh beliau pada tahun lepas, ketika itu saya sedang bekerja, saya jadi kaku dan segala kerja saya terhenti lalu saya memohon untuk pulang ke rumah. Saya yakin adalah sukar untuk sampai ke Hospital Shifa’yang dipenuhi dengan kebanyakan orang dan saya telah bersedia untuk menghadapi sebarang kemungkinan yang akan berlaku. Harus kita ketahui sesungguhnya jalan yang dilalui oleh Abu Muhammad (as-Syahid) sepanjang kehidupan jihadnya selama lebih 30 tahun adalah semata-mata mencari keredhaan Allah s.w.t. Hanya dengan itu akan tercapai kebahagian yang hakiki. Jalan ini bukanlah jalan yang dihampar dengan permaidani merah. Ia penuh dengan halangan dan pengorbanan tetapi matlamat mulia yang diimpikan menjadikan manusia itu jauh daripada rasa rendah diri dan hina dengan apa yang dibawa. Ini adalah sunnatullah dalam dakwah semenjak saidina Adam a.s. sehinggalh ke hari ini. "

Bagaimanakah metod Dr. Rantisi dalam mendidik anak-anak?

Dalam kemuncak kesibukannya, walaupun dikritik dan ditekan oleh pelbagai pihak termasuk media, sewaktu beliau di rumah jika ada sesuatu yang ingin diambil dan masuk ke bilik, apabila terlihat cucunya atau menantunya ataupun salah seorang daripada anak-anaknya maka cepat-cepat beliau tersenyum dan bertanya khabar dan keadaan mereka. Beliau amat mengambil berat walaupun perkara yang kecil kepada setiap orang yang bersamanya seperti mana telah saya jelaskan tadi bahawa beliau sangat menjaga hubungan silaturahim walaupun hanya berhubung melalui telefon. Tambahan pula beliau adalah seorang yang amat menyayangi kanak-kanak terutama cucunya yang seramai 14 orang. Anak beliau Ahmad 21 tahun, yang terlibat dalam operasi pembunuhan tersebut amat menyerupai ayahnya samada dari segi luaran mahupun dalaman. Dia bercita-cita mengikut jejak langkah bapanya. Ahmad juga seorang pemuda yang amat menjaga kesatuan bersama rakan-rakannya serta sentiasa menekankan sifat tawadu’ dan kepercayaan kepada diri.

Bagaimana penerimaan Dr. Rantisi tentang berita syahidnyarn Syeikh Yasin?

Dr. Rantisi amat terkesan dengan kesyahidan pemimpin yang juga sahabatnya. Perkara ini dapat dilihat dengan jelas ketka majlis peringatan as-Syahid Syeikh Ahmad Yasin. Saya lihat beliau menangis ketika mana disebut nama sahabat beliau itu, beliau merasakan amat berat unutk memikul tanggungjawab meneruskan perjuangan yang amat penting dan berat ini. Akhirnya, beliau bersetuju meneruskan hadaf perjuangan beliau dan para saudaranya.

Adakah Dr. Rantisi terkesan dengan operasi pembunuhan Syeikh Ahmad Yasin?

Saya teringat kata-katanya pada majlis peringatan tersebut, dia tidak menyalahkan Sharon atas tindakan biadap tersebut tetapi sebagai seorang insan seperti Syeikh Ahmad Yasin, jika beliau tidak dibunuh beliau akan tetap mati. “ Sesiapa yang tidak mati dengan mata pedang, pasti akan mati juga dengan sebab lain sebab kematian itu berbagai-bagai danrn mati itu hanyalah satu”. Saya tidak akan lupa kalimah suami saya, dan ia amat mempengaruhi diri saya katanya, “ Wahai Syeikh! Kami pasti akan menyusuli setelah pemergianmu”. Apakah wasiat Dr. Rantisi kepada puan sekeluarga sebelum pemergiannya? Sepanjang kehidupan beliau “Berjuang..Berjihad..” lebih dari 30 tahun, beliau adalah seorang mujahid “Penyuluh ke jalan Allah” samada dari segi muamalat, akhlak, jihad, ibadat, kemasyarakatan, politik dan perhubungan adalah merupakan satu wasiat yang paling besar buat kami... kami akan berpegang dengan didikan beliau, Insya-Allah.

