Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Blogger Template From:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Showing posts with label Dakwah. Show all posts
Showing posts with label Dakwah. Show all posts

Tuesday, October 18, 2011

INDIBATH (KOMITMEN)


www.AlHikmah.com

Penulis: Muhammad Ihsan Setiawan Ihsan (Mesir)

alhikmah.com - Hudzaifah ra berkata, Rosulullah SAW bersabda pada suatu malam di perang Khondak (Ahzab) kepada para sahabatnya : 'Siapa diantara kalian yang mau melakukan
pengintaian untuk melihat kondisi pasukan Quraisy dan koleganya kemudian kembali untuk memberitahukan kondisi mereka, maka saya akan memohon kepada Allah untuk menjadinya
teman saya di surga ?'.

Tiada satupun diantara para sahabat yang bersegera melaksanakan permintaan Rosulullah karena katakutan, kelaparan dan kedinginan yang luar biasa. Tatkala Rosulullah SAW memperhatikan tak satupun diantara para sahabatnya menyambut seruan dan jaminannya maka Rosulullah SAW memanggil saya namun saya tidak bersegera menyambut panggilan Rosulullah SAW. Kemudian Rosulullah SAW memanggil saya kembali dan bersabda :
'wahai Hudzaifah, berangkatlah dan menyusuplah di tengah pasukan musuh serta selidikilah apa yang mereka lakukan dan ingat jangan melakukan sesuatu tindakan sampai kembali kepadaku dan mengabarkan hasilnya !'. Maka saya berangkat dan menyusup ditengah-tengah musuh yang sedang mendapatkan serangan hebat berupa angin kencang dan tentara Allah lainnya.

Terdengar suara Abu Sofyan berkata : 'Wahai kaum Quraisy, setiap kalian coba tanya siapa teman disampingnya ?' maka saya segera memegang tangan laki-laki yang berada di sebelah
kanan dan kiri saya dan bertanya : ' siapa kamu ?' maka seorang diantara mereka menjawab : Mua'awiyah bin Abi Sofyan' dan lainnya menjawab : 'Amru bin 'Ash '. lalu Abu Sofyan berkata : kembalilah kalian ke Makkah karena saya akan kembali !'. Kemudian Hudzaifah melanjutkan ceritanya :

'Kalau saja tidak ada perjanjian antara saya dengan Rosulullah SAW untuk tidak melakukan sesuatu sampai datang ke Rosulullah SAW tentu aku akan membunuh Abu Sofyan dengan
panahku.'

Maka Hudzaifah ra kembali ke Rosulullah SAW dan memdapatkan beliau sedang melakukan sholat. Setelah beliau selesai menunaikan sholat maka saya kabari kondisi musuh dan apa yang mereka lakukan. Kisah ini menunjukan akan urgennya keindhibathan dan keiltizaman terhadap tugas yang dibebankan seorang Qoid (pemimpin) kepada junudnya (tanpa melakukan ijtihad) walaupun ijtihad yang dilakukan dapat memberikan suatu manfaat.

Bila kita melirik dan bertanya kepada kondisi kita apakah kita sudah indhibath terhadap segala aktivitas yang kita lakukan baik skala individu maupun jama'i ? contoh kecil
adalah masalah waktu.

Bagi setiap kader dakwah dituntut untuk indhibath dalam setiap detik dari waktu yang Allah berikan kepadanya plus waktu saudaranya. Berapa banyak bila kita menyia-yiakan waktu yang berakibat hilangnya kemaslahatan, rusak dan gagalnya suatu rencana dan target ? bahkan berapa banyak perjuangan yang hancur di kalahkan musuh karena teledor dalam pensiasatan waktu ? gagal dan lalainya seorang ikhwah/akhwat dalam pengaturan waktu dan aktivitasnya maka secara langsung ataupun tidak langsung akan mempengaruhi gerak dan perjalanan kereta dakwah.

Bukankah kita adalah satu badan, yang mana bila salah satu anggota tubuh sakit maka anggota tubuh lainnya akan merasakan sakit ?. Bukankah kita terikat dengan amal jama'i yang satu dengan lainnya saling menopang dan melengkapi ?. Kalau diperumpamakan membangun suatu bangunan maka masing-masing pekerja memiliki tugas dan peranan tersendiri.

Bila saja salah seorang pekerja kurang cermat dalam menentukan ukuran dan takaran bahan bangunan maka akan menimbulkan efek yang negatif terhadap bangunan tersebut baik cepat ataupun lambat. Terakhir ada dua buah kisah keindhibathan yang bisa kita ambil sebagai pelajaran dan motivasi untuk membentuk jati diri yang indhibath.

Suatu hari Ustadz Hasan Al-Banna dan beberapa ikhwah sepakat untuk mengadakan pertemuan di taman umum, ada diantara ikhwah yang datang lebih cepat (mubakir) beberapa saat dari janji yang disepakati dan sebagian lainnya datang tepat pada waktunya, maka imam syahid menyalami para ikhwah dengan senyuman penuh makna kecuali ikhwah yang datang lebih cepat dari waktunya dengan senyuman yang dingin sambil berkata : setiap kalian tepat waktu kecuali saudara kalian ini ...

Disini memberikan pelajaran bahwa datang lebih cepat dari waktunya disamakan dengan datang terlambat dan kedua-duanya tidak benar dan tertolak.

Dalam suatu pertemuan perdana dengan imam Hudaibi dengan beberapa ikhwah setelah beliau mengemban amanah kepemimpinan, lalu beberapa ikhwah datang kerumah beliau beberapa menit sebelum waktu yang di sepakati maka beliau tidak membukakan pintu dan membiarkan mereka menunggu didepan pintu hingga datang waktu yang disepakati, ketika waktunya tiba maka beliau menyuruh mereka masuk dan menutup pintu kembali dan tidak mengizinkan masuk kepada ikhwah yang terlambat.

Wallahua'lam bish showab.

Source: http://groups.yahoo.com/group/partai-keadilan/message/18702

Wednesday, June 29, 2011

Quote from My Fav Author...

(Resensi Buku) Delapan Mata Air Kecemerlangan

Oleh : M Anis Matta, LC
Islam datang dengan 2 pesona; pesona kebenaran yang abadi dan pesona manusia muslim yang temporal. Dan pada setiap momentum sejarah di mana kedua pesona itu bertemu, Islam selalu berada di puncak kekuatan dan kejayannya. Akan tetapi, itulah masalah Islam saat ini. Ia memang tidak akan pernah kehilangan pesona kebenarannya, karena kebenarannya bersifat abadi. Namun, ia kini masih kehilangan pesona manusianya.

Buku Delapan Mata Air Kecemerlangan ini merupakan upaya Anis Matta menjawab problematika itu. Untuk menjadikan muslim sebagai pesona Islam, maka kita harus mempertemukan manusia-manusia muslim itu dengan mata air kecemerlangannya.

Mata Air Pertama: Konsep Diri

Konsep diri adalah suatu kesadaran pribadi yang utuh, kuat, jelas, dan mendalam tentang visi dan misi hidup; pilihan jalan hidup beserta prinsip dan nilai yang membentuknya; peta potensi; kapasitas dan kompetensi diri; peran yang menjadi wilayah aktualisasi dan kontribusi; serta rencana amal dan karya unggulan. Konsep Diri menciptakan perasaan terarah dalam struktur kesadaran pribadi kita. Keterarahan adalah salah satu mata air kecemerlangan.

Konsep Diri manusia Muslim adalah kesadaran yang mempertemukan antara kehendak-kehendaknya sebagai manusia; antara model manusia Muslim yang ideal dan universal dengan kapasitas dirinya yang nyata dan unik, antara nilai-nilai Islam yang komprehensif dan integral dengan keunikan-keunikan pribadinya sebagai individu; antara ruang aksi dan kreasi yang disediakan Islam dengan kemampuan pribadinya untuk beraksi dan berkreasi; dan antara idealisme Islam dengan realitas pribadinya.

Mata Air Kedua: Cahaya Pikiran

Perubahan, perbaikan, dan pengembangan kepribadian harus selalu dimulai dari pikiran kita. Sebab, tindakan, perilaku, sikap, dan kebiasaan kita sesungguhnya ditentukan oleh pikiran-pikiran yang memenuhi benak kita. Bukan hanya itu, semua emosi atau perasaan yang kita rasakan dalam jiwa kita seperti kegembiraan dan kesedihan, kemarahan dan ketenangan, juga ditentukan oleh pikiran-pikiran kita. Kita adalah apa yang kita pikirkan.

Maka, kekuatan kepribadian kita akan terbangun saat kita mulai memikirkan pikiran-pikiran kita sendiri, memikirkan cara kita berpikir, memikirkan kemampuan berpikir kita, dan memikirkan bagaimana seharusnya kita berpikir. Benih dari setiap karya-karya besar yang kita saksikan dalam sejarah, selalu terlahir pertama kali di sana: di alam pikiran kita. Itulah ruang pertama dari semua kenyataan hidup yang telah kita saksikan.

Mata Air Ketiga: kekuatan Tekad

Tekad adalah jembatan di mana pikiran-pikiran masuk dalam wilayah fisik dan menjelma menjadi tindakan. Tekad adalah energi jiwa yang memberikan kekuatan kepada pikiran untuk merubahnya menjadi tindakan.

Pikiran tidak akan pernah berujung dengan tindakan, jika ia tidak turun dalam wilayah hati, dan berubah menjadi keyakinan dan kemauan, serta kemudian membulat menjadi tekad. Begitu ia menjelma jadi tekad, maka ia memperoleh energi yang akan merangsang dan menggerakkan tubuh untuk melakukan perintah-perintah pikiran.

Bila tekad itu kuat dan membaja, maka tubuh tidak dapat, atau tidak sanggup menolak perintah-perintah pikiran tersebut. Akan tetapi, bila tekad itu tidak terlalu kuat, maka daya rangsang dan geraknya terhadap tubuh tidak akan terlalu kuat, sehingga perintah-perintah pikiran itu tidak terlalu berwibawa bagi tubuh kita.

Maka, kekuatan dan kelemahan kepribadian seseorang sangat ditentukan oleh sebesar apa tekadnya, yang merupakan energi jiwa dalam dirinya. Tekad yang membaja akan meloloskan setiap pikiran di sleuruh prosedur kejiwaan, dan segera merubahnya menjadi tindakan.

Mata Air Keempat: Keluhuran Sifat

Pada akhirnya semua kekuatan internal –kosep diri, pikiran dan tekad- yang telah kita bangun dalam diri kita, haruslah bermuara pada munculnya sifat-sifat keluhuran. Kecemerlangan seseorang di dalam hidup sesungguhnya berasal –salah satunya- dari mata air keluhuran budi pekertinya. Dari mata air keluhuran itu, semua nilai-nilai kemanusiaan yang mulia terjalin menjadi satu kesatuan, dan menampakkan diri dalam bentuk sifat-sifat terpuji.

Sifat-sifat itulah yang akan tampak di permukaan kepribadian kita, mewakili keseluruhan pesona kekuatan kepribadian yang kita miliki, yang sebagiannya terpendam di kedalaman dasar kepribadian kita. Kekuatan pesona sifat-sifat keluhuran itu seperti sihir, yang akan menaklukkan akal dan hati orang-orang yang ada di sekitarnya, atau yang bersentuhan dengannya secara langsung.

Setiap sifat memiliki akar tersendiri yang terhunjam dalam di kedalaman pikiran dan emosi kita. Seperti juga pohon, sifat-sifat itu tersusun sedemikian rupa di mana sebagian mereka melahirkan sebagian yang lain. Ada sejumlah sifat-sifat tertentu yang berfungsi seperti akar pada pohon, yang kemudian tumbuh berkembang menjadi batang, dahan dan ranting, daun dan buah. Demikianlah kita tahu bahwa semua sifat keluhuran berakar pada lima sifat: cinta kebenaran, kesabaran, kasih sayang, kedermawanan, dan keberanian.

Mata Air Kelima: Manajemen Aset Fundamental

Obsesi-obsesi besar, pikiran-pikiran besar, dan kemauan-kemauan besar selalu membutuhkan daya dukung yang juga sarana besarnya. Salah satunya dalam bentuk pengelolaan dua aset fundamental secara baik, yaitu kesehatan dan waktu.

Fisik adalah kendaraan jiwa dan pikiran. Perintah-perintah pikiran dan kehendak-kehendak jiwa tidak akan terlaksana dengan baik, bila fisik tidak berada dalam kondisi kesehatan yang prima. Kadang-kadang, jumlah “penumpang” yang mengendarai fisik kita melebihi kapasitasnya dan membuatnya jadi oleng. Akan tetapi, perawatan yang baik akan menciptakan keseimbangan yang rasional antara muatan dan kapasitas kendaraan.

Waktu adalah kehidupan. Setiap manusia diberikan kehidupan sebagai batas masa kerja dalam jumlah yang berbeda-beda, yang kemudian kita sebut dengan umur yang terbentang dari kelahiran hingga kematian. Tidak ada manusia yang mengetahui akhir dari batas masa kerja itu, yang kemudian kita sebut ajal. Hal itu menciptakan suasana ketidakpastian, tetapi itulah aset paling berharga yang kita miliki.

