Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Blogger Template From:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Friday, October 09, 2009

Grow Stronger...day by day

الَّذِینَ یُبَلِّغُونَ رِسَالَاتِ اللَّهِ وَیَخْشَوْنَهُ وَلَا یَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلَّا اللَّهَ وَآَفَى بِاللَّهِ حَسِيبًا

“Orang-orang yang menyampaikan risalah Tuhannya (Allah) dan takut hanya kepadanya tidak kepada lainnya, cukuplah Allah sebagai Pengira segala Amal dan makhluknya.”
( Al-Ahzab:39)

قُلْ إِنَّمَا أَعِظُكُم بِوَاحِدَةٍ أَن تَقُومُوا لِلَّهِ مَثْنَى وَفُرَادَى ثُمَّ تَتَفَكَّرُوا مَا بِصَاحِبِكُم مِّن
جِنَّةٍ إِنْ هُوَ إِلَّا نَذِیرٌ لَّكُم بَيْنَ یَدَيْ عَذَابٍ شَدِیدٍ

Katakanlah !
Hanya sebuah wasiatku kepadamu, yalah, kamu akan menghadap kepada Allah berdua-dua dan sendiri. Kemudian renungkanlah dalam-dalam. Tidak ada sifat gila pada sahabat kamu itu (Muhammad). ía hanyalah seorang pembawa peringatan buat kamu dihadapan adzab yang pedih. (Saba':46)

قُلْ مَا سَأَلْتُكُم مِّنْ أَجْرٍ فَهُوَ لَكُمْ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ وَهُوَ عَلَى آُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ ( 47
Upah yang kuharapkan dari kamu adalah buat kamu. Balasan jasa buatku terserah kepada Allah, kerana ia menyaksikan segala sesuatu. (Saba' :47)

( قُلْ جَاء الْحَقُّ وَمَا یُبْدِئُ الْبَاطِلُ وَمَا یُعِيدُ ( 49
Telah datang kebenaran, dan kebathilan tidak bisa memulai sesuatu buat mengalahkan kebenaran dan tidak bisa mengembalikannya. (Saba':49)

ENAM PEGANGAN
  1. Agama hanya akan dapat dirasakan oleh orang yang menegakkan dia dalam dirinya.
  2. Bahagia dan sa’adah hanya akan dirasakan oleh orang yang membela keyakinan, kebenaran dan keadilan.
  3. Kemenangan dan kejayaan hakiki hanya akan diberikan kepada para pejuang yang rela berkorban, kuat menahankan penderitaan dan kepapaan.
  4. Kesabaran dan ketahanan berjuang hanya akan diberikan kepada Mukmin yang mendekatkan dirinya kepada Allah s.w.t.
  5. Tegaklah dengan keyakinan dan perjuangan, kerana makna dan guna hidup terletak pada keyakinan dan perjuangan.
  6. Belajarlah menfanakan diri guna kepentingan Cita dan Agama.
Taken from: Usrah & Dakwah by HAB

Wednesday, October 07, 2009

Suara Dari Dalam Hati (7); Tajarrud (Totalitas) Dalam Kehidupan Akh Muslim

Oleh: DR. Muhammad Mahdi Akif

Penerjemah:

Abu Ahmad

________

Tajarrud merupakan jalan menuju kemenangan

Segala puji hanya milik Allah, shalawat dan salam atas Rasulullah saw beserta keluarga dan para sahabatnya dan orang-orang yang ikut bersamanya…Selanjutnya…

Bahwa jalan dakwah adalah satu, oleh karena itu, berbagai dakwah yang diserukan oleh setiap jamaah atau kelompok tidak akan meraih keberhasilan jika tidak mampu melakukan tajarrud dengan usaha membersihkan jiwa dari fikrah (ideologi) selainnya; karena dengan menguasai dakwah hanya pada akal dan perasaan mereka, maka tidak ada sesuatu apapun yang dapat membantu daiyah dalam menghadapii berbagai ujian dan rintangan di tengah jalan dakwah yang sulit kecuali tajarrud kepada Allah dan ikhlas untuk-Nya…

قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ . لا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

“Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (Al-An’am:162-163)

Dan tajarrud yang sempurna adalah tajarrud terhadap manhaj yang benar, yang bersumber pada Kitabullah dan sunnah Rasulullah saw, serta berpegang teguh kepadanya dan tidak mudah melakukan persamaan dengan yang lainnya

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya “. (Al-An’am:153)

فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِي أُوحِيَ إِلَيْكَ إِنَّكَ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus”. (Az-Zukhruf:43)

Dan nabi saw juga bersabda:

قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا، لاَ يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلاَّ هَالِكٌ

“Sungguh aku telah mewariskan kepada kalian (Hujjah) yang begitu terang, malam seperti siang, tidak menyimpang darinya setelahku kecuali akan hancur”. (Ahmad)

Dan beliau juga bersabda:

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ صلى الله عليه وسلم

“Aku telah mewariskan kepada kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh pada keduanya, Kitabullah dan sunnah Rasulullah saw”.