Bagaimana penerimaan puan terhadap berita kesyahidan Dr Rantisi?

Perasaan yang sama sepertimana isteri lain kehilangan suami.. walaupun saya telah kehilangan suami tetapi saya tidak kehilangan iman dan pendirian saya tehadap Allah s.w.t, maka ini adalah suatu “fadlun” pemberian Allah s.w.t. Setelah beliau keluar dari rumah, beberapa minit kemudian saya terdengar beberapa letupan (tembakan) ketika itu, saya yakin bahawa letupan itu ditujukan kepada suami saya. Beberapa ketika kemudian saya bertambah yakin apabila mendengar radio “Suara Aqsa” pada waktu itu berkumandang azan Isya’ kemudiannya mengumumkan tembakan yang berlaku ke atas kereta beliau, beliau sendiri serta pengiringnya telah syahid. Lidah saya ketika itu mengulang-ulang kalimah Alhamdulillah kemudian saya terus berwudu’ dan mendirikan solat Isya’. Saya berdoa kepada Allah agar menetapkan pendirian saya dan anak-anak. “dan Allah s.w.t sendiri telah memberi jaminan akan memperkenankan doa hambanya apabila berdoa..”


Adakah Dr. Rantisi sendiri merasakan bahawa dirinya telah dekat dengan syahadah?

Tidak ada apa-apa tanda ke arah itu…dan persedian beliau adalah setiap saat, masa, jam dan seluruh hidupnya adalah menjadikan Rasulullah s.a.w sebagai contoh ikutan terbaik. Setiap pekerjaan yang dilakukannya dibina atas asas taqwa kepada Allah, ikhlas serta menggunakan masa dengan sebaik-baiknya…beliau mengamalkan Islam secara sempurna dan memberikan setiap yang berhak akan haknya.

Setiap para syuhada’ akan ada tanda-tanda kemuliaannya…maka apakah karamah Dr. Rantisi?

Darah as-Syahid terus mengalir keluar walaupun setelah 20 jam selepas beliau syahid, haruman kasturi menyeliputi seluruh jasad beliau. Di samping itu, kami sekeluarga merasakan bahawa Allah telah memberikan keteguhan hati dan ketabahan kepada kami selepas beliau syahid. Akhirnya, senyuman yang tergambar jelas di bibirnya…bagi saya itu adalah karamah as-Syahid.

Bagaimana kehidupan Dr. Rantisi sebagai seorang bapa, suami, datuk dan pejuang?

As-Syahid merupakan seorang berperi Islam yang unggul sesuai dengan sepotong ayat yang bermaksud : “Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadaKu” (Az-Zariyat : 56). Beliau mencontohi Rasulullah s.a.w samada dari segi akhlak, hubungan masyarakat, kekeluargaan dan perjuangannya ke semua ini pada as-Syahid adalah satu ibadah, samada mentaati ibunya, pergaulan bersama isterinya, memuliakan anak-anak, gurauan bersama cucu-cucunya dan bersikap tegas terhadap kuffar serta musuh Islam. Manakala di pejabatnya beliau bersifat tawadu’ dengan sesiapa yang bermuamalah dengannya.

Sikap atau sifat as-Syahid yang tidak akan puan lupakan?

Sepanjang kehidupan suami saya adalah sikap yang tidak dapat dilupakan selamanya. Tetapi di sana ada satu situasi yang saya ingin kongsi bersama, ketika saya sedang mengemas rumah dengan tidak sengaja televisyen yang saya angkat terjatuh dan menyebabkan ia tidak berfungsi lagi, saya rasa amat bersalah di atas peristiwa tersebut kerana selepas keluarnya Dr. Rantisi dari tahanan memang sukar untuk kami membeli barang yang baru, tanpa saya sedari begitu beliau datang kepada saya dan bertanya sebab kerisauan hati saya. Apabila saya menceritakan segalanya lantas beliau berkata,“ Tiap-tiap sesuatu ada ajalnya yang telah Allah tetapkan, apa yang dikehendakiNya maka pasti akan berlaku ” kata beliau dalam keadaan tersenyum.