Ibarat menempuh sebuah perjalanan yang panjang, fisik kita berfungsi sebagai kereta, dan waktu yang terbentang jauh atau dekat, seperti rel kereta. Seorang masinis boleh menentukan stasiun terakhir yang kita tuju, tetapi dia harus menjamin bahwa kereta yang dikemudikannya dan rel yang akan dilewatinya benar-benar berada dalam keadaan baik.

Kesehatan dan waktu adalah dua perangkat keras kehidupan yang sangat terbatas. Akan tetapi, manusia-manusia cemerlang selalu dapat meraih sesuatu secara maksimal dari semua keterbatasan yang melingkupinya.

Mata Air Keenam: Integrasi Sosial

Kemampuan beradaptasi dengan lingkungan masyarakat di mana kita berada bukan saja merupakan ukuran kematangan pribadi seseorang, tetapi lebih dari itu. Sebab, lingkungan sosial kita harus dipandang sebagai wadah kita untuk menyemai semua kebaikan yang telah kita kembangkan dalam diri.

Dengan cara pandang ini, maka setiap diri kita akan membangun hubungan sosialnya dengan semangat partisipasi: menyebarkan bunga-bunga kebaikan di taman kehidupan masyarakat kita.

Dengan semangat ini, maka semua usaha kita untuk menciptakan keharmonisan sosial menjadi niscaya. Bukan saja karena dengannya kita dapat menyebarkan kebaikan yang tersimpan dalam diri kita, tetapi juga karena kita menciptakan landasan yang kokoh untuk meraih kesuksesan, berkah kehidupan, dan kebahagiaan dalam hidup.

Jika kematangan pribadi merupakan landasan bagi kesuksesan sosial, maka kesuksesan sosial merupakan landasan bagi kesuksesan lain dalam hidup, seperti kesuksesan profesi.

Mata Air Ketujuh: Kontribusi

Kehadiran sosial kita tidak boleh berhenti pada tahap partisipasi. Harus ada langkah yang lebih jauh dari sekadar itu. Harus ada karya besar yang kita kontribusikan kepada masyarakat, yang berguna bagi kehidupan mereka; sesuatu yang akan dicatat sebagai jejak sejarah kita, dan sebagai amal unggulan yang membuat kita cukup layak mendapatkan ridha Allah SAW dan sebuah tempat terhormat dalam surga-Nya.

Kontribusi itu dapat kita berikan pada wilayah pemikiran, atau wilayah profesionalisme, atau wilayah kepemimpinan, atau wilayah finansial, atau wilayah lainnya. Namun, kontribusi apa pun yang hendak kita berikan, sebaiknya memenuhi dua syarat: memenuhi kebutuhan masyarakat kita dan dibangun dari kompetensi inti kita. Masyarakat adalah pengguna karya-karya kita, maka yang terbaik yang kita berikan kepada mereka adalah apa yang paling mereka butuhkan, dan apa yang tidak dapat dipenuhi oleh orang lain. Akan tetapi, kita tidak dapat berkarya secara maksimal di luar dari kompetensi inti kita. Karena itu, kita harus mencari titik temu diantara keudanya.

Caranya adalah sebagai berikut: buatlah peta kebutuhan kondisional masyarakat kita, dan kemudian buatlah peta potensi kita, untuk menemukan kompetensi inti diri kita. Apabila titik temu itu telah kita temukan, maka masih ada satu lagi yang harus kita lakukan; menjemput momentum sejarah untuk meledakkan potensi kita menjadi karya-karya besar yang monumental. Ini semua mengharuskan kita memiliki kesadaran yang mendalam akan tugas sejarah kita sebagai pribadi, sekaligus firasat yang tajam tentang momentum-momentum sejarah kita.

Mata Air Kedelapan: Konsistensi

Sebagai manusia beriman, kita meyakini sebuah prinsip, bahwa bagian yang paling menentukan dari seseorang adalah akhir hidupnya. Maka, persoalan paling berat yang kita hadapi sesungguhnya bukanlah mendaki gunung, tetapi bagaimana bertahan di puncak gunung itu hingga akhir hayat.

Mengukir sebuah prestasi besar dalam hidup dan mempertahankannya hingga akhir hayat, adalah dua misi dan tugas hidup yang berbeda; berbeda pada kapasitas energi jiwa yang diperlukannya, berbeda pada proses-proses psikologisnya, berbeda pula pada ukuran kesuksesannya.

Untuk dapat bertahan di puncak, kita harus menghindari jebakan-jebakan kesuksesan, seperti rasa puas yang berlebihan atau perasaan menjadi besar dengan kesuksesab yang telah kita raih. kita harus mempertahankan obsesi pada kesempurnaan pribadi, melakukan perbaikan berkesinambungan, melakukan perbaikan berkesinambungan, melakukan pertumbuhan tanpa batas akhir, dan mempertahankan semangat kerja dengan menghadirkan kerinduan abadi kepada surga dan kecemasan abadi dari neraka, serta menyempurnakan semua usaha-usaha manusiawi kita dengan berdoa kepada Allah untuk mendapatkan husnul khatimah. Semua itu agar kita menjemput takdir sejarah kita yang terhormat di bawah naungan ridha Allah SWT, dan agar kita kelak menceritakan episode panjang kepahlawanan ini kepada saudara-saudara kita di surga.

source: EduMuslim.org

Monday, May 30, 2011

Jiwa yang Berbekas

Bismillahi Walhamdulillah...

Assalamualaikum wbt...

Saya sangat terkesan dengan pemergian hamba Allah ini... Semat dalam hati, saya bercita-cita ingin mencontohinya, insyaAllah...

___________________

Ustadzah Yoyoh: Penjaga Hati Para Ummahat

Rabu, 25/05/2011 10:26 WIB | email | print

“Semoga kita mampu mengikuti jejak dan kiprah beliau dalam dakwah ini…” demikian curahan hati seorang kawanku Nurmala dalam statusnya di Facebook. Hatiku membantah, sosoknya terlalu 'sempurna', beliau begitu mampu mengerjakan apa saja yang tidak mampu dikerjakan orang lain.


Beliau mengerjakan semua pekerjaan yang dilakukan oleh lebih dari 10 orang. Terlalu jauh bagiku atau kita untuk mengejar apa yang telah dilakukan, sosoknya terlalu sempurna... Bagiku... beliau adalah... penjaga hati para ummahat.


Bila ada ummahat yang sakit hati atau disakiti, maka beliau menjadi bahu sandarannya, ucapannya penguat dan disingkirkannya semua beban persoalan lain, termasuk persoalan dirinya hanya untuk menampung masalah dakwah dan pribadi para ummahat seakan-akan masalah pribadi ummahat adalah masalah yang terpenting dan tergenting di dunia ini.


Dan hal ini mendatangkan rasa aman dan nyaman bagi para muslimah disekelilingnya. Beliau selalu siap untuk didatangi, diajak, ditelepon, di-SMS, diganggu walau malam hari sekalipun.


Terkadang, aku bingung. Kapan beliau tidur? karena handphonenya selalu siaga untuk menjawab sms yang masuk setiap waktu, walau pukul 3 pagi sekalipun. Padahal, masih teringat kuat dalam benakku, suatu ketika beliau baru pulang pukul 00.30 dini hari demi menunaikan tugas dakwah yang begitu melelahkan. Namun demikian, beliau menjawab dengan cepat ketika di sms pada pukul 3 pagi... Subhanallah... Padahal jawaban yang dinanti bisa saja dibalas di pagi hari setelah matahari datang.


Wanita yang solihah itu, yang akrab dipanggil Ummu Umar, Ustadzah Yoyoh, selalu mengutamakan diri kami, mengutamakan masalah-masalah orang lain, selalu menjaga hati kami agar tidak pecah. Hati-hati yang seringkali berdarah dan luka karena berbagai macam persoalan dan masalah. Maka hati-hati itu selalu menjadi segar seperti bunga yang disiram air mawar, kembali tumbuh dan kuat untuk menempuh apapun cobaan di dunia ini. Sungguh, kehilangan yang amat sangat.


Kadang aku heran, kepada siapa engkau mengadu ketika banyak masalah berdatangan menghampiri. Ketika kutanyakan hal itu baik-baik, dengan tegar engkau selalu mengajak kami kembali pada Allah, dan menyerahkan segalanya pada Allah. Engkau selalu tampil dimuka mendukung dan mensupport siapa saja dengan caramu yang indah, yang tidak menyinggung hati siapapun, yang selalu tersenyum walaupun disakiti, yang selalu sabar dan menganggap semua cobaan hidup ada jalannya.


Benar katamu, setiap peluru di Palestina sudah ada pasangannya masing-masing, itulah yang membuatmu tak gentar sedikit pun ketika harus berangkat ke Palestina dan mengajak kami semua kesana menyemangati para muslimah disana, menjenguk pabrik roti yang sedang kita buat, dan berbincang-bincang, dengan janji untuk menyebarkan pada siapa saja tentang perjuangan Palestina.


Batinku pagi ini, siapa yang akan menggantikan sosokmu yang begitu sempurna?


Ummahat di Palestina, begitu mereka sangat kehilangan dirimu, PASTI! Dimana mereka membutuhkan sekali kehadiranmu, LAGI dan LAGI!... Dengan semangatmu yang membara, itu semua membuat mereka bahagia. Ada banyak muslimah yang diwakili dirimu, bersedia menanggung beban dan membawa doa bagi rakyat Palestina.


Aku tahu, di MATAMU ADA CINTA yang menyorot lembut ketika berkisah mengenai dakwah dan perjuangan umat Islam dimana-mana, dari Indonesia sampai Palestina. Sosokmu demikian sempurna, hatimu begitu lembut, engkau adalah guru, kakak, murobbiyah, da’iyyah, sahabat, juga kawan perjalanan yang sudah sampai pada hari terakhir yang dijanjikan...


Allah sayang padamu dan mengetahui engkau menyimpan beban yang teramat berat dan maksimal. Tugasmu di dunia selesai sudah, dan bergembiralah menjadi salah seorang syuhada, dengan caramu, tatapanmu, dan juga semangatmu yang membekas dihati siapa saja yang pernah dekat denganmu.


Bagiku, tiada siapa yang mampu menggantikan dirimu, letakmu ada di dalam hatiku yang paling dalam, melekat erat tak tergoyahkan. Kepergianmu membuat banyak orang terhenyak, namun salah satu ciri orang soleh adalah kepergiannya membuat orang merasa sangat kehilangan, membuat orang menjadi ingin berbuat baik, membuat orang hanya ingat pada kebaikannya saja.


Selamat jalan guruku, sahabatku, murrobiyahku, naqibahku, kecintaanku, tempat dimana aku menangis, dan kau adalah ciptaan Allah yang merupakan segalanya bagiku. Sekali lagi ingin kukatakan, tempatmu ada dalam hatiku, dalam relung ujung dan dasar hatiku, takkan tergantikan oleh siapapun di dunia ini selain suamiku.


Engkau mujahidah dengan kualitas terbaik yang pernah kutemui di dunia ini.


Note : Dalam khayalku, mungkin kita akan berjumpa di sebuah pasar di surga di setiap jum’at. Dan engkau menubrukku sebagaimana engkau pernah menubrukku di depan Masjidil Haram sembilan bulan lalu dan memanggilku, ”Fiii, sama siapaaa...?” (bila harapan surgaNya kita tidak sama tingkatannya), atau “Assalamu’alaikum, ini ikan bakar dan gudeg, tolong kasih Mam Fifi yaa, buat anak-anak, bilangin (bisiknya lembut pada khadimahku), dari bu Yoyoh...” Begitu sering sekali beliau lakukan itu ketika pulang dari bepergian dakwah dan perjalanan yang jauh, memberi sesuatu yang sedap dimakan. “Untuk tetanggaku di surge,” pesannya diatas secarik kertas. Indah ungkapannya, masih terasa kuat menghujam di hati.


Potongan email Ustadzah Yoyoh sebelum beliau berangkat ke Sudan pada bulan Maret :


“Ketika mau naik pesawat saat petugas mengumumkan waktu boarding, saya menuju toilet terlebih dahulu untuk bersih-bersih dan berwudhu. Saya selalu berusaha menjaga wudhu karena saya ingin bila suatu saat saya dipanggil Allah SWT, maka saya dalam keadaan berwudhu. Kita menyadari bahwa hidup ini memang penuh misteri, kita hanya menjalankan program pilihan Allah, bukan pilihan kita. Sering kali kita membuat program detail untuk jangka pendek, menengah atau jangka panjang, baik untuk kepentingan pribadi atau kepentingan organisasi namun ternyata yang terealisir hanya beberpa persen saja dari yang kita rencanakan seperti yang dinyatakan dalam Al-Qur’an surah Luqman ayat 34,


Sesungguhnya Allah, Hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Luqman [31] : 34)


Potongan SMS Ustadzah Yoyoh pada beberapa sahabat :


Ya Rabb, aku sedang memikirkan posisiku kelak di akhirat...


Mengkaitkan aku dengan berdampingan penghulu para wanita, Khadijah Al-Qubro yang berjuang dengan harta dan jiwanya? Atau dengan Habsah binti Abu Bakar yang dibela oleh Allah saat akan dicerai karena Showwamah dan Qowwamahnya? Atau dengan Aisyah yang telah hafal 3500-an hadist, sedang aku... ehm.. 500 juga belum.. atau dengan Ummu Sulaiman yang shobiroh atau dengan asma yang mengurus kendaraan suaminya dan mencela putranya saat istirahat dari jihad... atau dengan siapa ya?