Dan hati Habi saw selalu bertajarrud kepada Allah dan dakwah kepada-Nya, dan bertajarrud untuk menyampaikan dakwah tersebut, kemudian setelah itu, Rasulullah saw mentarbiyah sahabatnya untuk tajarrud kepada Allah, sehingga jiwa mereka lepas dari kepentingan nisbi jiwa, dan menjadikan himmah mereka seluruhnya untuk ikhlas beribadah kepada Allah, bekerja untuk kemenangan agamanya dan menyebarkan risalahanya, maka ketika Allah SWT melihat darinya pada kondisi demikian, maka Allah SWT langsung memberikan kepada mereka ganjaran berupa kejayaan di muka bumi dan kemenangan sesuai dengan karunia-Nya.

Tajarrud merupakan salah satu rukun baiat kami

Ustadz Hasan Al-Banna berkata: Yang saya maksud dengan tajarrud adalah membersihkan fikrah Anda berbagai prinsip dan kepentingan individu lainnya; karena hal tersebut merupakan ideologi paling mulia, lengkap dan tinggi derajatnya

صِبْغَةَ اللهِ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللهِ صِبْغَةً

“Shibghah Allah dan siapakah yang lebih baik shibghah nya dari pada Allah?” (Al-Baqarah:138)

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَداً حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللهِ وَحْدَهُ إِلا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لأَبِيهِ لأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللهِ مِنْ شَيْءٍ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya Kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara Kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. kecuali Perkataan Ibrahim kepada bapaknya. “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah”. (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan Kami hanya kepada Engkaulah Kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah Kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah Kami kembali.” (Al-Mumtahanah:4)

Abul Hasan An-Nadwi dalam ceramahnya untuk Ikhwanul Muslimin berkata: “Diantara ciri khas para nabi dan para duat kepada Allah adalah tajarrud untuk berdakwah dan fokus kepada hati dan raga, jiwa dan sesuatu yang berharga, waktu dan kekuatan, dan di antara kepribadian mereka adalah fokus pada kesungguhan, keahlian dan menyerahkan segala waktu dan potensi mereka untuk dakwah ini dan menyebarkannya serta dengan berjihad di jalannya, memberikan seluruh waktunya sehingga tidak ada yang tersisa sedikitpun dari apa yang mereka miliki, tidak sedikit pun yang ditahannya dan tidak terpengaruh atasnya sedikit pun; bukan pada negara, keluarga, kelompok, hawa nafsu dan harta sehingga segala usaha mereka mendapatkan hasil yang gemilang”.

Muhammad Mahmud Showaf berkata: “Dakwah merupakan kehidupan seorang daiyah, yang mampu mengambil darinya inti dakwah dari segala perasaan dan indranya, baik pada saat ini dan masa depannya, kehidupannya bergantung pada kehidupan dakwah, kemenangannya digantungkan pada kemenangan dakwah, dan mensibghah seluruh kehidupan dengan shibghah rabbaniyah, jika berbicara dalam koridor dakwah, jika bekerja untuk dakwah, jika berjalan mengikuti perjalanan dakwah, dan jika berada di suatu tempat maka tidak berpisah darinya dan dakwah tidak lepas darinya, tidak merasa kecil dihadapannya, dan seluruh apa yang dihadirkan untuknya dari berbagai pelayanan selalu memandangnya kecil dan sederhana sesuai yang wajib dilakukan pada jihad akbar”.