Apakah saat-saat terakhir Dr. Rantisi bersama keluarga? Dan apakah kalimah terakhir as-Syahid?

Dan bagaimana keadaan diri beliau pada hari syahidnya beliau? Saat akhir hidup beliau, tidak nampak perubahan yang ketara ketika bersama kami. Beliau sentiasa memberikan setiap yang berhak itu akan haknya walaupun beliau dalam keadaan sibuk...tentang hal-hal keluarga dan perkahwinan anak kami, iaitu Ahmad yang turut terkorban bersama ayahnya, mengenai persiapan perkahwinan, tempat tinggal dan sebagainya beliau kelihatan sangat gembira. Dan kalimah terakhir ketika beliaurn bersama kami ialah..”Tuhanku masukkan aku ke syurga…inilah kemuncak impianku..”

Apakah cita-cita Dr. Rantisi?

Cita-cita beliau ialah dapat bertemu dengan Allah dalam keadaan syahid..tidak ada yang lebih dari itu.

Bagaimana kehidupan as-Syahid ketika mana mengiri kesyahidan Syeikh Ahmad Yasin?

Saya memang tidak akan menyangka bahawa hidup beliau boleh berubah kerana sesungguhnya beliau sememangnya tahu hadaf hidupnya dan jalan terakhir yang akan di laluinya iaitu jalan Istisyad (mempersiap diri untuk syahid) dan Jihad.

Apa yang ingin puan katakana kepada muslimat Palestin yang sedang menunggu giliran syahidnya suami, bapa dan anak-anak mereka?

Saudari-saudariku yang dikasihi: Sesungguhnya peranan wanita bukan sekadar yang kamu sumbangkan sekarang sahaja, bahkan peranan kita adalah bersama para lelaki dan Rasul s.a.w yang mulia telah bersabda : “ Setiap kamu adalah ketua, dan setiap ketua pasti akan dipertanggungjawabkan ke atas orang bawahannya..dan wanita itu adalah dipertanggungjawabkan di rumah suaminya dan ia akan dipersoalkan apa yang di bawahnya ”. Sesungguhnya telah terakam contoh terbaik wahai saudari-saudariku yang dikasihi di lembaran-lembaran terdahulu, maka peranan kamu setelah syahidnya suami ataupun anakmu, ialah menyempurnakan peranan kamu dalam kehidupan mereka. Semoga Allah menetapkan pendirian dan menjaga serta menghimpunkan kamu bersama siapa yang kamu sayangi di bawah paying rahmatNya. ",1]

Kalimah taujihat untuk pemerintah negara-negara Arab, pemuda-pemudi Palestin khasnya dan pemuda-pemudi Arab umumnya?

“ Dan peliharalah dirimu (dari azab yang terjadi) pada hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya “ (al-Baqarah : 281) Untuk muda-mudi ingin saya katakanrn kepada mereka: “Pulanglah kepada panduan asal kamu…kembalilah semula kepada keizzahan dan kemuliaan kamu…kembalilah kepada Islam, berpegang teguhlah dengan kitab Allah dan jadikanlah ia sebagai perlembagaan hidup.

Sumber : Suara Kampus (Edisi Shoubra) – Julai 2004 Persekutuan Melayu Republik Arab Mesir (PMRAM) http://muslimat.parti-pas.org/kolumnis_read.php?id=27

Thursday, May 22, 2008

SRIKANDI MUJAHIDAH DI TERATAK SAYYID QUTB

Sayyid Qutb adalah seorang tokoh yang amat mesra bagi mereka yang terjun ke medan dakwah. Penulisan-penulisannya menjadi panduan dan sumber inspirasi kepada para petugas Islam. Karangan beliau seperti Tafsir Fi Dhilal al-Quran dan Petunjuk Sepanjang Jalan, menjadi teman akrab pendakwah untuk menyalakan suluhan tarbiah Islam. Perjuangannya di dalam Ikhwan al-Muslimin bersama rakan-rakan seperti Hasan Hudhaibi, adalah lanjutan kepada momentum yang telah dicetuskan oleh pengasasnya al-Imam asy-Syahid Hasan al-Banna.