Ya Allah tolong beri kekuatan untuk mengejar amaliyah mereka.. sehingga aku layak bertemu mereka bahkan bisa berbincang dengan mereka di taman firdausmu.


“Jiwa yang bebas terbang ‘tuyuur’ (terbang dengan bebas seperti burung) untuk mentaati perintah Allah tanpa dipenjara oleh fisik dan lain-lain.” (Yoyoh Yusroh)


Source: http://www.eramuslim.com/akhwat/wanita-bicara/ustadzah-yoyoh-siapakah-penerusmu-kelak.htm

Wednesday, May 05, 2010

Jadikanlah Allah sebagai Tujuan Utama Amal Kita

oleh Syaikh Muhammad Mahdi 'Akif

Segala puji bagi Allah, Shalawat dan salam kepada Rasulullah SAW.

Pada proses kelahiran atau persalinan biasanya terdapat rasa sakit. Namun pada saat yang sama hal itu merupakan pertanda akan datangnya sebuah kabar gembira. Pertanda hadir dan lahirnya sebuah kehidupan baru.

Umat Islam beberapa tahun terakhir merasakan berbagai macam rasa sakit dan penderitaan akibat ulah Firaun zaman modern. “Sesungguhnya Fir'aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Firaun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al-Qashash: 4)

Namun janji Allah SWT pasti akan tiba yaitu mereka yang tertindas oleh kekuatan Firaun akan diberi pertolongan. “Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi, dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fir'aun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu .” (Al-Qashash: 5 - 6)

Wahai Umat Islam

Berbuatlah sesuai dengan realita. Kita memiliki modal untuk bangkit. Sikap keprajuritan adalah langkah awal kemenangan. “Atau siapakah dia yang menjadi tentara bagimu yang akan menolongmu selain daripada Allah Yang Maha Pemurah? Orang-orang kafir itu tidak lain hanyalah dalam tertipu.” (Al-Mulk: 20)

Hendaknya langkah awal kalian adalah kembali pada Allah SWT, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al-A’raf; 96)

Wahai para Pemimpin

Sesungguhnya Hari Kiamat itu akan sangat dahsyat. Masing-masing manusia akan menghadap Allah SWT. “Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.” (Maryam: 95)

Kami khawatir akan beban berat yang kalian emban. “Dan sesungguhnya mereka akan memikul beban mereka, dan beban-beban di samping beban-beban mereka sendiri, dan sesungguhnya mereka akan ditanya pada hari kiamat tentang apa yang selalu mereka ada-adakan.” (Al-Ankabut: 13). Ingatlah akan rakyat kalian yang kalian pimpin, ini adalah amanah. Jnagn sampai pada hari kimat nanti ini akan menjadi penyesalan.

Pada para Kader Ikhwan

Ingatlah selalu syiar kalian. Jadikan Allah SWT sebagai tujuan utama dalam setiap aktifitas yang dilakukan. Bukankah Allah memberikan kabar gembira bagi mereka yang berniat tulus dan berhati baik. “kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,” (Asy-Syuara: 89)

Jadikan Rasulullah saw sebagai teladan yang terus hidup dalam jiwa kalian yang akan membangkitkan semangat kalian. “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (At Taubah: 128)

Berdoalah terus untuk Al-Aqsha. Dan jadikanlah Al-Qur’an sebagai pedoman hidup kalian dan bekal dalam perjalanan juga sebagai landasan dalam bermuamalah dengan manusia yang lain.

Ingatlah bahwa siapa saja yang menginginkan kehidupan akhirat maka itu dapat diraih dengan pertolongan Al-Qur’an. Juga barang siapa yang menginginkan kehidupan dunia, maka juga dengan wasilah Al-Qur’an. Bahkan yang menginginkan kebahagiaan pada keduanya, juga dengan Al-Qur’an.

“Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu , maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mu'min bertawakkal.” (Ali Imran: 160)

(disampaikan pada Risalah Ikhwan edisi Mei 2005)

Source & edited from: www.eramuslim.com

Sunday, February 21, 2010

ISTIQOMAH

TUJUAN INTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini, peserta mampu:
1. Memahami makna istiqomah dengan benar, baik secara etimologi maupun terminologi
2. Menerapkan dan mengaplikasikan sikap dan makna istiqomah dalam ucapan dan perbuatan.
3. Bersikap positif dalam segala pemikiran, ucapan dan perbuatan serta menjauhi sikap negatif.

TITIK TEKAN MATERI

Peserta memahami bahwa sikap Istiqomah dalam setiap ucapan dan perbuatan adalah buah dari keimanan yang dalam dan pemahaman yang benar tentang nilai-nilai kebenaran, kebaikan dan keindahan Islam. Istiqomah yang dibangun di atas pondasi optimalisasi, keikhlasan dan mengikuti sunnah akan melahirkan keberanian, ketenangan dan optimisme dalam kehidupan. Karena dengan istiqomah, manusia muslim akan selalu tegar menghadapi badai kehidupan dan segala rintangan jalan dakwah. Dan diharapkan melalui materi ini, peserta mampu memahami manifestasi istiqomah dalam kehidupan seorang mukmin.

POKOK-POKOK MATERI

1. Definisi istiqomah baik secara etimologi maupun terminologi
2. Dasar dan dalil-dalil istiqomah
3. Faktor-faktor yang melahirkan istiqomah
4. Dampak dan buah istiqomah
5. Manifestasi istiqomah

MUKADIMAH

Setiap muslim yang telah berikrar bahwa Allah Rabbnya, Islam agamanya dan Muhammad rasulnya, harus senantiasa memahami arti ikrar ini dan mampu merealisasikan nilai-nilainya dalam realitas kehidupannya. Setiap dimensi kehidupannya harus terwarnai dengan nilai-nilai tersebut baik dalam kondisi aman maupun terancam. Namun dalam realitas kehidupan dan fenomena umat, kita menyadari bahwa tidak setiap orang yang memiliki pemahaman yang baik tentang Islam mampu meimplementasikan dalam seluruh sisi-sisi kehidupannya. Dan orang yang mampu mengimplementasikannya belum tentu bisa bertahan sesuai yang diharapkan Islam, yaitu komitmen dan istiqomah dalam memegang ajarannya dalam sepanjang perjalanan hidupnya.
Maka istiqomah dalam memegang tali Islam merupakan kewajiban asasi dan sebuah keniscayaan bagi hamba-hamba Allah yang menginginkan husnul khatimah dan harapan-harapan surgaNya. Rasulullah saw bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه و سلم: "قاربوا وسد د وا واعلموا أنه لن ينجو أحد منكم بعمله"، قالوا: ولا أنت يا رسول الله؟ قال: "ولا أنا إلا أن يتغمد ني الله برحمة منه وفضل" رواه مسلم
“Rasulullah saw bersabda: “Berlaku moderatlah dan beristiqomah, ketahuilah sesungguhnya tidak ada seorangpun dari kalian yang selamat dengan amalnya. Mereka bertanya: “Dan juga kamu Ya … Rasulullah, Beliau bersabda: “Dan juga aku (tidak selamat juga) hanya saja Allah swt telah meliputiku dengan rahmat dan anugerahNya.” (HR Muslim dari Abu Hurairah)

Istiqomah bukan hanya diperintahkan kepada manusia biasa saja, akan tetapi istiqomah ini juga diperintahkan kepada manusia-manusia besar sepanjang sejarah peradaban dunia, yaitu para Nabi dan Rasul. Perhatikan ayat berikut ini;

“Maka tetaplah (istiqomahlah) kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”(QS 11:112)

DEFENISI

Istiqomah adalah anonim dari thughyan (penyimpangan atau melampaui batas). Ia bisa berarti berdiri tegak di suatu tempat tanpa pernah bergeser, karena akar kata istiqomah dari kata “qooma” yang berarti berdiri. Maka secara etimologi, istiqomah berarti tegak lurus. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, istiqomah diartikan sebagai sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen.

Secara terminologi, istiqomah bisa diartikan dengan beberapa pengertian berikut ini;
-Abu Bakar As-Shiddiq ra ketika ditanya tentang istiqomah ia menjawab; bahwa istiqomah adalah kemurnian tauhid (tidak boleh menyekutukan Allah dengan apa dan siapapun)
-Umar bin Khattab ra berkata: “Istiqomah adalah komitment terhadap perintah dan larangan dan tidak boleh menipu sebagaimana tipuan musang”
-Utsman bin Affan ra berkata: “Istiqomah adalah mengikhlaskan amal kepada Allah swt”
-Ali bin Abu Thalib ra berkata: “Istiqomah adalah melaksanakan kewajiban-kewajiban”
-Al-Hasan berkata: “Istiqomah adalah melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksitan”
-Mujahid berkata: “Istiqomah adalah komitmen terhadap syahadat tauhid sampai bertemu dengan Allah swt”
-Ibnu Taimiah berkata: “Mereka beristiqomah dalam mencintai dan beribadah kepadaNya tanpa menengok kiri kanan”

Jadi muslim yang beristiqomah adalah muslim yang selalu mempertahankan keimanan dan aqidahnya dalam situasi dan kondisi apapun. Ia bak batu karang yang tegar menghadapi gempuran ombak-ombak yang datang silih berganti. Ia tidak mudah loyo atau mengalami futur dan degradasi dalam perjalanan dakwah. Ia senantiasa sabar dalam menghadapi seluruh godaan dalam medan dakwah yang diembannya. Meskipun tahapan dakwah dan tokoh sentralnya mengalami perubahan. Itulah manusia muslim yang sesungguhnya, selalu istiqomah dalam sepanjang jalan dan di seluruh tahapan-tahapan dakwah.


DALIL-DALIL DAN DASAR ISTIQOMAH

Dalam Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw banyak sekali ayat dan hadits yang berkaitan dengan masalah istiqomah di antaranya adalah;

“Maka tetaplah (istiqomahlah) kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”(QS 11:112)

Ayat ini mengisyaratkan kepada kita bahwa Rasullah dan orang-orang yang bertaubat bersamanya harus beristiqomah sebagaimana yang telah diperintahkan. Istiqomah dalam mabda (dasar atau awal pemberangkatan), minhaj dan hadaf (tujuan) yang digariskan dan tidak boleh menyimpang dari perintah-perintah ilahiah.

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu".

“Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS 41: 30-32)

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialahAllah", kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya;
sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.(QS 46:13-14)

Empat ayat diatas menggambarkan urgensi istiqomah setelah beriman dan pahala besar yang dijanjikan Allah SWT seperti hilangnya rasa takut, sirnanya kesedihan dan surga bagi hamba-hamba Allah yang senantiasa memperjuangkan nilai-nilai keimanan dalam setiap kondisi atau situasi apapun. Hal ini juga dikuatkan beberapa hadits nabi di bawah ini;
"قلت: يا رسول الله قل لي في الإسلام قولا لا أسأل عنه أحدا غيرك. قال: "قل : آمنت با لله ثم استقم" رواه مسلم
“Aku berkata: “Wahai Rasulullah katakanlah kepadaku satu perkataan dalam Islam yang aku tidak akan bertanya kepada seorangpun selain engkau. Beliau bersabda: “Katakanlah : “Aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqomahlah (jangan menyimpang).” (HR Muslim dari Abu ‘Amarah Sufyan bin Abdullah)

“Rasulullah saw bersabda: “Berlaku moderatlah dan beristiqomah, ketahuilah sesungguhnya tidak ada seorangpun dari kalian yang selamat dengan amalnya. Mereka bertanya: “Dan juga Anda Ya … Rasulullah, Beliau bersabda: “Dan juga aku (tidak selamat juga) hanya saja Allah swt telah meliputiku dengan rahmat dan anugerahNya.” (HR Muslim dari Abu Hurairah)


Selain ayat-ayat dan beberapa hadits di atas, ada beberapa pernyataan ulama tentang urgensi istiqomah sebagaimana berikut;

Sebagian orang-orang arif berkata: “Jadilah kamu orang yang memiliki istiqomah, tidak menjadi orang yang mencari karomah. Karena sesungguhnya dirimu bergerak untuk mencari karomah sementara Robbmu menuntutmu untuk beristiqomah.”

Syekh Al-Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Sebesar-besar karomah adalah memegang istiqomah.”