Ikhwanul Muslimin ditarbiyah untuk selalu tajarrud

Sesungguhnya harakah kita yang penuh berkah ini sangat membutuhkan akan hati-hati dan jiwa-jiwa yang memiliki tajarrud yang bersambung kepada Allah, yang tidak selalu melihat pada kenikmatan dunia yang hina dan fana, tidak bekerja untuk kepentingan popularitas, atau meraih kepemimpinan, atau kebanggaan, atau ingin menjadi terkenal, tampilan yang beda dengan membusungkan dada, karena itu diantara inti yang menjadi fokus Ikhwan dalam kerja tarbiyah adalah melatih akh untuk membersihkan jiwanya dengan apa yang membuatnya enggan pada hal-hal yang rendah, kemudian meningkatkan diri untuk hidup dengan tajarrud pada risalahnya, tenteram dan siap untuk berkorban di jalannya dengan seluruh potensi yang dimiliki.

Dan oleh karena itu pula, akh yang jujur adalah seorang yang selalu semangat dalam jihadnya, tidak terikat pada aktivitas dakwahnya dan kesungguhannya dalam bekerja hanya untuk mendapatkan jabatan atau tampil sebagai pemimpin dalam dakwah; namun hatinya selalu bersih dari itu semua, tidak berlomba-lomba sedikitpun untuk menggapainya, dan atau berhenti dalam kerja jika dipindahkan pada tempat yang lain; baik yang telah maju atau sedang mengalam mundur dalam dakwah, karena dirinya merasa sebagai prajurit dakwah dalam berbagai kondisi apapun, yang siap berbakti dan memberikan yang terbaik untuknya.

Begitupun al-akh yang jujur tidak menjadikan sikap pribadi dengan salah seorang ikhwannya –bagaimanapun bentuknya- sebagai sebab untuk meninggalkan barisan, atau berpisah dan menyempal dari jalan dakwah atau melakukan penistaan kepadanya, atau menyebarkan berita bohong (dusta) dan melakukan banyak kebatilan terhadap dakwah dan pembawanya, namun dirinya akan tetap pada kondisi semula, fokus pada pemberian penjelasan akan hakikat dakwah dan memberikan gambaran yang jelas dan terang untuknya, taat padanya dan kepada para pemimpinnya, dan selalu menolak berbagai berita bohong dan dusta yang ditujukan kepadanya dan kepada mereka (pemimpin dakwah).

Dan neraca tajarrud menurut Akh Muslim adalah menuju pada kebenaran dan mendukung hakikat kebenaran, tidak membedakan antara tampaknya kebenaran pada tangannya atau pada tangan Ikhwan yang lainnya, memandang Ikhwan yang lainnya sebagai partner bukan pesaing, bersyukur jika diberikan teguran akan kesalahannya dan kekeliruannya atasnya, memberikan nasihat kepada Ikhwannya dengan adab, etika dan dhawabith-dhawabit yang sesuai dengan syariat Islam, selalu aktif dalam berdakwah, bersemangat menggapai keberhasilan risalahnya, acuh pada berbagai bentuk istidraj (penguluran waktu), sadar akan berbagai usaha yang ingin memecah belah barisan yang dilakukan oleh musuh-musuhnya.

Wahai Ikhwanul Muslimin..

Sesungguhnya fenomena pertikaian, perpecahan dan perdebatan yang dialami oleh sebagian aktivis dakwah memberikan isyarat kepada kita akan kurangnya tajarrud kepada Allah yang sebenarnya, sehingga ketika terjadi perbedaan pendapat, usaha dan perjuangan kita dan kita selalu tajarrud kepada Allah dan pada kebenaran, sehingga kami selalu menyerahkan pada dhawabith dan tsawabit yang telah kami sepakati, dan niscaya akan berkurang pertikaian, perpecahan dan perdebatan jika tajarrud kepada Allah, menerima nasihat dan kritik, baik untuk pribadi-pribadi kita, ideologi-ideologi kita atau tingkah laku kita, dan ketika kita tajarrud kepada Allah maka kita tidak akan menjadikan diri kita sebagai orbit perhatian dan orbit gerak kita, dan ketika kita tajarrud kepada Allah maka akan menjadikan jalan memberikan putusan pada orang lain sesuai dengan yang diperintahkan Allah SWT kepadanya

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertaqwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Al-Maidah:8)

Namun ketika tajarrud hilang dari kehidupan seorang muslim, maka dirinya akan diisi oleh hawa nafsu dan bangga pada diri dan pendapat sendiri, dan hal tersebut merupakan pangkal kehancuran

فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ وَاللَّهُ لا يَهْدِي القَوْمَ الفَاسِقِينَ

“Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik”. (As-Shaff:5)

أَفَمَنْ كَانَ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّهِ كَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ

“Maka Apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Rabbnya sama dengan orang yang (syaitan) menjadikan Dia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya?” (Muhammad:14)

Dalam hadits disebutkan:

ائْتَمِرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنَاهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ، حَتَّى إِذَا رَأَيْتَ شُحًّا مُطَاعًا وَهَوًى مُتَّبَعًا وَدُنْيَا مُؤْثَرَةً وَإِعْجَابَ كُلِّ ذِى رَأْيٍ بِرَأْيِهِ فَعَلَيْكَ بِخَاصَّةِ نَفْسِكَ وَدَعِ الْعَوَامَّ

“Saling memerintah lah kalian pada yang ma’ruf dan melarang akan yang mungkar, sampai jika Anda melihat seseorang yang kikir, mengikuti hawa nafsu, terpengaruh dengan dunia dan bangga dengan pendapatnya sendiri maka fokus lah diri Anda sendiri dan tinggalkan pendapatnya orang awam..” (Abu Daud dan Tirmidzi dan beliau menghasankannya)

Maka dari itu, berpegang teguhlah wahai Ikhwan pada dakwah kalian, dan teruslah berjalan pada jalan dakwah ini, tajarrudlah untuk risalah ini, dan ikhlaslah untuk Allah sebagai Tuhan kalian, dan bekerjalah kalian niscaya Allah SWT selalu bersama kalian.

Sampai juga lagi pada “suara dari dalam hati” berikutnya.. dan saya titipkan kepada Allah agama dan amanah serta akhir dari kerja kalian.

Allah Maha Besar dan segala puji hanya milik Allah.

Muhammad Mahdi Akif

Mursyid Ikhwanul Muslimin

source: http://www.al-ikhwan.net

Friday, October 02, 2009

Sabar, Kasih Sayang & Lemah Lembut

Allah Ta'ala berfirman:

"Dan orang-orang yang menahan marahnya serta memaafkan kepada orang banyak dan Allah
itu mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan." (ali-lmran: 134)

Allah Ta'ala berfirman pula:
"Berilah pengampunan, perintahlah kebaikan dan janganlah menghiraukan kepada orang-orang bodoh." (al-A'raf: 199)

Allah Ta'ala berfirman lagi:
"Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan itu.Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang
sebaik-baiknya, sehingga orang yang bermusuhan antara engkau dengan ia akan menjadi teman yang amat setia. Perbuatan sedemikian itu tidak akan diberikan kepada siapapun, selain dari orang-orang yang berhati sabar dan tidak pula diberikan melainkan kepada orang yang mempunyai keberuntungan besar." (Fushshilat: 34-35)

Allah Ta'ala juga berfirman:
"Dan niscayalah orang yang berhati sabar dan suka memaafkan, sesungguhnya bai yang
sedemikian itu adalah termasuk pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan dengan keteguhan hati." (as- Syura: 43)

630. Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda
kepada Asyaj Abdul Qais: "Sesungguhnya dalam dirimu itu ada dua macam perkara yang
dicintai oleh
Allah, yaitu sabar dan perlahan-lahan - dalam tindakan." (Riwayat Muslim)

631. Dari Aisyah radhiallahu 'anha, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Sesungguhnya Allah itu Maha Lemah-lembut dan mencintai sikap yang lemahlembut
dalam segala perkara." (Muttafaq 'alaih)

632. Dari Aisyah radhiallahu 'anha pula bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda:
"Sesungguhnya Allah itu Maha Lemah-lembut dan mencintai sikap lemah-lembut.
Allah memberikan sesuatu dengan jalan lemah-lembut, yang tidak dapat diberikan jika dicari
dengan cara kekerasan, juga sesuatu yang tidak dapat diberikan selain dengan jalan lemahlembut itu." (Riwayat Muslim)

633. Dari Aisyah radhiallahu 'anha pula bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda:
"Sesungguhnya sikap lemah-lembut itu tidak menetap dalam sesuatu perkara,
melainkan ia makin memperindah hiasan baginya dan tidak dicabut dari sesuatu perkara,
melainkan membuat cela padanya." (Riwayat Muslim)

634, Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Ada seorang A'rab -orang Arab dari daerah
pedalaman - kencing dalam masjid, lalu berdirilah orang banyak padanya dengan maksud hendak memberikan tindakan padanya. Kemudian Nabi s.a.w. bersabda: "Biarkanlah orang
itu dan di atas kencingnya itu siramkan saja setimba penuh air atau segayung yang berisi air. Karena sesungguhnya saja engkau semua itu dibangkitkan untuk memberikan
kemudahandan bukannya engkau semua itu dibangkitkan untuk memberikan kesukaran."
(Riwayat Bukhari)

Assajlu dengan fathahnya sin muhmalah dan sukunnya jim, artinya ialah timba yang
penuh berisi air, demikian pula artinya kata adzdzanub.