Namun, tidak ramai yang berpeluang mengenali kehidupan Asy-Syahid Sayyid Qutb secara mendalam. Tidak banyak maklumat yang diketengahkan kepada pembaca tentang latar belakang keluarganya yang sudah tentu memberikan kesan yang besar kepada pembentukan peribadi dan kualiti diri Asy-Syahid malah kemudiannya turut terkesan dengan ketokohan Asy-Syahid itu sendiri.

Di dalam kesempatan ini, kita akan mengambil peluang untuk mengenali tokoh srikandi yang menjadi sendi penting di dalam ketokohan Asy-Syahid Sayyid Qutb itu sendiri. Semoga ia menjadi dorongan kepada wanita muslimah hari ini untuk menggembeleng peranan dan potensi mereka ke arah produksi lebih ramai insan luar biasa seperti Asy-Syahid Sayyid Qutb di tengah-tengah gelombang cabaran akhir zaman ini.

Bonda Sayyid Qutb berasal dari sebuah keluarga yang mulia. Beliau berkahwin dengan Qutb Ibrahim, ayahanda kepada Sayyid Qutb sebagai isteri kedua, tinggal bersama-sama Qutb Ibrahim seketika di Kaherah sebelum pulang ke kampung bersama keluarganya.

Bonda Sayyid Qutb mempunyai empat adik-beradik lelaki, dua daripadanya menuntut di al-Azhar asy-Syarif. Salah seorangnya dikenali sebagai Ahmad Husain Othman yang lebih dikenali sebagai Ahmad al-Moushi, nisbah kepada perkampungan Moushah. Ketika Sayyid Qutb menuntut di Kaherah, beliau tinggal bersama bapa saudaranya ini, Ahmad al-Moushi.

Sayyid Qutb dibesarkan oleh bondanya yang memiliki kesempurnaan sifat sebagai seorang wanita yang solehah dan berjiwa kental. Beliau seorang yang pemurah dan banyak bersedekah. Beliau gemar memasakkan makanan untuk pekerja-pekerjanya di ladang serta tetamu-tetamu yang datang mengaji di rumah beliau. Bonda Sayyid Qutb tidak pernah mengganggap semua ini sebagai bebanan kerana beliau menjadikan amalan ini sebagai usahanya mendekatkan diri kepada Allah SWT. Amalan seperti ini sememangnya menjadi tradisi isteri kepada pejuang-pejuang Islam khususnya di rumah-rumah dan pondok pengajian. Bukan sahaja kesetiaan menuntut ilmu dan bekerja yang terhasil malah kesemua yang bernaung di bumbung itu terikat dengan perasaan kasih sayang yang terpercik dari sifat pemurah dan penyayang wanita solehah yang menjadi srikandinya.

Bonda Sayyid Qutb juga amat gemar mendengar bacaan al-Quran malah beliau amat mudah terkesan dengan ayat-ayat yang dibacakan itu. Hal ini dijelaskan oleh Sayyid Qutb di dalam bukunya at-Tasweer al-Fanni fi al-Qur’aan: “Setiap kali engkau asyik mendengar tilawah al-Quran dari belakang tabir oleh para Qurra’ yang datang mengaji ke rumah kita di sepanjang bulan Ramadhan, seandainya aku tercuai dan ingin bermain-main seperti kanak-kanak yang lain, engkau akan mengisyaratkan kepadaku dengan tegas sehingga aku terdiam dan turut menyertaimu mendengar bacaan itu. Dari situlah jiwaku mula meneguk irama al-Quran walaupun dengan usiaku yang masih kecil, belum mampu memahami makna bacaan itu...

Ketika aku membesar di dalam penjagaanmu, aku telah dihantar ke Madrasah Awwaliyyah di kampung. Harapan terbesarmu kepadaku adalah supaya Allah membukakan jalan kemudahan bagiku oleh Allah untuk aku menghafaz al-Quran dan direzekikan kepadaku suara yang lunak untuk membacanya. Sesungguhnya semenjak itu aku sentiasa membacakan al-Quran bagimu di setiap masa dan setiap ketika...