FAKTOR-FAKTOR YANG MELAHIRKAN ISTIQOMAH

Ibnu Qoyyim dalam “Madaarijus Salikiin” menjelaskan bahwa ada enam faktor yang mampu melahirkan istiqomah dalam jiwa seseorang sebagaimana berikut;
-Beramal dan melakukan optimalisasi

“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu dan (begitu pula) dalam (Al Qur'an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (QS 22:78)

-Berlaku moderat antara tindakan melampui batas dan menyia-nyiakan

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS 25:67)

Rasulullah saw bersabda kepada Abdullah bin Amr bin Al-Ash: “Wahai Abdullah bin Amr, sesungguhnya setiap orang yang beramal memeliki puncaknya dan setiap puncak akan menglami kefuturan (keloyoan). Maka barang siapa yang pada masa futurnya (kembali) kepada Sunnah, maka ia beruntung dan barang siapa yang pada masa futurnya (kembali) kepda bid’ah, maka ia akan merugi”(HR Imam Ahmad dari sahabat anshor)

-Tidak melampui batas yang telah digariskan ilmu pengetahuannya

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung jawaban.” (QS 17:36)

-Tidak menyandarkan pada faktor kontemporal, melainkan bersandar pada sesuatu yang jelas
-Ikhlas

“Padahal mereka tidak disuruh melainkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang
lurus.” (QS 98:5)

-Mengikuti Sunnah, Rasulullah saw bersabda: “Siapa diantara kalian yang masih hidup sesudahku maka dia pasti akan melihat perbedaan yang keras, maka hendaklah kalian mengikuti sunnahku dan sunnah para Khalifah Rasyidin (yang lurus), gigitlah ia dengan gigi taringmu.”(Abu Daud dari Al-Irbadl bin Sariah)

Imam Sufyan berkata: “Tidak diterima suatu perkataan kecuali bila ia disertai amal, dan tidaklah lurus perkataan dan amal kecuali dengan niat, dan tidaklah lurus perkataan, amal dan niat kecuali bila sesuai dengan sunnah.”

DAMPAK POSITIF DAN BUAH ISTIQOMAH

Manusia muslim yang beristiqomah dan yang selalu berkomitmen dengan nilai-nilai kebenaran Islam dalam seluruh aspek hidupnya akan merasakan dampaknya yang positif dan buahnya yang lezat sepanjang hidupnya. Adapun dampak dan buah istiqomah sebagai berikut;

a-Keberanian (Syaja’ah)

Muslim yang selalu istiqomah dalam hidupnya ia akan memiliki keberanian yang luar biasa. Ia tidak akan gentar menghadapi segala rintangan dakwah. Ia tidak akan pernah menjadi seorang pengecut dan pengkhianat dalam hutan belantara perjuangan. Selain itu jugaberbeda dengan orang yang di dalam hatinya ada penyakit nifaq yang senantiasa menimbulkan kegamangan dalam melangkah dan kekuatiran serta ketakutan dalam menghadapi rintangan-rintangan dakwah. Perhatikan firman Allah SWT dalam surat Al-Maidah ayat 52 di bawah ini;

“Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: "Kami takut akan mendapat bencana". Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.”

Dan kita bisa melihat kembali keberanian para sahabat dan para kader dakwah dalam hal ini;
-Ketika Rasulullah saw menawarkan pedang kepada para sahabat dalam perang Uhud, seketika Abu Dujanah berkata: “Aku yang akan memenuhi haknya, kemudian membawa pedang itu dan menebaskan ke kepala orang-orang musyrik.” (HR Muslim)
-Pada saat seorang sahabat mendapat jawaban dari Rasulullah saw bahwasanya ia masuk surga kalau mati terbunuh dalam medan pertempuran, maka ia tidak pernah menyia-nyiakan waktunya lagi seraya melempar kurma yang ada di genggamannya kemudian ia meluncur ke medan pertempuran dan akhirnya mendapatkan apa yang diinginkan yaitu, syahadah (mati syahid). (Muttafaqun Alaih)
-Rasulullah saw bersabda kepada Ali bin Abu Thalib setelah ia menerima bendera Islam dalam peperangan Khaibar sebagai berikut: “Jalanlah, jangan menoleh sehingga Allah SWT memberikan kemenangan kepada kamu.” Lantas Ali berjalan, kemudian berhenti sejenak dan tidak menoleh seraya bertanya dengan suara yang keras; “Ya Rasulullah atas dasar apa aku memerangi manusia?” Beliau bersabda: “Perangi mereka sampai bersaksi bahwasanya tiada Tuhan selain Allah……” (HR Muslim)

Inilah gambaran keberanian para sahabat yang lahir dari keistiqomahannya yang harus diteladani oleh generasi-generasi penerus dalam menegakkan nilai-nilai kebenaran, kebaikan dan keindahan Islam.

b-Ithmi’nan (ketenangan)

Keimanan seorang muslim yang telah sampai pada tangga kesempurnaan akan melahirkan tsabat dan istiqomah dalam medan perjuangan. Tsabat dan istiqomah sendiri akan melahirkan ketenangan, kedamaian dan kebahagian. Meskipun ia melalui rintangan dakwah yang panjang, melewati jalan terjal perjuangan dan menapak tilas lika-liku belantara hutan perjuangan. Karena ia yakin bahwa inilah jalan yang pernah ditempuh oleh hamba-hamba Allah yang agung yaitu para Nabi, Rasul, generasi terbaik setelahnya dan generasi yang bertekad membawa obor estafet dakwahnya. Perhatikan firman Allah di bawah ini;

“Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepadamusuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.”(QS 3:146)

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”(QS 6:82)

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS 13:28)

c-Tafa’ul (optimis)

Keistiqomahan yang dimiliki seorang muslim juga melahirkan sikap optimis. Ia jauh dari sikap pesimis dalam menjalani dan mengarungi lautan kehidupan. Ia senantiasa tidak pernah merasa lelah dan gelisah yang akhirnya melahirkan frustasi dalam menjalani kehidupannya. Kefuturan yang mencoba mengusik jiwa, kegalauan yang ingin mencabik jiwa mutmainnahnya dan kegelisahan yang menghantui benaknya akan terobati dengan keyakinannya kepada kehendak dan putusan-putusan ilahiah. Hal ini sebagaimana yang diisyaratkan oleh beberapa ayat di bawah ini;

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS 57:22-23)

“Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir".(QS 12: 87)

Ibrahim berkata: "Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat".(QS 15:56)

Maka dengan tiga buah istiqomah ini, seorang muslim akan selalu mendapatkan kemenangan dan merasakan kebahagiaan, baik yang ada di dunia maupun yang dijanjikan nanti di akherat kelak. Perhatikan ayat di bawah ini;

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat;di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) apa yang kamu minta.Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS 41:30-32)

Sunday, January 24, 2010

10 wasiat Hassan Al-Banna

Imam Hasan Al-Bana, pendiri gerakan dakwah Ikhwan yang terkenal ke seluruh dunia, banyak meninggalkan catatan penting pada sejarah perjuangan Islam modern. Ingat, kehadiran Imam Hasan bertepatan dengan hanya beberapa saat setelah hancurnya kekhalifan Islam yang terakhir. Tak pelak, setelah kepergian beliau, tak ada lagi figur dakwah yang bisa dijadikan acuan dalam gerakan Islam.

Setiap hari, dalam dakwahnya, ia berjalan kaki tidak kurang dari 20 KM. Beliau menyambangi desa-desa dan dilakukannya tanpa pamrih sedikitpun dari manusia. Ia duduk di warung kopi pada beberapa malam, menyatu dengan masyarakat yang sebenarnya, dan ia mampu mengingat nama orang yang baru saja ditemuinya walaupun hanya sekali, sehingga orang yang diajak bicara olehnya menjadi simpati.

Banyak warisan dari Imam Hasan yang sangat menggelorakan semangat dakwah Islam. Berikut ini beberapa di antaranya dari sekian wasiat-wasiatnya:

1. Bangunlah segera untuk melakukan sholat apabila mendengara adzan walau bagaimanapun keadaannya.

2. Baca, Telaah dan dengarkan Al-Quran atau dzikirlah kepada Allah dan janganlah engkau menghambur-hamburkan waktumu dalam masalah yang tidak ada manfaatnya.

3. Bersungguh-sungguhlah untuk bisa berbicara dalam bahasa Arab dengan fasih.

4. Jangan memperbanyak perdebatan dalam berbagai bidang pembicaraan sebab hal ini semata-mata tidak akan mendatangkan kebaikan.

5. Jangan banyak tertawa sebab hati yang selalu berkomunikasi dengan Allah (dzikir) adalah tenang dan tentram.

6. Jangan bergurau karena umat yang berjihad tidak berbuat kecuali dengan bersungguh-sungguh terus-menerus.

7. Jangan mengeraskan suara di atas suara yang diperlukan pendengar, karena hal ini akan mengganggu dan menyakiti.

8. Jauhilah dari membicarakan kejelekan orang lain atau melukainya dalam bentuk apapun dan jangan berbicara kecuali yang baik.

9. Berta’aruflah dengan saudaramu yang kalian temui walaupun dia tidak meminta, sebab prinsip dakwah kita adalah cinta dan ta’awun (kerja sama).

10. Pekerjaan rumah kita sebenarnya lebih bertumpuk dari pada waktu yang tersedia, maka manfaatkanlah waktu dan apabila kalian mempunyai sesuatu keperluan maka sederhanakanlah dan percepatlah untuk diselesaikan. (sa/berbagaisumber)

www.eramuslim.com

Sunday, November 08, 2009

Khazinatul Asrar '09

Bismillahi Walhamdulillah...

Assalamualaikum wbt..

Khazinatul Asrar? Ini adalah nama program yang dijalankan lebih kurang 2 minggu yang lalu, baru nak update...

Alhamdulillah, program ini brjalan dgn jayanya walaupun jumlah peserta tak mencapai target. Subhanallah, dalam kesempitan budget, akhirnya berlebih banyak baki akaun. Alhamdulillah.

Tahniah kepada semua yang menjayakan program ini, peserta, fasilitator, dan khasnya para urusetia yang bertungkus lumus berusaha sejak awal lagi. Ana bersyukur pada Allah atas komitmen antum. Subhanallah... semoga pengalaman ini menjadikan antum lebih matang dalam berda'wah, ameen.

Serba sedikit perkongsian pengalaman sepanjang LDK dan aktiviti yang berjalan...

Makan makanan berkhasiat... nyum..nyum.. (peria, epal hijau, tomato, limau nipis)



Nak tengok, kenela berkorban sikit! (pekena roti lada hitam, bawang putih, bawang merah, air asam jawa) =P



Memasukkan daun dalam jag air (jauhnya 1.5 meter)



Mengisi air dalam botol



Taaruf..yang kalah kene suap kek ke mulut akhawat =)


Jumpa lagi di next program, InsyaAllah...

p/s: Nantikan NEXTGCG '09...

Friday, October 09, 2009

Grow Stronger...day by day

الَّذِینَ یُبَلِّغُونَ رِسَالَاتِ اللَّهِ وَیَخْشَوْنَهُ وَلَا یَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلَّا اللَّهَ وَآَفَى بِاللَّهِ حَسِيبًا

“Orang-orang yang menyampaikan risalah Tuhannya (Allah) dan takut hanya kepadanya tidak kepada lainnya, cukuplah Allah sebagai Pengira segala Amal dan makhluknya.”
( Al-Ahzab:39)

قُلْ إِنَّمَا أَعِظُكُم بِوَاحِدَةٍ أَن تَقُومُوا لِلَّهِ مَثْنَى وَفُرَادَى ثُمَّ تَتَفَكَّرُوا مَا بِصَاحِبِكُم مِّن
جِنَّةٍ إِنْ هُوَ إِلَّا نَذِیرٌ لَّكُم بَيْنَ یَدَيْ عَذَابٍ شَدِیدٍ

Katakanlah !
Hanya sebuah wasiatku kepadamu, yalah, kamu akan menghadap kepada Allah berdua-dua dan sendiri. Kemudian renungkanlah dalam-dalam. Tidak ada sifat gila pada sahabat kamu itu (Muhammad). ía hanyalah seorang pembawa peringatan buat kamu dihadapan adzab yang pedih. (Saba':46)

قُلْ مَا سَأَلْتُكُم مِّنْ أَجْرٍ فَهُوَ لَكُمْ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ وَهُوَ عَلَى آُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ ( 47
Upah yang kuharapkan dari kamu adalah buat kamu. Balasan jasa buatku terserah kepada Allah, kerana ia menyaksikan segala sesuatu. (Saba' :47)

( قُلْ جَاء الْحَقُّ وَمَا یُبْدِئُ الْبَاطِلُ وَمَا یُعِيدُ ( 49
Telah datang kebenaran, dan kebathilan tidak bisa memulai sesuatu buat mengalahkan kebenaran dan tidak bisa mengembalikannya. (Saba':49)

ENAM PEGANGAN
  1. Agama hanya akan dapat dirasakan oleh orang yang menegakkan dia dalam dirinya.
  2. Bahagia dan sa’adah hanya akan dirasakan oleh orang yang membela keyakinan, kebenaran dan keadilan.
  3. Kemenangan dan kejayaan hakiki hanya akan diberikan kepada para pejuang yang rela berkorban, kuat menahankan penderitaan dan kepapaan.
  4. Kesabaran dan ketahanan berjuang hanya akan diberikan kepada Mukmin yang mendekatkan dirinya kepada Allah s.w.t.
  5. Tegaklah dengan keyakinan dan perjuangan, kerana makna dan guna hidup terletak pada keyakinan dan perjuangan.
  6. Belajarlah menfanakan diri guna kepentingan Cita dan Agama.
Taken from: Usrah & Dakwah by HAB

Wednesday, October 07, 2009

Suara Dari Dalam Hati (7); Tajarrud (Totalitas) Dalam Kehidupan Akh Muslim

Oleh: DR. Muhammad Mahdi Akif

Penerjemah:

Abu Ahmad

________

Tajarrud merupakan jalan menuju kemenangan

Segala puji hanya milik Allah, shalawat dan salam atas Rasulullah saw beserta keluarga dan para sahabatnya dan orang-orang yang ikut bersamanya…Selanjutnya…

Bahwa jalan dakwah adalah satu, oleh karena itu, berbagai dakwah yang diserukan oleh setiap jamaah atau kelompok tidak akan meraih keberhasilan jika tidak mampu melakukan tajarrud dengan usaha membersihkan jiwa dari fikrah (ideologi) selainnya; karena dengan menguasai dakwah hanya pada akal dan perasaan mereka, maka tidak ada sesuatu apapun yang dapat membantu daiyah dalam menghadapii berbagai ujian dan rintangan di tengah jalan dakwah yang sulit kecuali tajarrud kepada Allah dan ikhlas untuk-Nya…

قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ . لا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

“Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (Al-An’am:162-163)

Dan tajarrud yang sempurna adalah tajarrud terhadap manhaj yang benar, yang bersumber pada Kitabullah dan sunnah Rasulullah saw, serta berpegang teguh kepadanya dan tidak mudah melakukan persamaan dengan yang lainnya

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya “. (Al-An’am:153)

فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِي أُوحِيَ إِلَيْكَ إِنَّكَ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus”. (Az-Zukhruf:43)

Dan nabi saw juga bersabda:

قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا، لاَ يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلاَّ هَالِكٌ

“Sungguh aku telah mewariskan kepada kalian (Hujjah) yang begitu terang, malam seperti siang, tidak menyimpang darinya setelahku kecuali akan hancur”. (Ahmad)

Dan beliau juga bersabda:

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ صلى الله عليه وسلم

“Aku telah mewariskan kepada kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh pada keduanya, Kitabullah dan sunnah Rasulullah saw”.