635. Dari Anas r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Berikanlah kemudahan dan jangan
mempersukarkan. Berilah kegembiraan dan jangan menyebabkan orang lari." (Muttafaq
'alaih)

636. Dari Jarir bin Abdullah r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Barangsiapa yang tidak dikaruniai sifat lemah-lembut, maka ia tidak dikarunia segala
macam kebaikan." (Riwayat Muslim)

637. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya ada seorang lelaki yang berkata kepada Nabi
s.a.w.: "Berikanlah wasiat padaku!" Nabi s.a.w. menjawab: "Janganlah engkau marah." Orang itu mengulang-ulangi lagi permintaan wasiatnya sampai beberapa kali, tetapi beliau s.a.w. tetap menjawab: "Janganlah engkau marah." (Riwayat Muslim)

638. Dari Abu Ya'la, yaitu Syaddad bin Aus r.a. dari Rasulullah s.a.w., sabdanya:
"Sesungguhnya Allah itu menetapkan untuk berbuat kebaikan dalam segala hal. Maka
jikalau engkau semua membunuh, maka berlaku baiklah dalam membunuh itu dan jikalau
engkau semua menyembelih, maka berlaku baguslah dalam menyembelih itu. Hendaklah
seseorang dari engkau semua itu mempertajamkan pisaunya serta memberi kelonggaran
kepada apa yang disembelihnya itu," seperti mempercepat jalannya pisau, tidak dikuliti sebelum benar-benar dingin, memberi minum sebelum disembelih dan Iain-lain. (Riwayat Muslim)

Keterangan:
Dalam Agama Islam hukuman bunuh itu juga diadakan, misalnya orang yang berzina
muhshan, yaitu dengan cara dirajam (lihat Hadis keempat belas) atau perampok yang
menghadang di jalan dengan cara dibunuh lalu disalibkan, juga seperti orang yang
bermurtad dari Agama Islam, iapun wajib dibunuh setelah dinanti-kan tiga hari untuk
disuruh bertaubat. Pembunuhannya dengan dipotong lehernya. Dalam hal hukuman bunuh
dengan pemotongan leher ini, Rasulullah s.a.w. memberikan tuntunan hendaknya dilakukan dengan sebaik-baiknya, umpama pedang yang digunakan untuk itu hendaklah yang tajam, juga jangan mengadakan siksaan yang tidak-tidak, memotong-motong anggotanya setelah mati, dijadikan tontonan dan Iain-Iain.
Mengenai hukuman rajam, yakni dilempari batu yang sedang, sampai mati untuk
orang yang berzina muhshan serta dibunuh lalu disalibkan untuk perampok, maka caranya
memang demikianlah yang ditetapkan oleh syariat. Jadi sekalipun tampaknya kurang baik
tetapi oleh sebab sudah demikian itu yang digariskan oleh syariat Islam, maka cara itu wajib tetap diikuti, sesuai dengan nash-nash yang ada.

Juga di kala menyembelih binatang untuk dimakan, hendaklah dengan cara yang
sebaik-baiknya pula, misalnya pisaunya yang tajam, disenang-senangkan dulu sebelum
disembelih dengan diberi makan minum secukupnya, dibaringkan di tempat yang rata, pisau dijalankan secepat mungkin sampai putuslah urat besar di lehernya,
jangan dikuliti dulu sampai dingin badannya, jangan pula menyembelih yang satu di
muka yang lainnya, jangan pula disembelih binatang yang menyusui sebab kasihan anaknya dan Iain-Iain lagi.

Renungkanlah betapa lengkapnya aturan-aturan dalam Agama Islam itu, sampai
menyembelihpun diberi tuntunan secukupnya.