Kini engkau telah pergi meninggalkanku, wahai bonda tersayang. Gambaran terakhir dirimu yang sentiasa segar di ingatanku adalah samar-samar dirimu yang sering duduk di hadapan radio, mendengar keindahan bacaan-bacaan al-Quran. Amat jelas pada lekuk-lekuk wajahmu yang mulia, tanda-tanda mendalamnya ertimu terhadap makna yang tersurat lagi tersirat kalimah al-Quran itu, dengan hatimu yang agung dan perasaan halusmu yang merenung.” [ms 5, at-Taswir al-Fanni fi al-Quran, Dar ash-Shurooq, tanpa tarikh].

Sayyid adalah anak sulung lelaki beliau di samping anak-anaknya yang lain iaitu Aminah, Hamidah dan Muhammad. Wanita berjiwa besar ini telah membesarkan anaknya, Sayyid, dengan penuh ketelitian. Pada “Sayyid”lah beliau letakkan segala harapan, lantas anaknya ini dibesarkan dengan iman, kemuliaan dan latihan pendedahan memikul tanggungjawab. Malah bonda Sayyid Qutb mahukan anaknya ini menjadi dewasa lebih awal dari masa biasanya. Sayyid sentiasa ditiupkan jiwa kedewasaan sehingga beliau acapkali menjauhkan diri dari suasana kebudak-kebudakan yang mengiringi zaman kanak-kanaknya.

Sesungguhnya bonda Sayyid Qutb telah menggabungkan dua unsur penting yang membina keperibadian mujahid dan mujaddid ini. Beliau limpahkan sepenuh rasa kasih sayang dan kemanjaan seorang ibu kepada anak, tetapi kasih sayang itu disiram dengan keakraban al-Quran. Kasih sayang itu bukanlah kemanjaan yang membinasakan proses pembinaan syakhsiah jati diri anaknya kerana di dalam kemanjaan itu, bonda Sayyid Qutb membina keyakinan diri yang tinggi di dalam diri anaknya supaya membesar sebagai seorang yang berjiwa tinggi.

Bonda Sayyid Qutb kembali ke rahmatullah pada tahun 1940. Kematiannya memberikan impak yang amat besar kepada Sayyid Qutb. Ia dibayangkan menerusi ungkapan beliau di dalam tulisannya al-Atyaaf al-Arba’ah ms. 168 [oleh Sayyid Qutb dan adik beradiknya, terbitan Beirut 1967M tanpa nama penerbit]:

“Bonda...

Siapakah selepas ini yang akan menceritakan kisah zaman kanak-kanakku, seakan-akan ia suatu peristiwa yang baru semalam berlaku? Siapakah lagi yang akan membayangkan kepadaku zaman muda untuk dibawa kembali bayangannya kepada kehidupan dan diundang semula kepada alam wujud ini buat kali yang seterusnya?

Engkau telah memberikan gambaran terhadapku bahawa diriku adalah insan yang istimewa semenjak aku masih di dalam dodoian buaian kehidupan. Kau sering hikayatkan kepada diriku tentang impianmu yang lahir dengan kelahiranku, yang merangkak-rangkak terserap ke dalam jati diriku bahawa aku seorang yang mulia. Ia telah tergalas di atas diriku sebagai suatu tanggungjawab yang besar dan semua ini adalah dari tatih impianmu terhadapku dan ‘wahyu’ bisikan hatimu. Siapakah nanti yang akan membisikkan kepadaku khayalan-khayalan yang membara itu? Siapakah lagi yang akan meniupkan dorongan ke dalam hatiku..?.”

Amat benarlah bagai yang dikata pepatah: “tangan yang mengayun buaian itu bisa menggoncang dunia”. Sentuhan tarbiah tangan seorang ibu telah melahirkan seorang mujahid seperti Sayyid Qutb, yang limpahan hikmahnya terus mengalir deras ke jiwa pejuang Islam, di sepanjang zaman...

 

Text