Dan hati Habi saw selalu bertajarrud kepada Allah dan dakwah kepada-Nya, dan bertajarrud untuk menyampaikan dakwah tersebut, kemudian setelah itu, Rasulullah saw mentarbiyah sahabatnya untuk tajarrud kepada Allah, sehingga jiwa mereka lepas dari kepentingan nisbi jiwa, dan menjadikan himmah mereka seluruhnya untuk ikhlas beribadah kepada Allah, bekerja untuk kemenangan agamanya dan menyebarkan risalahanya, maka ketika Allah SWT melihat darinya pada kondisi demikian, maka Allah SWT langsung memberikan kepada mereka ganjaran berupa kejayaan di muka bumi dan kemenangan sesuai dengan karunia-Nya.

Tajarrud merupakan salah satu rukun baiat kami

Ustadz Hasan Al-Banna berkata: Yang saya maksud dengan tajarrud adalah membersihkan fikrah Anda berbagai prinsip dan kepentingan individu lainnya; karena hal tersebut merupakan ideologi paling mulia, lengkap dan tinggi derajatnya

صِبْغَةَ اللهِ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللهِ صِبْغَةً

“Shibghah Allah dan siapakah yang lebih baik shibghah nya dari pada Allah?” (Al-Baqarah:138)

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَداً حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللهِ وَحْدَهُ إِلا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لأَبِيهِ لأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللهِ مِنْ شَيْءٍ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya Kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara Kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. kecuali Perkataan Ibrahim kepada bapaknya. “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah”. (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan Kami hanya kepada Engkaulah Kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah Kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah Kami kembali.” (Al-Mumtahanah:4)

Abul Hasan An-Nadwi dalam ceramahnya untuk Ikhwanul Muslimin berkata: “Diantara ciri khas para nabi dan para duat kepada Allah adalah tajarrud untuk berdakwah dan fokus kepada hati dan raga, jiwa dan sesuatu yang berharga, waktu dan kekuatan, dan di antara kepribadian mereka adalah fokus pada kesungguhan, keahlian dan menyerahkan segala waktu dan potensi mereka untuk dakwah ini dan menyebarkannya serta dengan berjihad di jalannya, memberikan seluruh waktunya sehingga tidak ada yang tersisa sedikitpun dari apa yang mereka miliki, tidak sedikit pun yang ditahannya dan tidak terpengaruh atasnya sedikit pun; bukan pada negara, keluarga, kelompok, hawa nafsu dan harta sehingga segala usaha mereka mendapatkan hasil yang gemilang”.

Muhammad Mahmud Showaf berkata: “Dakwah merupakan kehidupan seorang daiyah, yang mampu mengambil darinya inti dakwah dari segala perasaan dan indranya, baik pada saat ini dan masa depannya, kehidupannya bergantung pada kehidupan dakwah, kemenangannya digantungkan pada kemenangan dakwah, dan mensibghah seluruh kehidupan dengan shibghah rabbaniyah, jika berbicara dalam koridor dakwah, jika bekerja untuk dakwah, jika berjalan mengikuti perjalanan dakwah, dan jika berada di suatu tempat maka tidak berpisah darinya dan dakwah tidak lepas darinya, tidak merasa kecil dihadapannya, dan seluruh apa yang dihadirkan untuknya dari berbagai pelayanan selalu memandangnya kecil dan sederhana sesuai yang wajib dilakukan pada jihad akbar”.

Ikhwanul Muslimin ditarbiyah untuk selalu tajarrud

Sesungguhnya harakah kita yang penuh berkah ini sangat membutuhkan akan hati-hati dan jiwa-jiwa yang memiliki tajarrud yang bersambung kepada Allah, yang tidak selalu melihat pada kenikmatan dunia yang hina dan fana, tidak bekerja untuk kepentingan popularitas, atau meraih kepemimpinan, atau kebanggaan, atau ingin menjadi terkenal, tampilan yang beda dengan membusungkan dada, karena itu diantara inti yang menjadi fokus Ikhwan dalam kerja tarbiyah adalah melatih akh untuk membersihkan jiwanya dengan apa yang membuatnya enggan pada hal-hal yang rendah, kemudian meningkatkan diri untuk hidup dengan tajarrud pada risalahnya, tenteram dan siap untuk berkorban di jalannya dengan seluruh potensi yang dimiliki.

Dan oleh karena itu pula, akh yang jujur adalah seorang yang selalu semangat dalam jihadnya, tidak terikat pada aktivitas dakwahnya dan kesungguhannya dalam bekerja hanya untuk mendapatkan jabatan atau tampil sebagai pemimpin dalam dakwah; namun hatinya selalu bersih dari itu semua, tidak berlomba-lomba sedikitpun untuk menggapainya, dan atau berhenti dalam kerja jika dipindahkan pada tempat yang lain; baik yang telah maju atau sedang mengalam mundur dalam dakwah, karena dirinya merasa sebagai prajurit dakwah dalam berbagai kondisi apapun, yang siap berbakti dan memberikan yang terbaik untuknya.

Begitupun al-akh yang jujur tidak menjadikan sikap pribadi dengan salah seorang ikhwannya –bagaimanapun bentuknya- sebagai sebab untuk meninggalkan barisan, atau berpisah dan menyempal dari jalan dakwah atau melakukan penistaan kepadanya, atau menyebarkan berita bohong (dusta) dan melakukan banyak kebatilan terhadap dakwah dan pembawanya, namun dirinya akan tetap pada kondisi semula, fokus pada pemberian penjelasan akan hakikat dakwah dan memberikan gambaran yang jelas dan terang untuknya, taat padanya dan kepada para pemimpinnya, dan selalu menolak berbagai berita bohong dan dusta yang ditujukan kepadanya dan kepada mereka (pemimpin dakwah).

Dan neraca tajarrud menurut Akh Muslim adalah menuju pada kebenaran dan mendukung hakikat kebenaran, tidak membedakan antara tampaknya kebenaran pada tangannya atau pada tangan Ikhwan yang lainnya, memandang Ikhwan yang lainnya sebagai partner bukan pesaing, bersyukur jika diberikan teguran akan kesalahannya dan kekeliruannya atasnya, memberikan nasihat kepada Ikhwannya dengan adab, etika dan dhawabith-dhawabit yang sesuai dengan syariat Islam, selalu aktif dalam berdakwah, bersemangat menggapai keberhasilan risalahnya, acuh pada berbagai bentuk istidraj (penguluran waktu), sadar akan berbagai usaha yang ingin memecah belah barisan yang dilakukan oleh musuh-musuhnya.

Wahai Ikhwanul Muslimin..

Sesungguhnya fenomena pertikaian, perpecahan dan perdebatan yang dialami oleh sebagian aktivis dakwah memberikan isyarat kepada kita akan kurangnya tajarrud kepada Allah yang sebenarnya, sehingga ketika terjadi perbedaan pendapat, usaha dan perjuangan kita dan kita selalu tajarrud kepada Allah dan pada kebenaran, sehingga kami selalu menyerahkan pada dhawabith dan tsawabit yang telah kami sepakati, dan niscaya akan berkurang pertikaian, perpecahan dan perdebatan jika tajarrud kepada Allah, menerima nasihat dan kritik, baik untuk pribadi-pribadi kita, ideologi-ideologi kita atau tingkah laku kita, dan ketika kita tajarrud kepada Allah maka kita tidak akan menjadikan diri kita sebagai orbit perhatian dan orbit gerak kita, dan ketika kita tajarrud kepada Allah maka akan menjadikan jalan memberikan putusan pada orang lain sesuai dengan yang diperintahkan Allah SWT kepadanya

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertaqwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Al-Maidah:8)

Namun ketika tajarrud hilang dari kehidupan seorang muslim, maka dirinya akan diisi oleh hawa nafsu dan bangga pada diri dan pendapat sendiri, dan hal tersebut merupakan pangkal kehancuran

فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ وَاللَّهُ لا يَهْدِي القَوْمَ الفَاسِقِينَ

“Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik”. (As-Shaff:5)

أَفَمَنْ كَانَ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّهِ كَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ

“Maka Apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Rabbnya sama dengan orang yang (syaitan) menjadikan Dia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya?” (Muhammad:14)

Dalam hadits disebutkan:

ائْتَمِرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنَاهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ، حَتَّى إِذَا رَأَيْتَ شُحًّا مُطَاعًا وَهَوًى مُتَّبَعًا وَدُنْيَا مُؤْثَرَةً وَإِعْجَابَ كُلِّ ذِى رَأْيٍ بِرَأْيِهِ فَعَلَيْكَ بِخَاصَّةِ نَفْسِكَ وَدَعِ الْعَوَامَّ

“Saling memerintah lah kalian pada yang ma’ruf dan melarang akan yang mungkar, sampai jika Anda melihat seseorang yang kikir, mengikuti hawa nafsu, terpengaruh dengan dunia dan bangga dengan pendapatnya sendiri maka fokus lah diri Anda sendiri dan tinggalkan pendapatnya orang awam..” (Abu Daud dan Tirmidzi dan beliau menghasankannya)

Maka dari itu, berpegang teguhlah wahai Ikhwan pada dakwah kalian, dan teruslah berjalan pada jalan dakwah ini, tajarrudlah untuk risalah ini, dan ikhlaslah untuk Allah sebagai Tuhan kalian, dan bekerjalah kalian niscaya Allah SWT selalu bersama kalian.

Sampai juga lagi pada “suara dari dalam hati” berikutnya.. dan saya titipkan kepada Allah agama dan amanah serta akhir dari kerja kalian.

Allah Maha Besar dan segala puji hanya milik Allah.

Muhammad Mahdi Akif

Mursyid Ikhwanul Muslimin

source: http://www.al-ikhwan.net

Friday, October 02, 2009

Sabar, Kasih Sayang & Lemah Lembut

Allah Ta'ala berfirman:

"Dan orang-orang yang menahan marahnya serta memaafkan kepada orang banyak dan Allah
itu mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan." (ali-lmran: 134)

Allah Ta'ala berfirman pula:
"Berilah pengampunan, perintahlah kebaikan dan janganlah menghiraukan kepada orang-orang bodoh." (al-A'raf: 199)

Allah Ta'ala berfirman lagi:
"Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan itu.Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang
sebaik-baiknya, sehingga orang yang bermusuhan antara engkau dengan ia akan menjadi teman yang amat setia. Perbuatan sedemikian itu tidak akan diberikan kepada siapapun, selain dari orang-orang yang berhati sabar dan tidak pula diberikan melainkan kepada orang yang mempunyai keberuntungan besar." (Fushshilat: 34-35)

Allah Ta'ala juga berfirman:
"Dan niscayalah orang yang berhati sabar dan suka memaafkan, sesungguhnya bai yang
sedemikian itu adalah termasuk pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan dengan keteguhan hati." (as- Syura: 43)

630. Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda
kepada Asyaj Abdul Qais: "Sesungguhnya dalam dirimu itu ada dua macam perkara yang
dicintai oleh
Allah, yaitu sabar dan perlahan-lahan - dalam tindakan." (Riwayat Muslim)

631. Dari Aisyah radhiallahu 'anha, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Sesungguhnya Allah itu Maha Lemah-lembut dan mencintai sikap yang lemahlembut
dalam segala perkara." (Muttafaq 'alaih)

632. Dari Aisyah radhiallahu 'anha pula bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda:
"Sesungguhnya Allah itu Maha Lemah-lembut dan mencintai sikap lemah-lembut.
Allah memberikan sesuatu dengan jalan lemah-lembut, yang tidak dapat diberikan jika dicari
dengan cara kekerasan, juga sesuatu yang tidak dapat diberikan selain dengan jalan lemahlembut itu." (Riwayat Muslim)

633. Dari Aisyah radhiallahu 'anha pula bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda:
"Sesungguhnya sikap lemah-lembut itu tidak menetap dalam sesuatu perkara,
melainkan ia makin memperindah hiasan baginya dan tidak dicabut dari sesuatu perkara,
melainkan membuat cela padanya." (Riwayat Muslim)

634, Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Ada seorang A'rab -orang Arab dari daerah
pedalaman - kencing dalam masjid, lalu berdirilah orang banyak padanya dengan maksud hendak memberikan tindakan padanya. Kemudian Nabi s.a.w. bersabda: "Biarkanlah orang
itu dan di atas kencingnya itu siramkan saja setimba penuh air atau segayung yang berisi air. Karena sesungguhnya saja engkau semua itu dibangkitkan untuk memberikan
kemudahandan bukannya engkau semua itu dibangkitkan untuk memberikan kesukaran."
(Riwayat Bukhari)

Assajlu dengan fathahnya sin muhmalah dan sukunnya jim, artinya ialah timba yang
penuh berisi air, demikian pula artinya kata adzdzanub.