639. Dari Aisyah radhiallahu 'anha, katanya: "Tidak pernah samasekali Rasulullah
s.a.w. itu diberi pemilihan antara dua macam perkara, melainkan beliau s.a.w. tentu
mengambil - memilih - yang termudah di antara keduanya itu, asalkan yang dianggapnya
termudah ini bukannya merupakan suatu hal yang dosa. Jikalau hal itu berupa suatu dosa, maka beliau s.a.w. adalah sejauh-jauh manusia daripadanya. Rasulullah s.a.w. juga tidak pernah samasekali membalas sesuatu yang ditujukan pada diri peribadinya, melainkan jikalau kehormatan Allah itu dilanggar, maka beliau s.a.w. pasti membalasnya semata-mata karena mengharapkan keridhaan Allah belaka." (Muttafaq 'alaih)

640. Dari Ibnu Mas'ud r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sukakah engkau
semua saya beritahu tentang siapakah orang yang diharapkan masuk neraka atau kepada
siapakah neraka itu diharamkan memakannya? Neraka itu diharamkan untuk orang yang
dekat pada orang banyak - yakni baik dalam bergaul, lemah-lembut, berhati tenang - tidak gegabah dalam menghadapi sesuatu -serta bersikap mudah - yakni gampang dimintai
pertolongan."

Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

Source: Riyadus Solihin Book 1 Chapter 74

Sunday, September 27, 2009

Knowledge About Al-Istihalah

Assalamualaikum wbt...

Aku mendapat assignment
daripada lecturer subject "Halal Food Management", yang dalam kuliah agak 'panas' dgn persoalan-persoalan drpd student. Tajuk assignment: Forbidden Animal in Islam and Istihalah in this Products. Aku cukup takut membuat assignment ini sebab belum dapat maklumat-maklumat kukuh tntg Al-Istihalah, sejauh mana ia diterima oleh ulama-ulama muktabar dalam menentukan kehalalan sesuatu produk. Takut menyebarkan maklumat yang salah. Tapi alhamdulillah, mujur lecturer, Dr. Tajul adalah seorg yg open-minded dan sentiasa menerima soalan-soalan dan buka diskusi untuk student2 nya.

Cari punya cari, terjumpa satu forum diskusi daripada Indonesia, cerita bab bactosoytone dan istihalah... Alhamdulillah. Di sini aku pastekan untuk tambahan knowledge pembaca sekalian... Bukalah minda anda untuk berfikir. Jangan menjadi manusia yg terlalu 'rigid' dan t'aasub...


_____________________

assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh

Catatan: saya tinggal di NY dan sampai saat ini masih selalu memilih makanan yang ada logo halal dan/atau logo kosher (utk non meat). Dan artikel di bawah ini hanya saya gunakan sebagai wawasan pengetahuan tanpa membuat saya menjadi taqlid.
artikel di bawah ini menerangkan konsep istihalah, perubahan materi. seperti dari wine menjadi cuka, dll.


Artikel ini ditulis oleh ulama kaliber seperti Syeikh M. Bazmool dan Syeikh Nasiruddin Albaani (salah satu muhadist terbaik abad 20). Silakan di google.

Dalam masalah fiqih akan selalu ada perbedaan dan selama perbedaan itu dilandasi dalil dan argumentasi yang kuat, maka kita patut menghargainya.

Contoh: teman-teman saya yang bermazhab hanafi menajiskan alkohol apapun bentuknya. Sedangkan kita memiliki pengertian bahwa alkohol tidak najis, yang najis adalah khamr nya.

berikut ini artikelnya:


Sh Muhammad Bazmool is a well known Scholar of fiqh from Mecca and the translation is by Moosa Richardson also a well know Canadian student of knowledge studying at the university of Hadeeth in Mecca.

Bismillahi wa salaatu wa salaamu 'alaa rasulillah,

(Taken entirely from a dars given by Sh. Muhammad Bazmool, translated by Moosa Richardson and a fatwa given by Sh. Nasiruddin al-Albaani)

Istihala is when something becomes pure. It was najis (impure) but it is now taahir (pure). A good example would be maitah (animal carcass): it is najis, but should it be burned and become ashes, or decompose and become earth, then it is taahir, it is no longer
najis. This can happen with dung or feces or whatever. Whenever something changes from one property to another, then the ruling likewise changes.

Example: Let us say that someone uses the fat of a dead animal to make soap. That fat is najis, but the chemical change that it was put through makes it taahir.

Ibn Hazm put it concisely when he said,

"Ruling upon an object is upon what it is named (what it is), if the name (what it is) changes then so does the ruling."

He also mentioned in his book of fiqh, Al-Muhalla: "If the quality of the substance of naturally impure objects changes the name which was given to it so that it is no more applicable to it and it is given a new name which is given to a pure object, so it is no more an impure thing. It becomes a new object, with a new rule."

Meaning that if the natural composition of a substance changes to another substance of a different composition, so much so that you can no longer call the new substance by the name of what it was-- ruling upon that substance changes too.

Proof/Example 1:

The companions (radyallahu anhum) used to eat a cheese that came from the land of the disbelievers. In that cheese was a part of the calf which was slaughtered by the disbelievers in a way that is not in accordance with Islaam. The companions knew this, but they also
knew that the prohibition was upon the calf, what is directly from the calf, and what could be properly called part of the calf; the ruling is not upon that which you cannot identify as part of the calf nor is it called any longer such-and-such part of the calf. This is called istihala.

Proof/Example 2:

Another proof from the Sunnah: The Prophet (sallallahu 'alayhi wa sallam) forbade making vinegar out of wine, but he said that if you should come across vinegar that has been made from wine then it is halaal.

Why?

The ruling is upon what the object is, and not what it was. Wine is haraam; vinegar is not, and before the wine became an intoxicant, it was halaal. Why? Because it was fruit before that.

Proof/Example 3:

Allah says in the Qur'an:

"And surely there is a lesson for you in the cattle we give you to drink of what is in their bellies from between the feces and blood, pure milk, wholesome to those who drink it." (16:66)

Allah is putting forth an example for us of how something pure can come from something impure.

And we can also use as proof something that we've already gone over. The Prophet (sallallahu 'alayhi wa sallam) said that when the hide of maitah (the carrion) is tanned, then it is taahir. He (sallallahu 'alayhi wa sallam) gave us a method to purify something which was first impure.

Let us examine things we are familiar with: mono and diglycerides, whey, gluten, emulsifiers, gelatin, and whatever else is on the international haraam list. These by-products sometimes come from animals, pigs even, in which case the ruling on the initial substances is that they are haraam. But the initial substances (e.g. fat, marrow, cartilage, etc.) are put through chemical change so that you no longer can even call it "pig fat" or "animal bone" or "skin" or
"cartilage", etc. because it is no longer that, hence it is taahir, it is halaal.

What is gelatin? As Oxford dictionary of science defines: "A colorless or pale yellow, water-soluble protein obtained by boiling collagen with water andevaporating the solution. It melts when water is addedand dissolves in hot water to form a solution that
sets to a gel on cooling." (page 290)

Is this a chemical change or is this not a chemical change? Is it protein any longer? No, it is not.

You are in disbelief so you ask, "But how can it be halaal when it came from something haraam?"

Because of the proofs mentioned above, the ruling is not based upon what it was, the ruling is based upon what it is. A Hanafi scholar, Ibn Abedin gave the example: "the swine which drowns in a salt lake and decomposes and becomes salt itself, is now halaal."

And other Hanafi scholars go on to say: "salt is different from meat and bones. If they become salt, they are salt."

To take the salt example further: salt consists of sodium chloride (NaCl) when together they are the halaal food known as salt, when separated they make up two poisonous substances which are then haraam for consumption.

The ahnaaf (Hanafis) also use as an example the human semen, saying that it is najis, then when it inseminates the egg and becomes a blood clot it is still najis, but when it becomes flesh it is no longer najis. And the ahnaaf are not the only ones who take this position.

The examples are numerous and they extend beyond food:
Yesterday a man was kaafir and going towards Hell, today he is Muslim, so what is the ruling upon him? It is based upon what he is today.

We must be careful when we call things haraam because it is a form of thulm (oppression) . Scholars have said that it is worse that you make something halaal to haraam rather than making something haraam to halaal. This deen Allah has made yusr (easy) let us not make
it 'usr (hard). Wallahu 'Alim.

source: http://groups.yahoo.com/group/Halal-Baik-Enak/message/9647

Saturday, September 26, 2009

Jangan Anggap Remeh Kemaksiatan... Lihatlah, kepada Siapa Anda Bermaksiat?