635. Dari Anas r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Berikanlah kemudahan dan jangan
mempersukarkan. Berilah kegembiraan dan jangan menyebabkan orang lari." (Muttafaq
'alaih)

636. Dari Jarir bin Abdullah r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Barangsiapa yang tidak dikaruniai sifat lemah-lembut, maka ia tidak dikarunia segala
macam kebaikan." (Riwayat Muslim)

637. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya ada seorang lelaki yang berkata kepada Nabi
s.a.w.: "Berikanlah wasiat padaku!" Nabi s.a.w. menjawab: "Janganlah engkau marah." Orang itu mengulang-ulangi lagi permintaan wasiatnya sampai beberapa kali, tetapi beliau s.a.w. tetap menjawab: "Janganlah engkau marah." (Riwayat Muslim)

638. Dari Abu Ya'la, yaitu Syaddad bin Aus r.a. dari Rasulullah s.a.w., sabdanya:
"Sesungguhnya Allah itu menetapkan untuk berbuat kebaikan dalam segala hal. Maka
jikalau engkau semua membunuh, maka berlaku baiklah dalam membunuh itu dan jikalau
engkau semua menyembelih, maka berlaku baguslah dalam menyembelih itu. Hendaklah
seseorang dari engkau semua itu mempertajamkan pisaunya serta memberi kelonggaran
kepada apa yang disembelihnya itu," seperti mempercepat jalannya pisau, tidak dikuliti sebelum benar-benar dingin, memberi minum sebelum disembelih dan Iain-lain. (Riwayat Muslim)

Keterangan:
Dalam Agama Islam hukuman bunuh itu juga diadakan, misalnya orang yang berzina
muhshan, yaitu dengan cara dirajam (lihat Hadis keempat belas) atau perampok yang
menghadang di jalan dengan cara dibunuh lalu disalibkan, juga seperti orang yang
bermurtad dari Agama Islam, iapun wajib dibunuh setelah dinanti-kan tiga hari untuk
disuruh bertaubat. Pembunuhannya dengan dipotong lehernya. Dalam hal hukuman bunuh
dengan pemotongan leher ini, Rasulullah s.a.w. memberikan tuntunan hendaknya dilakukan dengan sebaik-baiknya, umpama pedang yang digunakan untuk itu hendaklah yang tajam, juga jangan mengadakan siksaan yang tidak-tidak, memotong-motong anggotanya setelah mati, dijadikan tontonan dan Iain-Iain.
Mengenai hukuman rajam, yakni dilempari batu yang sedang, sampai mati untuk
orang yang berzina muhshan serta dibunuh lalu disalibkan untuk perampok, maka caranya
memang demikianlah yang ditetapkan oleh syariat. Jadi sekalipun tampaknya kurang baik
tetapi oleh sebab sudah demikian itu yang digariskan oleh syariat Islam, maka cara itu wajib tetap diikuti, sesuai dengan nash-nash yang ada.

Juga di kala menyembelih binatang untuk dimakan, hendaklah dengan cara yang
sebaik-baiknya pula, misalnya pisaunya yang tajam, disenang-senangkan dulu sebelum
disembelih dengan diberi makan minum secukupnya, dibaringkan di tempat yang rata, pisau dijalankan secepat mungkin sampai putuslah urat besar di lehernya,
jangan dikuliti dulu sampai dingin badannya, jangan pula menyembelih yang satu di
muka yang lainnya, jangan pula disembelih binatang yang menyusui sebab kasihan anaknya dan Iain-Iain lagi.

Renungkanlah betapa lengkapnya aturan-aturan dalam Agama Islam itu, sampai
menyembelihpun diberi tuntunan secukupnya.

639. Dari Aisyah radhiallahu 'anha, katanya: "Tidak pernah samasekali Rasulullah
s.a.w. itu diberi pemilihan antara dua macam perkara, melainkan beliau s.a.w. tentu
mengambil - memilih - yang termudah di antara keduanya itu, asalkan yang dianggapnya
termudah ini bukannya merupakan suatu hal yang dosa. Jikalau hal itu berupa suatu dosa, maka beliau s.a.w. adalah sejauh-jauh manusia daripadanya. Rasulullah s.a.w. juga tidak pernah samasekali membalas sesuatu yang ditujukan pada diri peribadinya, melainkan jikalau kehormatan Allah itu dilanggar, maka beliau s.a.w. pasti membalasnya semata-mata karena mengharapkan keridhaan Allah belaka." (Muttafaq 'alaih)

640. Dari Ibnu Mas'ud r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sukakah engkau
semua saya beritahu tentang siapakah orang yang diharapkan masuk neraka atau kepada
siapakah neraka itu diharamkan memakannya? Neraka itu diharamkan untuk orang yang
dekat pada orang banyak - yakni baik dalam bergaul, lemah-lembut, berhati tenang - tidak gegabah dalam menghadapi sesuatu -serta bersikap mudah - yakni gampang dimintai
pertolongan."

Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

Source: Riyadus Solihin Book 1 Chapter 74

Saturday, June 06, 2009

Jelajah Minda

Bismillahi walhamdulillah


Jauh sudah menjelajah. Dari celah bangunan tinggi KLCC hinggala ke ceruk kampong ‘native’ sana. Subhanallah, rupanya disebalik keperitan manusia menempuh kehidupan, Allah seringkali memberiku kesempatan untuk melihat dan merasai sendiri kebesaranNya. Namun seringkali juga diri ini lupa. Lupa dengan segala nikmat yang telah dukurniakan. Astaghfirullahal ‘azhim..
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (Surah Ibrahim(14) :7)

Cuti-cuti ni, biasalah, ramai yang naik pelamin. Kini aku di rumak pakcik sebelah ibu di Johor. Kakak sepupuku yang paling rapat, Kak Jaja telah pun selamat dinikahkan petang tadi. Alhamdulillah. Terlihat senyuman manisnya sepanjang hari membuatkan hatiku turut berbunga, Mana taknya, inilah dia insan yang banyak berkongsi suka duka bersamaku waktu kecil-kecil dahulu. Tawanya, tawaku jua. Tangisku tangisnya jua, walaupun kami jarang bertemu. Doaku buatmu kakakku, semoga sentiasa berbahagia selalu di bawah lindungan dan rahmat Allah, amen.

Entah apa cerita ukhti Aini di Terengganu. Akhawat kental ini juga selamat dinikahkan jumaat lalu. Namun sayang, family priority tidak membernarkan aku bertandang ke rumahnya. Namun, aku yakin, janji Allah itu pasti buat hamba-hambaNya yang bertaqwa. Aku kenal suaminya. Ikhwah yang banyak berkorban harta demi dakwah. Namun bukan harta menjadi ukuran. Rupa paras jauh sekali. Iman dan taqwa yang dibaja sejak awal, pernikahan yang barakah yang tidak pernah secebis pun dikotori dengan maksiat2 hati sebelum bernikah… Subhanallah… Moga kalian dikurniakan Allah keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Ameen.

Lucu pula diri bila asyik ditanya, “Kamu bila pula?”. Heheh, bukan sekali, dah berpuluh kali (beratus agaknya) soalan ditanya oleh orang yang berbeza ragamnya. Jawapanku simple je. “Kalau ditaqdirkan Allah ia datang, datanglah ia, insyaAllah. Jangan risau. Doakan saja”… (Tersenyum)

Di sekelilingku penuh dengan keluarga yang baru nak dibina. Anak-anak kecil 2-3 orang. Aku senang melihat mereka. Suci dari dosa. Ahli fitrah. Namun aku kurang senang melihat cara anak-anak itu dilayan dan diasuh oleh ibu bapa mereka. Silap sikit, ditegur dengan nada agak keras (sakit telinga aku). Mahu memperbaiki kesilapan anak itu dengan ancaman. Bahkan ibu dan ayah sama saja perangainya, dua-dua memberikan arahan. Padahal anak itu masih kecil, perlukan didikan sebaiknya. Seeloknya jika ayah memarahi, ibu menjadi pelembut/ tempat anak mengadu, atau sebaliknya. Sekurang-kurangnya ada tempat untuk mereka mencerahkan kembali perasaan yang keruh. Jika perasaan buruk dalam diri anak-anak itu berlarutan, ia akan merangsang pertumbuhan emosi yang tidak baik untuk kanak-kanak, bahkan mungkin akan menyebabkan kemurungan.

Anak-anak ini adalah amanah Allah. Maka kita sebagai ibu bapa (walaupun aku belum menjadi seorang ibu) harus sedar tanggungjawab yang dipikul. Bukan hanya tahu melahirkan. Didik anak-anak dengan sabar dan penuh kasih saying. Sebab kesabaran mendidik anak itu adalah suatu perasaan yang mahal, tak ramai orang memilikinya. Maka, hasilnya juga sangat mahal. Anak soleh yang berbakti untuk agama. Mana nak cari????!!!

Cuti ini memang penuh dengan pengalaman baru. Hasil program-program under syarikat motivasi, maka aku ditugaskan membuat ‘follow up’ adik2 sekolah yang melanjutkan pelajaran di negeriku. Subhanallah, aku dapat lihat perubahan dan hasil ketara yang mereka tunjukkan. Maka jiwa-jiwa ini harus sentiasa dibaja dengan iman yang kukuh dengan akidah yang lurus agar kesinambungan dakwah di bumi ini akan terus mekar mewangi, Ya Allah, lindungilah jiwa-jiwa ini dari kemaksiatan dan berilah mereka kekuatan untuk terus istiqomah di jalanMu, amen…

Aku ingin sekali berkongsi pengalaman sepanjang aku menjalani Latihan Industri di Petaling Jaya. Banyak pengalaman baru yang meilibatkan masyarakat luar dan non-muslim yang sedikit merubah pemikiranku yang agak ke’katak bawah gelas’an sebelum ini. Aku belajar menerima bagaimana sebenarnya masyarakat berfikir dan bertindak, cara berinteraksi dengan mereka dan bagaimana menyentuh hati mereka. Sebelum ni hanya tahu masyarakat belia saja. Maka kali ni, Alhamdulillah, persekitaran baru yang mematangkan pemikiranku. Subhanallah.

Tapi insyaAllah, lain kalilah.. Belum ada ‘feel’ nak bercerita.. (Maaf ye).

Cukuplah sampai sini. Nak prepare untuk LQ on9 esok.
Wallahu a’laam.
Wassalam.

Saturday, April 25, 2009

When the Trainees said "Goodbye"

Bismillahi Walhamdulillah.
Assalamualaikum wbt.



Alhamdulillah, tamat sudah Latihan Industri selama 4 bulan di Premier Milk, PJ. Bererti tamat sudah keberadaan aku di bumi kL ini. Bumi yang banyak memberi pengalaman & kenangan yg amat bernilai. Perlu pulang ke 'kampung halaman' membuka lembaran baru untuk pentarbiyahan seterusnya, InsyaAllah. Jalan masih jauh...










Tiada kata mampu melafazkan betapa bersyukurnya diri ini diletakkan di sini. Namun, masih ada hati-hati batu yang begitu rabun dengan kekuasaanNya. Dan diri ini begitu kesal kerana gagal melembutkan hati-hati tersebut.


"Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hambaMu, anak dari hambaMu, ubun-ubunku (nasibku) ada di tanganMu. Telah berlalu hukumMu atasku, adil ketetapanMu atasku, aku mohon kepadaMu dengan perantara semua nama milikMu yang Engkau namakan sendiri, atau Engkau turunkan dalam kitabMu, Engkau ajarkan seseorang dari hambaMu, atau Engkau rahsiakan dalam ilmu ghaib di sisiMu. Jadikanlah Al-Qur'an sebagai penawar hatiku, cahaya dalam dadaku, penghapus dukaku, dan pengusir keluh-kesahku..
(HR Ahmad [1/391], disahihkan oleh Al-Albani dlm Kalim Ath-Thayyib no.124)


Balik, sambung buat kerja....!

Wassalam

Sunday, April 12, 2009

Al-Indibath...

Bismillahi walhamdulillah...

Assalamualaikum wbt.

Sedikit perkongsian.
Sudah memuatkan barang dalam kereta, bersedia untuk men'start' enjin.Tiba-tiba...

"Yati, mana spare tyre yati?" Pak Din bertanya...
"Eh, ada kat blakang tula pak Din...kenapa?"
"Kenapa dah takda ni?"

Huh?..sudah... aku keluar dan melihat ke belakang kereta.... Astaghfirullah, innalillahi wa inna ilaihi roji'uun..... Spare tyre yang sepatutnya tergantung di belakang kereta pacuan empat roda ini sudah tiada di tempatnya!!!

Nak ketawa pun ada. Bonet kereta kelihatan pelik tanpa tayar itu. Yang tinggal cuma skrunya sahaja. Astaghfirullahal azhim... Allah sedang menegurku.

"Nanti pak Din tanya pakguard. Macamana boleh hilang ni.." bapa saudaraku mula risau.
"Tak mengapalah Pak Din. Dah bukan rezeki. Nak buat macamana. Dah hilang pun.Kitorg gerak dululah Pak Din. Tima kasih ya.."
"ok, hati-hati jalan.."

Aku berlalu meninggalkan Setapak bersama pengalaman berharga. Ini adalah kesilapanku sendiri. Malam itu hujan lebat...aku terus meredah hujan lebat bersama barang-barangku untuk cepat-cepat masuk ke rumah Cik Mi, adik ibuku tanpa sedikitpun aku ingat untuk menyerahkan kepada Allah untuk menjaga hartaku yang sementara ini. Subhanallah, maha cepat musibah ini datang. Ini baru ujian harta....

Alhamdulillah walaupun begitu, Allah masih lagi beri aku kekuatan untuk berbakti kepada ahli keluargaku. Dalam kereta, aku berbual dengan sepupuku tentang banyak perkara. Aku menghantarkannya pulang ke KUIS. Kisah lama waktu kami 'muda2' dahulu menjengah minda. Beraya bersama-sama, kenakalan adik2 lelaki, etc..etc.. sehingga aku menyentuh tentang satu perkara yang dirasa amat seronok dibualkan..

Perkara apa? Tak perlulah cerita. Ini rahsia kami.. =)

Aktivis dakwah... nama ini cukup sinonim dengan kehidupan aku dan sahabat seperjuanganku yang lain.

Katakanlah (Muhammad), "Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan yakin, Maha suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik..." (Yusuf,12 :208)

Indibath(disiplin) luar biasa seorang aktivis dakwah menjadikan dakwah itu mekar subur di jiwanya sehingga sampai satu tahap dakwah itu sudah sebati dalam hati dan hidupnya. Dia tidak lagi menghiraukan keterbatasan dirinya apalagi sekatan luaran yang ditimpakan pada dirinya. Padanya dakwah kepada Allah itu menjadi satu kemanisan yang tiada nilaiannya di sisi Allah. Sebenarnya itu satu nikmat daripada Allah yang Allah berikan pada hamba-hamba pilihanNya, dan juga pada orang yang benar-benar mencintai jalan para rasulNya...

Aku melihat di sekelilingku orang2 yang benar-benar menginfaqkan dirinya di jalan Allah. Yang tiada wang, berusaha berbisnes walau dgn kecil-kecilan untuk diinfaqkan ke jalan dakwah. Yang sakit juga, sanggup meredah embun malam untuk menghadiri majlis2 ilmu. Pada sang isteri, sanggup bangun 3-4 pagi untuk menyiapkan keperluan keluarga sebelum berangkat berjihad di jalan Allah. Pada yang bekerja, sanggup menggadaikan hujung minggu untuk menyampaikan ilmu2 Allah. Pada si bujang pula, toksah ceritalah... tiap detik saat memikirkan bagaimana mahu buat perbaikan pada sang mutarabbi yang dahagakan kasih sayang dan ilmu dari sang murabbi... Subhanallah...subhanallah...subhanallah...

Namun, aku ingin menegaskan, tiada apa yang sempurna di dunia ini. Aku juga ingin menegaskan sebagai seorang yang cinta pada jalan dakwah yang pernah di tempuh oleh Rasulullah SAW dan para sahabat ini, setiap ketidaksempurnaan itu perlulah ditampali dengan perbaikan. Jika kurang pada ilmunya, maka kewajipan setiap aktivis untuk pergi keluar mendapatkan ilmu tambahan. Jika kurang kefahaman dakwahnya, maka setiap aktivis perlu banyak lagi menggiatkan diri dalam program-program dakwah. Jika kurang ketaatannya, maka setiap jundi harus merasa menjadi murabbi... rasakan bagaimana bila mutarabbi sendiri kurang komitmen dalam menaati perintah Allah, kurang sabar dalam menjunjung sunnah Rasulullah SAW.

Aku merasa kurang selesa bila melihat satu persatu sahabat seperjuangan gugur 'syahid' di pertengahan jalan sebelum sempat merasai nikmat sebenar berada di medan juang.

Katanya, "letihla, ukhti"....
Katanya, "ana dah tak sanggup, ukhti"....
Katanya, "ini bukan apa yang ana cari, ukhti"...
Katanya, "Ana nak fokus study"....
Katanya, "Ana sibuk"...

Subhanallah.... keletihan apakah yang lebih manis daripada berdakwah? Kesanggupan apakah yang lebih mahal harganya daripada dakwah? Pencarian apakah yang lebih besar maknanya daripada dakwah? Kesibukan apakah yang lebih indah daripada berdakwah?....

Akhwati fillah,
Soroti kisah perjuangan para sahabat yang rela berkorban demi Islam. Bagaimana Mus'ab bin Umair sanggup meninggalkan kebangsawanannya demi menaati perintah Allah dan berada di samping Rasulullah SAW? Dia semasa jahiliyyahnya sangat kaya, tetapi semasa syahidnya dia di medan Uhud, kain yang menyelimutinya tidak cukup, bahkan ditutupi pula kakinya dengan daun-daun kering... Subhanallah...

Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, salah seorang drpd 10 sahabat yang dijamin masuk syurga. Saat kesyahidannya sangat mengharukan. Bahkan khalifah Umar menitiskan air mata melihat pengorbanannya sebagai seorang pemimpin. Penyakit taun yang melanda kawasannya tidak menyebabkan dia berganjak sedikitpun daripada anak-anak buahnya. Bahkan diterbangkan semula surat arahan dari sang khalifah supaya pulang dengan jawapan 'TIDAK'. Itulah kali pertama dan kali terakhirnya dia menjadi jundi yang tidak taat... Subhanallah....

Tidak dilupakan syahidah pertama, Sumayyah yang tidak ragu dan tidak takut mempertahankan aqidahnya walaupun tahu nyawanya pasti berakhir jika berdegil. Tapi dia masih memilih berada di sisi Allah. Tiada kemanisan yang lebih nikmat daripada kesyahidan itu. Subhanallah....

Tak tercoret di sini bagaimana Rasulullah SAW dan para sahabat bermati-matian berjuang menegakkan agama Allah untuk diteruskan kepada generasi seterusnya...kepada kita... Tapi kita di sini pula masih sibuk memikirkan kuasa, harta dan pangkat. Sibuk memikirkan kesilapan orang lain dalam membawa dakwah Rasulullah SAW, sibuk mengatakan ukhti itu...ukhti ini... murabbiyah ni tak bagus.... Astaghfirullah. Bagaimana dengan diri kamu?

Sudah penuhkah ketaatan kamu pada Allah? Sudahkah kamu merasa segala keperitan yang pernah dialami Rasulullah SAW dan para sahabat? Sudahkah kamu berusaha menjadi jundi yang baik? Sudah terpenuhikah hak2 manusia lain atas diri kamu? Sudahkah kamu berbuat baik kepada orang tuamu?

Rupanya banyak lagi tak terpenuhi.. sama-sama kita menjadi ummat terbaik.

"Kamu adalah umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, kerana kamu menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah yang mungkar dan beriman kepada Allah... " (Ali-Imran,3 :110)

"Barangsiapa yang mempunyai niat untuk mati syahid, maka Allah akan kumpulkan dia bersama-sama dengan para syuhada (di akhirat) walaupun dia mati di atas tempat tidurnya" (HR Tarmidzi, Ibn Majah, Abu Daud)

Astaghfirullahal Azhim... Asif katsir
Moga Allah ampuni segala dosa2ku & juga kalian...
Ameen...
Barakallahu fiekum
Wassalam

Sunday, January 18, 2009

Palestina Tercinta

Untukmu jiwa-jiwa kami
Untukmu darah kami
Untukmu jiwa dan darah kami
Wahai Al-Aqso tercinta

Kami akan berjuang demi kebangkitan Islam
Kami rela berkorban demi Islam yang Mulia

Untukmu Palestina Tercinta
Kami penuhi panggilanmu
Untukmu Al-Aqso yang Mulia
Kami kan terus bersamamu...

Subhanallah Walhamdulillah.. aku sedikit terkejut apabila mendengar lagu ini diputarkan di radio IKIM malam sewaktu pulang dari kerja. Perkembangan bagus ni. Sebelum ni dapat dengar kat laptop je. Kalo bukan aku punya, akhawat punya. Alhamdulillah, makin ramai yang sedar isu Palestin walhal ia sudah lama, isu bertahun-tahun yang lalu. Makin ramai memboikot produk-produk yang dikesan mempunyai pertalian dengan dana Israel spt McDonald, Starbucks, Kotex, Nokia, Nestle, Maggi, Tesco, etc.. Sehingga kini aku dan akhwat masih pusing sumber mana perlu kami percayai untuk memboikot sesuatu produk. Selagi kami yakin tiada sumber benar yang mengatakan ia berkaitan, maka kami takkan memboikotnya tanpa bukti yang jelas. Contohnya KFC, Cadbury, etc... Jika antum mempunyai mklumat, silalah kemukakan.jzkk

Doakanlah kejayaan bersama.
Ameen

Monday, January 12, 2009

Sosok Rijalud Dakwah

Sesungguhnya da'wah menjadi tinggi dan mulia dengan ketinggian dan kemuliaan pendukungnya. Harakah Ikhwan mengakui, hal positif dan negatif dari manhaj teoritisnya yang dapat diambil pada buku-buku yang sudah disebarluaskan, bagaimana tingkat ketsiqahan anggotanya terhadap manhaj.Diantaranya adalah menganalisa suatu masalah, sebagaimana terlihat dalam sikap dan tindakanmereka.

Namun tindakan pribadi (fardi) juga berbagai pemyataan spontan atas berbagai masalah, hal tersebut sama sekali tidak mencerminkan harakah secara umum. Sebab memang demikianlah tabi'at suatu pertumbuhan, yang juga erat dengan situasi kondusif yang mendukung prilaku tersebut. Di sini, akan kami paparkan contoh-contoh pribadi yang hendak dihasilkan Ikhwan melalui proses tarbiyah dan arahan mereka. Semua ini tentu saja terwujud setelah taufiq dari Allah swt.

Seorang Mujahid yang Menjadikan Da'wah sebagai Obsesinya

Imam Hasan al-Banna mengatakan: "Saya dapat menggambarkan sosok mujahid adalah seorang yang dalam kondisi mempersiapkan dan membekali diri, berpikir tentang keberadaannya pada segenap dinding hatinya. la selalu dalam keadaan berpikir. Waspada di atas kaki yang selalu dalam kondisi siap. Bila diseru ia menyambut seruan itu.

Waktu pagi dan petangnya, bicaranya, keseriusannya, dan permainannya, tidak melanggar arena yang ia persiapkan diri untuknya. Tidak melakukan kecuali misinya yang memang telah meletakkan hidup dan kehendaknya di atas misinya. Berjihad di jalannya.
Anda dapat membaca hal tersebut pada raut wajahnya. Anda dapat melihatnya pada bola matanya. Anda dapat mendengarnya dari ucapan lidahnya yang menunjukkanmu terhadap sesuatu yang bergolak dalam hatinya, suasana tekad, semangat besar serta tujuan jangka panjang yang telah memuncak dalam jiwanya. Jiwa yang jauh dari unsur menarik keuntungan ringan di balik perjuangan.


Adapun seorang mujahid yang tidur sepenuh kelopak matanya, makan seluas mulutnya, tertawa selebar bibirnya, dan menggunakan waktunya untuk bermain dan kesia-siaan, mustahil ia termasuk orang-orang yang menang, dan mustahil tercatat dalam jumlah para mujahidin."
Da’i Yang Bergerak Karena Allah swt.


Adalah da'i yang berlari memohon syahadah kepada Allah swt. di saat melakukan tugas da'wah ilallah. Sebagaimana syahidnya 'Urwah bin Mas'ud ats-Tsaqafi radhiallahu'anhu yang menda'wahkan kaumnya kepada Islam. 'Urwah adalah satu dari dua tokoh besar kaum musyrikin yang disebutkan dalam firman Allah, tentang perkataan kaum musyrikin:

"Dan mereka berkata, "Mengapa al-Qur'an tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekkah dan Thaij) ini?" (QS. az-Zukhruf: 31)

Ketika ia menyatakan diri masuk Islam, sekaligus menda'wahkan kaumnya kepada Islam, bertubi-tubi tombak dan anak panah dari segala arah merobek tubuhnya hingga syahid.
Da’iyah yang Memiliki Semangat Tinggi


Anggota harakah Ikwan, harus mempunyai semangat tinggi sebagaimana semangat al-Aslami adhiallahu ‘anhu yang pernah diceritakan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah: “Bila anda ingin melihat tingkatan semangat, lihatlah semangat Rabi'ah bin Ka'b al-Aslami radhiallahu'anhu. Rasul saw. berkata: "Mintalah kepadaku." Ka'b mengatakan: "Aku ingin menjadi pendampingmu di.surga." Sementara orang lain ada yang meminta makanan dan pakaian.