Dalam mengarungi bahtera kehidupan ini, kita melihat bahwa manusia terbagi menjadi dua golongan;

Golongan pertama adalah manusia… lingkungan… masyarakat yang cinta kebaikan… gemar melakukan kebajikan… suka dalam menjalani kema’rufan…

Golongan kedua adalah manusia… lingkungan… masyarakat yang cinta kejelekan… gemar melakukan keburukan… suka dalam menjalani kemunkaran, maksiat dan dosa…

Yaa… demikianlah lingkungan di sekitar kita…

Ingat…! Allah Ta’ala telah memberikan peringatan kepada kita dengan tegas nan jelas… bahwa musibah akan terjadi karena kemaksiatan yang dilakukan, tidak hanya menimpa para pelaku saja tapi akan menyeluruh kepada masyarakat sekitarnya… Allah menyatakan :

وَاتَّقُوْا فِتْنَةً لاَ تُصِيْبَنَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

“Dan takutlah kalian terhadap fitnah (musibah, petaka, bencana, siksa) yang benar-benar tidak hanya menimpa orang-orang dhalim di antara kalian secara khusus. Dan ketahuilah bahwasanya Allah Maha dahsyat siksa-Nya.” (Al-Anfal:25)

Subhanallah sungguh peringatan yang Allah berikan bukanlah sebuah omong kosong yang tak bisa terjadi… yang tak mungkin terlaksana… sungguh janji Allah adalah sebenar-benar janji dan pasti terjadi… musibah pasti akan datang silih berganti… petaka pasti akan menimpa kita punya negeri… bencana pasti akan terjadi di sana-sini… siksa Allah pasti akan meluluhlantakkan bumi pertiwi ini… bila kemunkaran dilakukan… bila maksiat dibiarkan… bila dosa diacuhkan… bila pelakunya diagungkan… bila perbuatannya didukung dan dikendalikan… sungguh musibah akan menimpa diri kita semua…

Lalu bagaimana dengan diri kita, yang mengaku para pecinta kebenaran, para pendukung kema’rufan, para penggemar kebajikan, para pelaku kebaikan… Apakah kehidupan kita sudah terlepas dari kemunkaran…? Apakah amal baik kita sudah terbebas dari dosa…? Apakah kelakuan kita sehari-hari sudah murni tanpa kesalahan dan keburukan…? Sungguh naif bila kita mengaku sebagai pasukan pembasmi kemunkaran bila justru diri kita terjerumus dalam dosa dan maksiat… Sungguh jelek bila kita mengaku cinta kema’rufan bila diri kita masih terlena dengan bujuk rayu wanita dan harta… Sungguh dhalim bila kita mengaku gemar melakukan kebajikan bila diam-diam kita menjalani kejelekan dan keburukan… atau bahkan justru kitalah yang menjadi kunci atas turunnya musibah… karena kita tahu dan berilmu tapi justru kita melanggar dan melakukan maksiat… kita tidak mengamalkan ilmu yang kita peroleh dari guru-guru kita…

Yah… memang manusia sulit untuk terlepas dari lupa dan salah… sulit bagi manusia untuk terbebas dari kejelekan dan keburukan… kecuali bagi mereka yang Allah lindungi… mereka yang diberi Rahmat oleh Allah… mereka yang senantiasa ingat kepada Allah… mereka yang selalu menjaga diri dari keburukan dan kejelekan sekecil apapun…

Sungguh indah nasehat Ulama salaf kita…

لاَ تَنْظُرْ إِلَى صِغَرِ الْخَطِيْئَةْ … وَلكِنْ اُنْظُرْ إِلَى مَنْ عَصَيْتَهْ

Janganlah engkau melihat akan kecilnya suatu kesalahan.. Akan tetapi lihatlah kepada siapa engkau bermaksiat..

Subhanallah sungguh indah nasehat ini…

Kepada kalian yang cinta kema’rufan…

Kepada kalian yang benci kemunkaran…

Semoga kehadiran nasehat ulama salaf di atas dapat menjadi renungan…

Yah…

janganlah engkau melihat akan kecilnya suatu dosa…

janganlah engkau melihat akan remehnya suatu kesalahan…

janganlah engkau melihat akan sepelenya suatu maksiat…

jangan…!!!

tapi lihatlah kepada siapa engkau bermaksiat…

Allah… Dia yang sedang engkau maksiati…

Allah… Dia yang sedang engkau durhakai…

Allah… Dzat yang telah menciptakanmu… justru engkau sedang melanggar aturan-aturannya…

Lihatlah… perhatikanlah… siapa yang sedang engkau maksiati… saudara…!

Astagfirullahal adzim min kulli dzanbil adzim…

Sudah sepantasnya bagi kita semua ya ikhwah untuk menjaga diri kita… keluarga kita… masyarakat kita… negeri kita… dari kemaksiatan, dosa, keburukan, kesalahan, dan kemunkaran…


source: www.al-ikhwan.net

 

Text