Da'i yang Memegang Teguh Janjinya

Seorang akh, dibina untuk mengerti dan melaksanakan sikap shidiq, sebagai sikap mulia para sahabat ridhwanullahi'alaihim.
Seperti kisah Anas bin Nadhr radhiallahu'anhu yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik. Bahwa Anas bin Nadhr, absen dalam peperangan Badar. Beliau mengatakan:
"Aku tidak ikut dalam perang pertama yang disaksikan Rasulullah saw. Bila Rasulullah kembali berperang melawan kaum Quraisy setelah Badar, niscaya Allah 'Azza wa Jalla akan memperlihatkan apa yang akan kuperbuat."


Di saat perang Uhud, ummat Islam menderita kekalahan. Seseorang berkata kepada Sa'ad bin Mu'adz radhiallahu'anhu: "Wahai Sa'ad hendak kemana anda?" "Saya ingin menghampiri aroma surga di balik Uhud.' Sa'ad berangkat hingga syahid. Di tubuhnya terdapat lebih dari delapan puluh luka akibat pukulan pedang, tombak dan anak panah. Hingga jasadnya tak dikenal lagi oleh saudari perempuannya, kecuali melalui pakaiannya.

Lalu turunlah firman Allah swt. : “Di antara orang-orang mu'min ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merobah janjinya.” (QS. aI-Ahzab: 23)

Demikianlah seharusnya sikap teguh terhadap janji.

Seimbang dalam Semua Kondisi

Ikhwan membina anggotanya agar memiliki sikap berani, namun tidak mengabaikan sikap hati-hati, jauh dari sikap sembrono dan emosional. Mungkin sedikit manusia yang. dapat seimbang melakukan hal ini. Seorang yang dibiasakan bersikap pemberani, selalu berusaha memutuskan seluruh rintangan yang mengikatnya.

Mereka juga memiliki keta'atan tinggi yang diikat oleh kesadaran syar'i yang cermat, jelas, tidak serampangan dan bukan sikap mengikut buta.
Di sisi lain, anggota Ikhwan selalu memelihara potensi yang Allah anugerahkan pada dirinya. Seorang Ikhwan secara khusus mengerahkan semua kekuatannnya kepada seluruh yang mendatangkan manfaat kepada da'wah. Penyaluran potensi itu tidak dibiarkan tanpa kendali, tanpa arah dan tujuan yang jelas. Ikhwan senantiasa mengiringinya dengan langkah takhtith (perencanaan) matang.


Da'i yang komitmen terhadap petunjuk nabawi

Seorang da'i yang berjalan di atas jalur syari'at, tunduk kepada sunnah, menjauh dari prilaku bid'ah dan semua yang tidak diperintahkan .oleh Rasulullah saw. Tindak tanduknya, sebagaimana petunjuk hadits Nabawi. la mengambil agamanya dari mata air Islam yang jernih dan minum dari sumber keimanan.

Bila ditanya tentang prinsipnya, ia mengatakan: “Ittiba’”.
Bila ditanya tentang pakaiannya, ia mengatakan: "Taqwa."
Bila ditanya tentang maksud serta tujuannya, ia mengatakan: "Ridha Allah."
Dan bila ditanya di mana ia menghabiskan waktunya di waktu pagi hingga petang, ia menjawab: "Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang." (Qs. an-Nur: 36)
Dan di medan da’wah serta mengembalikan manusia ke jalan al-haq.

Bila ditanya tentang nasabnya, ia mengatakan:
Orang tuaku adalah Islam. Tidak ada orang tuaku selainnya. Sementara orang bangga dengan keturunan Qais atau Tamim


Da’i yang Sabar

Ikhwan terbina dengan akhlaq sabar, sehingga di awal perj alanannya, salah seorang Ikhwan telah mengetahui apa yang diucapkan Ibnul Qayyim rahimahullah: "Sesungguhnya sikap untuk lebih mengutamakan ridha Allah, pasti akan berhadapan dengan permusuhan manusia, siksa, bahkan upaya mereka untuk membunuhnya. Yang demikian adalah sunnatullah di antara makhluk-Nya.

Bila tidak demikian, lalu apa dosa para Nabi dan Rasul yang memerintahkan keadilan di antara manusia dan menegakkan agama Allah ?" Maka barangsiapa yang lebih mengutamakan keridhaan Allah, niscaya ia akan memperoleh permusuhan dari orang alim yang jahat, manusia yang menyimpang, yang bodoh, pelaku bid'ah, yang banyak berdosa, dan penguasa bathil.
Barangsiapa berpegang teguh pada Islam secara sempurna, ia tak dapat digoyahkan oleh manusia bahkan gunung sekalipun. Tak dapat dihalangi oleh berbagai ujian., kekerasan dan rasa takut.


Mereka mengetahui bahwa kesabaran dapat dilakukan melalui dua perkara: tarbiyah atas sikap zuhud di dunia dan zuhud terhadap pujian. Tidaklah seseorang itu melemah, atau terlambat, dalam jalan ini, kecuali karena kecintaannya yang demikian besar pada kehidupan, kekekalan, serta kecintaannya pada pujian manusia dan upaya menjauhi kecaman mereka.
Jalan ini, bagi mereka, merupakan jalan yang pasti berhadapan dengan pendustaaan, pengusiran, dan siksaan, seperti ungkapan Ibnul Qayyim al-Jauzi rahimahullah: "Seseorang yang berlalu menuju Allah swt. adalah sebagai uswah. Dan itulah predikat yang sangat mulia. Seorang yang berakal cerdas rela beruswah kepada para Rasulullah, para Anbiya, Aulia, dan orang-orang yang dipilih Allah dari para hamba-Nya.


"Merekalah kelompok manusia yang paling berat ujiannya. Siksaan manusia terhadap mereka, lebih cepat berjalannya dari pada air mata. Cukuplah, contoh kisah yang disebutkan tentang perjuangan para Anbiya alaihimus salam bersama ummat mereka, juga perjuangan Rasulullah saw. Bagaimana siksaan musuh-musuh terhadap mereka. Siksaan berat yang belum pemah menimpa orang sebelum mereka."

Waraqah bin Naufal pemah berkata kepada Nabi saw.,"Engkau pasti akan didustai, diusir dan disiksa." Kemudian beliau bersabda: 'Tak seorangpun yang datang sebagaimana yang aku perjuangkan kecuali ia akan mengalami kondisi serupa dengan apa yang kualami."
Hukum ini berlaku hingga kepada para pewaris-pewarisnya. Tidakkah seorang hamba ridha menjadikan hamba terbaik Allah swt. sebagai uswahnya.


Pemberi Infaq yang Tidak Kikir Terhadap Da'wahnya

Sebagaimana disifatkan oleh pemimpin mereka Imam Hasan al-Banna rahimahullah: "Mereka tidak kikir terhadap da'wah, meski harus mengeluarkannya dari jatah makanan anak-anak mereka, mengucurkan darah mereka, atau harga mahal untuk kebutuhan primer. Apalagi dari kebutuhan sekunder, dan keperluan yang tidak mendesak.

Mereka, tatkala menanggung beban da'wah ini, benar-benar mengetahui bahwa ia merupakan jalan da'wah yang tidak mungkin dilalui dengan sedikit pengorbanan darah dan harta. Maka mereka keluarkan hal itu seluruhnya karena Allah swt.
Singkatnya, seorang al-akh dari mereka tengah melakukan perjalanan menuju Allah swt. bersama kelompok al-haq dan kafilah tauhid. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai keyakinan besar, para pendidik, manusia yang sadar, dan berpegang teguh kepada Islam, yang sedang mempersiapkan diri dengan ilmu, keahlian untuk berangkat berjihad. Masing-masing berlomba untuk bcrangkat, dan bila mereka berangkat mereka lakukan dengan penuh itqan.
Jika mengalami situasi sulit dalam peperangan, mereka bersabar. Mereka tidak akan rela hingga da'wah mencapai tujuannya. Meskipun mereka harus memeras seluruh kemampuan dan pemikiran mereka habis- habisan.


Bila mereka memberi perintah, perintah mereka kosong dari sikap memaksa. Dan bila mereka taat kepada perintah, ketaatan mereka terlepas dari sikap merasa hina. Bila mereka melontarkan kritik, kritik mereka jauh dari perusakan dan penghancuran.
Memiliki disiplin tinggi, teratur, para murabbi, perancang strategi menuju sasaran yang jelas, orang-orang teguh pendirian, komitmen, yang bila diberi amanah sebagai pemimpin mereka lakukan dengan ikhlash, jika diposisikan sebagai prajurit, mereka lakukan dengan penuh ketaatan. Setiap masing-masing mereka mampu berpikir untuk terus meningkatkan kemampuannya secara seimbang untuk selalu berupaya mengatasi masalah yang dilihatnya, mengambil hukum suatu pekerjaan dan aktivitas dari pikirannya. Mereka merasa bertanggung jawab untuk membela Islam. Puas dengan jumlah yang sedikit.


Dalam jiwa mereka terdengar sebuah prinsip yang begitu indah, “Pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat." (QS. ash- Shaff: 13)
Betapa mereka bekerja keras di waktu siang, betapa indahnya lantunan "seruling" mereka, yang mereka ambil dari keluarga Daud pada waktu sahur. Kemudian saat mereka berhadapan dengan orang yang bengis dan keras, perkataan mereka adalah:
“Suatu tentara yang besar yang berada di sana dari golongan-golongan yang berserikat, pasti akan dikalahkan." (QS. Shaad: 11)


Mereka bertolak ke arah yang jelas, bergerak bersama sikap komitmen dengan ketaqwaan. Sumpah setia mereka sejati, ketaatan mereka bukan keterpaksaan tapi kesadaran, pandangan mereka penuh prhitungan, wawasan pemikiran mereka luas dan tidak sempit.
Masing-masing berprinsip menjadi pendukung setia terhadap pemimpinnya, cita-cita mereka adalah bertemu dengan Rabb sebagai syuhada. Mereka memandang tanggung jawab syari'at sebagai penyejuk mata, penyenang hati, penghidup ruh, mencampakkan sistem thagut dan undang-undang yang bathil.


Para rijal yang selalu memerangi kehendak nafsu mereka. Hati mereka rindu pada ketaqwaan, merasa tenang dengan dzikir. Mereka mengetahui bahwa jihad adalah aplikasi kerahbaniyahan Islam. Karenanya mereka persiapkan diri dengan senjata, dan mereka hunus pedang, mereka bentangkan busur.

Mereka mengetahui bahwa arwah mereka akan kembali diantara penghuni kubur, mereka tinggalkan bangunan dunia, semangat mereka meninggi dan prilaku mereka menjadi lurus. Mereka adalah junudullah (tentara Allah) di manapun berada.
Mereka adalah para imam, pemberi petunjuk, dan pemimpin kaum beriman. Mata mereka sering terjaga di waktu malam, dan mata mereka kerap mengucurkan air mata. Berbahagialah orang yang berada dan berpegang teguh bersama mereka.


Para rijal yang komitmen dengan seruan Rasulullah saw, secara bathin dan zahir. Mereka berpendirian sebagaimana Rasul berpendirian. Mereka berjalan sebagaimana Rasul berjalan. Mereka ridha dengan keridhaan Rasul. Menyambut seruannya bila Rasul menyeru mereka.
Landasan madzhab mereka adalah al-Qur'an dan sunnah, meninggalkan hawa nafsu, bid'ah, berpegang teguh dengan para imam dan berqudwah pada para salaf. Meninggalkan perbuatan bid'ah, berpendirian diatas apa yang ditempuh para generasi awwalun dari para sahabat, pembela Islam, sumur keimanan, inti sikap ihsan.


Pengetahuan mereka murni mengambil dari misykat wahyu dan hadits Rasulullah saw.
Para rijal yang meyakini bahwa mempelajari ilmu ikhlash karena Allah dapat melahirkan khasyiah (ketakutan), sehingga menuntut ilmu merupakan ibadah, mudzakarah mereka adalah tasbih, pembicaraan mereka adalah tentang "jihad" .Mereka menuntut ilmu hingga terkuaklah hijab yang menyelimuti hati mereka, sirna kegelapannya, berganti dengan fajar tauhid dan terpancar didalamnya matahari keyakinan.


Jalan di hadapan mereka menjadi terang benderang, malamnya laksana siang. Hati dan jiwa mereka bangkit memperoleh al-Haq, dan meninggalkan selain-Nya.
Terlepas dari semua iradah mereka. Yang terpatri dalam hati mereka hanya bara khasyiyah yang membakar. Kerahasiaan mereka berhias al-haq, dan ‘alaniyah (keterbukaan) mereka terhias oleh akhlaq.



Taken from: www.eramuslim.com


 

Text